LAPORAN PRAKTIKUM
A.
Tujuan
Praktikum
Tujuan
dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat
mempelajari beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk memecahkan atau
mempersingkat masa dormansi benih tanaman.
B.
Pelaksanaan
Praktikum
|
1. Hari/tanggal
praktikum : |
Senin,
20 November 2017 pukul
12.30 – 14.00 WITA. |
|
2. Tempat
praktikum : |
Laboratorium
Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih, Gedung E, Lantai 3, Fakultas
Pertanian, Universitas Mataram. |
C.
Tinjauan
Pustaka
Viabilitas benih dapat dihambat oleh adanya kemampuan benih untuk menunda perkecambahan, hal ini
dinamakan sifat
dormansi. Dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih
sehat menjadi gagal berkecambah ketika berada dalam
kondisi yang secara normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai. Beberapa perlakuan dapat diberikan pada benih, sehingga tingkat
dormansinya dapat diturunkan dan presentase kecambahnya tetap
tinggi. Perlakuan tersebut dapat ditujukan pada kulit benih, embrio maupun endosperm benih dengan maksud untuk
menghilangkan faktor penghambat perkecambahan dan mengaktifkan kembali sel-sel benih yang dorman (Yuniarti dan
Djaman, 2015).
Willan (1985)
membedakan dormansi ke dalam dormansi embrio, dormansi
kulit benih dan dormansi kombinasi keduanya. Dormansi dapat
dipatahkan dengan perlakuan pendahuluan untuk mengaktifkan kembali benih yang dorman. Ada berbagai cara
perlakuan pendahuluan yang dapat diklasifikasikan yaitu
pengurangan ketebalan kulit atau skarifikasi, perendaman
dalam air, perlakuan dengan zat kimia, penyimpanan benih dalam kondisi lembab dengan suhu dingin dan hangat
atau disebut stratifikasi dan berbagai perlakuan lain (Kartiko 1986).
Beberapa penyebab dormansi fisik adalah benih yang keras
dan strukturnya terdiri dari lapisan sel-sel serupa seperti palisade berdinding
tebal terutama dipermukaan luar, sehingga terjadi impermeabilitas kulit biji.
Jika kulit biji dihilangkan, maka embrio akan tumbuh dengan segera. Dormansi fisiologis
dapat disebabkan oleh sejumlah mekanisme yang pada umumnya disebabkan oleh zat pengatur
tumbuh untuk mempercepat maupun untuk menghambat. Disebabkan juga oleh immaturity embrio yang dimana pada
perkembangan embrionya tidak cepat, sehingga sebaiknya benih ditempatkan pada
temperatur dan kelembapan tertentu agar viabilitasnya tetap terjaga sampai
embrionya terbentuk secara sempurna dan mampu berkecambah. After ripening juga
menjadi penyebabnya, dimana benih memerlukan suatu jangkauan waktu simpan
tertentu agar dapat berkecambah (Arif, 2013).
Kulit benih yang tebal
dan keras pada
umumnya menghambat perkecambahan walaupun disemaikan pada kondisi
perkecambahan yang optimum. Benih
yang demikian digolongkan sebagai benih yang memiliki sifat dorman.
Dormansi bisa disebabkan karena sifat
fisik kulit benih, keadaan fisiologis dari embrio, atau interaksi dari keduanya
(Sadjad 1980). Penyebab dormansi yang
sangat meluas adalah karena pada beberapa jenis tanaman benih memiliki
organ tambahan berupa struktur penutup
benih yang keras. Kulit demikian ini ditemui pada banyak jenis dari
beberapa famili. Kulit benih
yang keras ini sebenarnya secara
alamiah berfungsi untuk
mencegah kerusakan benih dari serangan jamur atau serangga predator
(Leadem 1997).
Beberapa jenis
benih tanaman tidak dapat berkecambah karena adanya hambatan dari kulit benih
yang impermeable terhadap air dan gas kulit benih yang tebal dan keras (Widajati
2013), sehingga diperlukan perlakuan pendahuluan sebelum berkecambah. Perlakuan
pendahuluan benih direndam dengan asam sulfat selama 20 menit, menyebabkan
kulit benih lunak. Menurut Sutopo (1993), larutan asam kuat seperti asam sulfat
dengan konsentrasi pekat membuat kulit benih menjadi lunak sehingga dapat
dilalui air dengan mudah.
D.
Bahan
dan Alat Praktikum
1. Bahan
Praktikum
Bahan-bahan yang
digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut.
a. Air
b. Alkohol
c. HCl
d. H2SO4
e. Benih
lamtoro (Leucaena glauca)
2. Alat
Praktikum
Alat yang digunakan
pada praktikum ini adalah sebagai berikut.
a. Gelas Beaker
b. Kertas amplas
c. Pemotong kuku
d. Petridis
e. Pinset
f. Sprayer
g. Stopwatch
E.
Cara
Kerja
Adapun prosedur kerja
dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.
Perlakuan mekanis:
a.
Diambil benih
sebanyak 25 benih untuk dilakukan perlakuan.
b.
Dilakukan pemotongan
bagian ujung kulit benih (cliping), pengikisan kulit biji (scratching) dengan
menggunakan kertas amplas.
c.
Ditaruh benh diatas
kertas merang yang suda digunting berbentuk lingkaran yang disesuaikan dengan
ukuran petridis.
d.
Dilakukan
pengamatan selama 7 hari dan dicatat hasilnya.
2.
Perlakuan kimiawi
a.
Diambil benih
sebanyak 25 benih untuk dilakukan untuk setiap perlakuan kimiawi.
b.
Benih dimasukkan ke
dalam alkohol dengan konsentrasi 90%, H2SO4 dan pada HCl
yang berada di dalam gelas beaker selama 15 menit.
c.
Dikeluarkan benih menggunakan
pinset dan didinginkan selama 10 menit ke dalam air dingin.
d.
Ditaruh benh diatas
kertas merang yang suda digunting berbentuk lingkaran yang disesuaikan dengan
ukuran petridis.
e.
Dilakukan
pengamatan selama 7 hari dan dicatat hasilnya.
3.
Perlakuan
perendaman air panas
a.
Diambil benih
sebanyak 25 benih untuk dilakukan untuk setiap perlakuan kimiawi.
b.
Benih dimasukkan ke
dalam air mendidih dengan suhu 70°C dan 50°C yang berada di dalam gelas beaker
selama 15 menit.
c.
Dikeluarkan benih menggunakan
pinset dan didinginkan selama 10 menit ke dalam air dingin.
d.
Ditaruh benh diatas
kertas merang yang suda digunting berbentuk lingkaran yang disesuaikan dengan
ukuran petridis.
e.
Dilakukan
pengamatan selama 7 hari dan dicatat hasilnya.
F.
Hasil
Pengamatan
Tabel 1. Hasil pengamatan pertumbuhan
biji lamtoro
|
Perlakuan |
Ulangan |
Hari Pengamatan |
||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
|
||
|
Kontol |
U1 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
U2 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
|
U3 |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0,17 |
|
|
Pemotongan |
U1 |
0 |
2 |
5 |
13 |
19 |
25 |
10,67 |
|
U2 |
0 |
0 |
1 |
3 |
11 |
22 |
6,17 |
|
|
U3 |
0 |
1 |
2 |
8 |
12 |
25 |
8 |
|
|
Pengamplasan |
U1 |
0 |
0 |
12 |
20 |
22 |
22 |
12,67 |
|
U2 |
0 |
0 |
20 |
24 |
25 |
25 |
73,17 |
|
|
U3 |
0 |
0 |
15 |
22 |
23 |
23 |
63,83 |
|
|
Alkohol 90% |
U1 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
U2 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
|
U3 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
|
HCl |
U1 |
0 |
0 |
0 |
2 |
3 |
3 |
1,33 |
|
U2 |
0 |
0 |
0 |
2 |
2 |
2 |
1 |
|
|
U3 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
|
H2SO4 |
U1 |
0 |
0 |
0 |
3 |
8 |
10 |
3,5 |
|
U2 |
0 |
0 |
0 |
4 |
8 |
10 |
3,67 |
|
|
U3 |
0 |
0 |
0 |
4 |
7 |
13 |
4 |
|
|
Air 70°C |
U1 |
0 |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
0,33 |
|
U2 |
0 |
0 |
0 |
0 |
1 |
2 |
0,5 |
|
|
U3 |
0 |
0 |
0 |
0 |
1 |
3 |
0,67 |
|
|
Air 50°C |
U1 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
U2 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
|
U3 |
0 |
0 |
0 |
1 |
1 |
1 |
0,5 |
|
Tabel 2. Hasil pengamatan jumlah
benih berkecambah
|
Perlakuan |
Jumlah Benih
Berkecambah |
|||||||
|
Hidup (%) |
Mati (%) |
|||||||
|
1 |
2 |
3 |
|
1 |
2 |
3 |
|
|
|
Kontol |
0 |
0 |
4 |
1,3 |
100 |
100 |
9 |
98,67 |
|
Pemotongan |
0 |
80 |
100 |
96 |
0 |
2 |
12 |
0,67 |
|
Pengamplasan |
88 |
100 |
92 |
93 |
12 |
0 |
8 |
6,67 |
|
Alkohol 90% |
0 |
0 |
0 |
0 |
100 |
100 |
100 |
100 |
|
HCl |
12 |
8 |
0 |
6,67 |
88 |
92 |
100 |
93,33 |
|
H2SO4 |
4 |
4 |
52 |
20 |
96 |
96 |
48 |
80 |
|
Air 70°C |
4 |
8 |
20 |
10,67 |
96 |
92 |
80 |
89,33 |
|
Air 50°C |
0 |
0 |
4 |
1,33 |
100 |
100 |
96 |
98,67 |
G.
Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada praktikum ini
dari pengujian pematahan dormansi pada biji lamtoro dengan beberapa perlakuan, dilakukan
dengan delapan perlakuan yaitu perlakuan yang pertama kontrol, pemotongan,
pengamplasan, alkohol 90%, HCl, H2SO4, air 70°C dan air bersuhu 50°C. Diperoleh pada
hasil pengamatan ulangan pertama didapatkan benih lamtoro yang berkecambah
yaitu pada perlakuan pemotongan dengan rata-rata banyaknya benihyang
berkecambah ada 10,67, pada pengamplasan ada 12,67, HCl ada 1,33, H2SO4 sebesar
3,5, dan perlakuan air 70°C ada 0,33, sedangkan pada perlakuan kontrol, alkohol
90%, dan air 50°C, tidak menghasilkan perkecambahan pada benihnya. Pada ulangan
kedua diperoleh benih yang berkecambah diperoleh pada
perlakuan pemotongan dengan rata-rata benih yang berkecambah sebesar 6,17, pada
pengamplasan sebesar 73,13, HCl sebesar 1, pada H2SO4 sebesar 3,67, pada air 70°C ada 0,5,
sedangakan pada perlakuan lainnya pada ulangan kedua tidak menghasilkan
perkecambahan. Pada ulangan ketiga diperoleh hasil kecambah lamtoro yang tumbuh
adalah pada perlakuan kontrol dengan rata-rata 0,17, pada perlakuan pemtongan
sebesar 8, pengamplasan sebesar 63,83, H2SO4 sebesar 4, air 70°C sebesar
0,67, dan air 50°C sebesar 0,5, sedangkan ada ulangan ketiga yang tidak
berkecambah pada perlakuan HCl dan alkohol 90%.
Diperoleh juga persentase benih yang hidup pada perlakuan
kontrol pada ketiga ulangan yang telah dirata-ratakan yaitu sebesar 1,3%, pada
perlakuan pemotongan 96%, pada pengamplasan diperoleh 93%, pada alkohol 0%,
pada HCl sebesar 6,675, pada perlakuan H2SO4 diperoleh sebesar 20%, pada air dengan suhu 50°C dan 70°C secara berturut-turut diperoleh sebesar
10,67% dan 1,33%. Sedangkan diperoleh juga persentase
benih yang mati pada perlakuan kontrol pada ketiga ulangan yang telah dirata-ratakan
yaitu sebesar 98,67%, pada perlakuan pemotongan 0,67%, pada pengamplasan
diperoleh 6,67%, pada alkohol 100%, pada HCl sebesar 93,33%, pada perlakuan H2SO4 diperoleh sebesar 80%, pada air dengan suhu 50°C dan 70°C secara berturut-turut
diperoleh sebesar 89,33% dan 98,67%.
Berdasarkan teori yang disampaikan oleh Abidin (1993),
bahwa dormansi benih disebabkan oleh faktor luar (eksternal) dan faktor dalam
(internal). Faktor-faktor yang menyebabkan dormansi pada biji adalah tidak
sempurnanya embrio, embrionya yang belum matang secara fisiologis, kulit biji
yang tebal (tahan terhadap gerakan mekanis), kulit biji impermeable dan adanya
zat penghambat (inhibitor) untuk perkecambahan. Dari struktur fisik benih
lamtoro yang keras dapat membenarkan bahwa kulit biji lamtoro yang keras
menyebabkan benih lamtoro menjadi lunak.
Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa perlakuan
pematahan dormansi benih dengan mekanik yaitu pemotongan dan pengamplasan menunjukkan
bahwa pada perlakuan pengamplasan, pematahan dormansinya lebih bagus
dibandingkan dengan perlakuan pemotongan, perlakuan kimiawi, dan kontrol (tanpa
perlakuan), dimana hasil perkecambahan yang lebih banyak tumbuh pada perlakuan
pengamplasan dibandingkan dengan pemotongan walupun hasilnya berbeda tipis. Hal
ini disebabkan oleh teknik pengamplasan yang dapat menipiskan kulit biji
sehingga proses imbibisi atau proses masuknya air dapat terjadi.
Sedangkan untuk perlakuan kimia yang menunjukkan pematahan dormansi yang
lebih bagus yaitu perlakuan asam sulfat (H2SO4) yang lebih bagus hasilnya dibandingkan dengan perlakuan kimiawi yang
lainnya seperti perendaman dengan alkohol 90% dan asam klorida (HCl), hal ini
dikarenakan agar kulit biji berubah ssifatnya dari yang susah ditembus oleh air
menjadi permeabel terhadap gas-gas dan air berdasarkan yang dikatakan oleh
Harjadi (1991). Tetapi jika dibandingkan dengan perlakuan alkohol dan asam
klorida maka perakuan perendaman benih lamtoro dengan asam klorida menghasilkan
perkecambahan yang lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan alkohol. Perlakuan
dengan larutan kimia ini bertujuan untuk melunakkan kulit biji sehingga air
dapat masuk ke dalam biji.
Dan yang terakhir merupakan perlakuan
pemanasan dengan air panas bersuhu 50ºC dan 70ºC. Perlakuan yang
menunjukkan hasil pemecahan dormansi lebih bagus adalah air bersuhu 70ºC
dibandingkan dengan pemanasan dengan 50ºC. Hal ini disebabkan oleh kulit biji lamtoro
yang bertekstur terlalu keras sehingga apabila direndam pada air bersuhu 50ºC
tidak terlalu melunakkan kulit biji dibandingkan dengan perendaman biji lamtoro
dengan air panas 70ºC yang akan lebih cepat melunakkan kulit biji. Perlakuan
pemanasan dengan air panas ini bertujuan
untuk memudahkan air masuk kedalam benih.
H.
Kesimpulan
Hal yang dapat
disimpulkan dari hasil pengamatan diatas yaitu sebagai berikut.
1.
Dormansi benih
merupakan suatu keadaan benih yang dimana benih-benih sehat, namun gagal
berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara normal baik untuk
berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai.
2.
Pematahan dormansi
dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu pemotongan, pengamplasan, perendaman
dalam larutan kimia, dan perendaman dengan air panas.
3.
Cara pematahan
dormansi yang lebih bagus dengan cara mekanik adalah dengan pengamplasan dibandingkan
dengan pemotongan.
4.
Cara pematahan
dormansi yang lebih bagus dengan cara kimiawi adalah dengan perlakuaan larutan
H2SO4 dibandingkan dengan perlakuan kimia yang lain.
5.
Dan cara pematahan
dormansi dengan perendaman pada air panas yang lebih bagus adalah dengan
perendaman dalam air bersuhu 70ºC dibandingkan dengan air bersuhu 50ºC.
6.
Benih lamtoro
sangat baik dilakukan dengan metode pengamplasan benih karena benih yang
berkecambah dengan metode ini paling tinggi dibanding dengan perlakuan lainnya.
Sedangkan perlakuan dengan pemotongan juga baik namun yang terbaik dengan
perlakuan ampelas.
DAFTAR
PUSTAKA
Arif, Muhammad. 2013.
Struktur dan Tipe Buah. http://arieecf.blogspot.co.id/2013/05/teknologi-beih.html.
[Diakses pada tanggal 21 November 2017].
Harjadi, S.S. 1991.
Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta.
Kartiko HDP. 1986.
Pengaruh Beberapa Cara Ekstraksi dan Perlakuan Pendahuluan terhadap Daya
Berkecambah Benih Rotan Manau (Calamus
manna MIQ). Laporan Uji Coba No. 5. Balai Teknologi Perbenihan. Bogor.
Leadem CL. 1997.
Dormancy-unlocking seed secret. In: Landis TD, Thomson JR. Tech. Coords.
National Proceedings, Forest and Conservation Nursery Associations. Gen. Tech.
Rep. PNW-G TR-419. U.S. Department of Agriculture, Forest Service, Pacific
Northwest Research Station, Portland, OR.
Sadjad S. 1980.
Panduan Pembinaan Mutu Benih Tanaman Kehutanan di Indonesia. PPPK dan IPB.
Bogor.
Sutopo L. 1993.
Teknologi Benih. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya, Malang.
Widajati E. 2013.
Metode pengujian Benih (Dasar Ilmu dan Teknologi Benih). IPB Press, Bogor
Willan, RL. 1985. A
Guide to Forest Seed Handling. FAO. Rome.
Yuniarti, Naning
dan Djaman, Dhamarwati F. 2015. Teknik Pematahan Dormansi
Untuk Mempercepat Perkecambahan Benih
Kourbaril (Hymenaea courbaril). Balai
Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Bogor. Volume 1, Nomor 6, Sept
2015, Halaman: 1433-1437.






EmoticonEmoticon