-->

LAPORAN PRODUKSI BENIH TOMAT PRAKTIKUM ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH

 LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH

ACARA IX. PRODUKSI BENIH TOMAT

cara memproduksi benih tomat

A.      Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui teknik produksi benih tomat dan pengujian viabilitas benih pada berbagai kematangan buah tomat.

B.       Pelaksanaan Praktikum

1.      Hari/tanggal praktikum :

Senin, 13 November 2017 pukul 12.30 – 14.00 WITA.

2.      Tempat praktikum         :

Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih, Gedung E, Lantai 3, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram.

C.    Tinjauan Pustaka

Benih adalah komoditi perdagangan yang mempunyai peranan penting dalam produksi pertanian. Benih bermutu dengan kualitas yang tinggi selalu diharapkan oleh petani. Benih bermutu dengan kualitas yang tinggi selalu diharapkan oleh petani, sehingga benih harus selalu dijaga kualitasnya sejak diproduksi, dipasarkan dan diterima oleh petani untuk ditanam. Untuk mendapatkan benih dengan kualitas yang tinggi dan sesuai dengan keinginan petani maka  proses pengolahan seperti pembersihan benih, grading, dan perlakuan benih,  juga perlu diperhatian dan ditangani secara khusus agar benih yang dihasilkan tetap berkualitas (Coppelad,1980).

Ekstraksi benih adalah proses pemisahan biji dari daging buah, kulit benih, polong, kulit buah, malai, tongkol, dan sebagainya yang bertujuan untuk memisahkan benih dari buah, sehingga akan digunakan untuk bahan tanam yang memenuhi persyaratan untuk kita tanam. Ekstraksi diperlukan karena biasanya benih tidak dipanen secara langsung, biasanya pengunduhan dilakukan terhadap buahnya. Hal ini disebut rosesing buah atau biji adalah untuk membersihkan dalam mendapatkan kualitas yang tinggi yang akan berpengaruh terhadap fisiologi benih dalam perkecambahan, sesuai dengan buah dan tipe biji, kondisi dari buah atau biji saat pengumpulan, dan potensi penyimpanan (Kuswanto, 2003).

Penanganan pasca panen akan mempengaruhi kualitas buah, oleh karena itu kerusakan buah harus dihindari dan buah yang rusak dengan buah yang mulus tidak boleh dicampur. Cuaca yang bagus saat memanen adalah sebaiknya pada cuaca sejuk di pagi hari. Buah ditempatkan pada tempat sejuk dan terlindung dengan ventilasi yang baik, serta kelembaban 85 - 90% (Gohran, 2003). Buah tomat akan segera mengalami kerusakan jika tanpa perlakuan saat penyimpanan. Pada saat panen, besarnya kerusakan buah tomat berkisar antara 20% sampai dengan 50% (Duriat, 1997).

Waktu panen produksi benih yang paling baik dilakukan pada saat benih masak fisiologis, karena pada saat ini benih berada dalam kondisi optimal. Saat masak fisiologis kadar air benih berkisar antara 25% - 30%. Setelah panen, benih harus segera dikeringkan untuk mencapai kadar air tertentu, seperti yang dipersyaratkan dan dibutuhkan suatu keterampilan dalam penanganan benih (Schmidt, 2000).

Prosesing buah atau biji adalah untuk mendapatkan kualitas biji yang tinggi baik, meliputi beberapa petunjuk pelaksanaan yang berbeda sesuai dengan buah dan tipe biji, kondisi dari buah atau biji saat pengumpulan, dan potensi penyimpanan Hal ini akan berpengaruh terhadap fisiologi benih dalam perkecambahan. Oeh karena itu, biji yang disimpan dilakukan kegiatan prosesing buah/biji terlebih dahulu. (Schmidt, 2000).

Mutu buah yang baik diperoleh bila pemungutan hasilnya dilakukan pada tingkat kemasakan yang tepat dan ditentukan oleh beberapa persyaratan mutu, yaitu ukuran, warna, bentuk, kondisi, tekstur, citarasa (flavor) dan nilai nutrisi. Buah yang belum masak, bila dipungut akan menghasilkan mutu yang rendah dan proses pematangan yang tidak teratur. Jika terjadi penundaan waktu pemungutan akan meningkatkan kepekaan buah terhadap pembusukan, akibatnya mutu dan nilai jualnya rendah (Santosa, 2007).

D.      Bahan dan Alat Praktikum

1.      Bahan Praktikum

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut.

a.       Abu gosok

b.      Air

c.       Buah tomat yang lewat matang (hampir busuk).

d.      Buah tomat yang sudah belum masak (belum merah).

e.       Buah tomat yang sudah masak (merah).

2.      Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut.

a.       Pisau

b.      Cawan petri

c.       Timbangan analitik

d.      Petridis

e.       Kertas koran

E.       Cara Kerja

Adapun prosedur kerja dari praktikum ini adalah sebagai berikut.

1.      Dipilih buah tomat berdasarkan kriteria kemasakan yaitu buah tomat yang belum masak, yang sudah dewasa, dan yang kelewat matang, serta diambil masing-masing 3 buah setiap kemasakan.

2.      Dipotong buah-buah tersebut secara melintang.

3.      Dipisahkan biji dari kulit dan bagian buah yang terbawa.

4.      Biji tomat kemudian dicampur dengan mengguakan abu gosok untuk menghilangkan lendirnya dengan cara mengaduk, selanjutnya biji yang bercampur abu dibilas menggunakan air.

5.      Biji yang sudah dibilas kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri. Biji didalam cawan petri kemudian ditimbang menggunakan timbangan analitik untuk mengetahui berat basah biji tomat tersebut.

6.      Biji tomat selanjutnya disaring dengan menggunakan saringan teh kemudian biji ditersebut disimpan diatas kertas koran kemudian dilakukan pengeringan dengan menggunakan cahaya matahari.

7.      Bila tomat yang sudah kering kemudian ditmbang untuk mengetahui berat keringnya dan selanjutnya biji tomat yang akan dijadikan benih disimpan didalam kertas koran yang kedap udara.

F.       Hasil Pengamatan

Tabel 1. Hasil pengamatan berat basah dan berat kering benih pada berbagai tingkat kemasakan buah tomat

Tingkat Kemasakan

Berat Basah

Berat Kering

Belum matang

0,79

0,36

Matang

1,37

0,61

Kelewat matang

0,98

0,53

 

Tabel 2. Hasil pengamatan kecepatan berkecambah benih pada berbagai tingkat kemasakan buah tomat

Tingkat kemasakan

I

II

III

Muda

9

6

1,8

Matang

8,2

7,6

6,4

Kelewat Matang

10,4

6,8

9,4

 

Tabel 3. Hasil pengamatan persentase jumlah benih yang berkecambah normal pada berbagai tingkat kemasakan buah tomat

Tingkat kemasakan buah

I

II

III

Belum masak

18 %

12 %

3,6 %

Masak

16,4 %

15,2 %

12,8 %

Kelewat masak

20,8 %

13,5 %

18,8 %

G.      Pembahasan

Kecepatan berkecambah mencerminkan hari dimana jumlah biji yang berkecambah paling banyak dan bagaimana tingkat perkecambahan suatu benih tersebut (Santosa, 2007). Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa tomat yang belum masak kecepatan kecambahnya yang paling tinggi terdapat pada ulangan I yang menghasilkan kecepatan kecambah yang sebesar 9, pada benih tomat yang matang  didapatkan kecepatan benih berkecambah yag paling tinggi terletak pada ulangan I sebesar 8,2 dan untuk benih tomat yang kelewat matang diperoleh kecepatan perkecambahan yang tinggi pada ulangan I dengan kecepatn perkecambahan benih sebesar 10,4. Sehingga dapat disimpulkan dari ketiga kriteri benih ini yang memiliki kecepatn perkecambahan yang tinggi adalah pada benih tomat adalah pada benih yang kelewat matang, dimana buah tomat jika sudah matang dan kelewat matang akan menghasilkan warna yang merah yang menandai bahwa buah telah mencapai masak fisiologis, sehingga pas untuk dikecambahkan bijinya. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa benih dari buah yang dipanen ketika masak fisiologis akan menunjukkan pertumbuhan dan produksi yang optimal sedangkan benih yang dipanen sebelum maupun sesudah masak fisiologis pertumbuhan dan produksinya tidak akan optimal, ini dapat disebabkan karena benih tersebut belum sempurna (pada panen sebelum masak fisiologis) atau telah memasuki masa penuaan (pada panen sesudah masak fisiologis) (Darmawan dkk., 2014).

Berdasarkan data yang diperoleh, pada saat memproses benih tersebut didapatkan bahwa berat basah suatu benih yang tingkat kemasakannya belum matang pada benih tomat yaitu memiliki berat basah sebesar 0,79 dan berat keringnya 0,36 gram. Untuk benih yang sudang matang memiliki berat basah sebesar 1,37 dan berat kering sebesar 0,61 gram. Sedangkan untuk benih tomat yang kelewat matang memiliki berat basah basah sebesar 0,98 gram dan berat keringnya sebesar 0,53 gram. Pertumbuhan benih-benih ini tidak dipungkiri tidak bisa terlepas dari berat murni masing-masing benih yang memiliki tingkat kemasakan yang berbeda. Hal ini dapat terjadi karena buah yang digunakan berbeda tingkat kemasakan fisiologisnya. Biji tomat mempunyai zat yang bisa menghambat benih untuk tumbuh. Daya tumbuh biji tomat tersebut akan terhambat dan nantinya akan memperlambat proses pengujian. Pada beberapa buah seperti buah tomat terdapat suatu zat yang dapat menghambat daya tumbuh benih (cairan coumarin). Oleh karena itu, pada prosesing buah tomat setelah benih dapat lepas dari daging buah dan daging buah itu sendiri perlu dilakukan tindakan dengan HCl 35%, benih lebih mudah bebas dari coumarin (Rabaniyah, 1988).

Vigor benih merupakan kemampuan benih untuk mampu tumbuh normal pada kondisi sub optimum. Vigor benih menjadi dua yaitu vigor kekuatan tumbuh dan vigor daya simpan. Keduanya merupakan parameter viabilitas yang dapat mencerminkan kondisi vigor benih (Darmawan, dkk., 2014). Pada setiap hari pengamatan didapatkan bahwa benih tomat tumbuh dengan baik menunjukkan bahwa benih dari buah tomat dengan tingkat kemasakan yang kelewat matang dan matang memiliki vigor yang tinggi karena benih tersebut tumbuh dengan serempak, dibandingkan benih tomt dengan tingkat kemasakan yang tidak terlalu jauh berbeda dari benih tomat yang kelewat matang. Hal tersebut dapat dikarenakan pada benih tomat yang belum matang masih belum memasuki fase masak fisiologis, sedangkan benih dengan tingkat kemasakan kelewat matang dan matang telah mencapai masak fisiologis. Sehingga hasil perkecambahan yang lebih baik dihasilkan pada benih yang buahnya telah mencapai masak fisiologis. Secara biologis benih sebagai bahan generatif dalam proses regenerasi tumbuhan, keberhasilan tumbuh benih selain ditentukan faktor intern kematangan pohon induk (maturasi) yang erat hubungannya dengan umur, aspek kemasakan fisiologis benihna juga ditentukan oleh kondisi struktur,bentuk, dan ukuran benih (Darmawan dkk., 2014).

Berdasarkan data yang diperoleh dapat dilihat hasil analisis persentase benih yang berkecambah normal dengan tingkat persentase yang tinggi diperoleh yang memiliki tingkat persentase yang kuat pada adalah benih pada ulangan pertama yaitu benih tomat dengan tingkat kemasakan belum matang sebesar 18%, masak sebesar 16,4% dan kelewat matang 20,8%. Pada praktikum ini pengeringan yang dilakukan adalah dengan pengeringan alami (kering angin). Pengeringan ini dilakukan setelah air ditiriskan dengan alas seperti kertas, kemudian biji dihamparkan pada alas yang sesuai dan dikering-anginkan. Benih tomat yang telah kering kemudian dikecambahkan dalam pot. Menurut Sutopo (2002), penjemuran biji dengan sinar matahari merupakan salah satu cara pengeringan yang paling sederhana dan umum dilakukan oleh para petani di Indonesia. Untuk pengeringan biji yang akan digunakan sebagai benih harus diperhatikan temperatur udara sebaiknya antara 32°C – 43°C Bila pada pengeringan benih digunakan temperatur udara yang tinggi maka pengeringan akan berlangsung cepat. Pada benih - benih tertentu pengeringan tidak bisa dilakukan secara langsung. Misal benih tomat harus melalui perlakuan pendahuluan dengan pembelahan yang tujuannya untuk memisahkan biji dari bahan - bahan yang melapisinya, barulah setelah itu biji dicuci bersih dan dapat dikeringkan.

H.      Kesimpulan

Hal yang dapat disimpulkan dari hasil pengamatan diatas yaitu sebagai berikut.

  1.      Benih tomat yang memiliki kecepatan berkecambah yang paling baik yaitu pada masing-masing benih tomat pda ulang I yang memiliki tingkat kemasakan berbeda, tetapi yang paling banyak yaitu benih tomat dengan tingkat kemasakan kelewat matang.
  2. Persentase jumlah benih yang berkecambah diperoleh persentase yang paling besar pada ulangan I yaitu pada tingkat kelewat matang, ulangan II pada tingkat kemasakan yang matang, dan ulangan III diperoleh persentase yang paling besar pada benih tomat yang memiliki tingkat kemasakan kelewat matang.
  3. Kadar air yang paling kecil didapatkan pada benih tomat yang memiliki tingkat kemasakan yang kelewat matang.
  4.  Perbedaan kualitas benih dari berbagai kondisi kematangan buah tomat, dapat dilihat dari kecepatan berkecambah, indeks vigor dan warna buah. 

DAFTAR PUSTAKA

Coppelad.1980. Principles of Seed Science and Technology. Burgess Publ. co. Minneapolis. Minnesota.

Darmawan, A. C, Respatijarti, dan Soetopo, L. 2014. Pengaruh tingkat kemasakan benih terhadap pertumbuhan dan produksi cabai rawit (Capsicum frutescent L.) varietas comexio. Jurnal Produksi Tanaman 2(4): 339-346.

Duriat, A. S. 1997. Teknologi Produksi Tomat. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Lembang. Bandung.

Gohran, H. L. 2003. Effect of stage of fruit maturity at time of harvest ang methods of drying on the germination of Pimento seed. Journal of American Soc. Hort. Science 43: 229-230.

Kuswanto, H. 2003. Teknologi Pemprosesan, Pengemasan dan Penyimpanan Benih. Kanisius. Yogyakarta.

Rabaniyah, Rohmanti. 1988. Cara Pengadaan Benih Tomat (Lycopersicum esculentum Mill), Pengaruhnya Terhadap Daya Kecambah Dan Hasil Buah. Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.

Santosa, Budi. 2007. Penentuan umur petik dan pelapisan lilin sebagai upaya menghambat kerusakan buah salak pondoh selama penyimpanan pada suhu ruang penyimpanan pada suhu ruang. Jurnal Teknologi Pertanian 8(3): 153-159.

Schmidt, L. 2000. Guide to Handling of Tropical and Subtropical Forest Seed. Direktorat Jenderal Lahan dan Perhutanan Nasional. Jakarta.




EmoticonEmoticon