
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
ZAT PENGATUR TUMBUH
Acara IV
PERANAN ZAT PENGATUR TUMBUH PADA PENCANGKOKAN
OLEH
1. Nurul Aen Sofiatun (C1M015152)
2. Putri Ramadhani (C1M015160)
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2018
ACARA IV
PERANAN ZAT PENGATUR TUMBUH PADA PENCANGKOKAN
Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum adalah untuk mengetahui peranan zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan akar pada cangkokan.
Tinjauan Pustaka
Zat pengatur tumbuh merupakan suatu senyawa organik kompleks alami yang disintesis oleh tanaman tingkat tinggi, dan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dalam kultur jaringan, ada dua golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting yaitu sitokinin dan auksin. Zat pengatur tumbuh ini mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ. Interaksi dan perimbangan antara zat pengatur tumbuh yang diberikan dalam media dan yang diproduksi oleh sel secara endogen, menentukan arah perkembangan suatu kultur. Penambahan auksin atau sitokinin eksogen, mengubah level zat pengatur tumbuh endogen sel. ZPT (zat pengatur tumbuh) dibuat agar tanaman memacu pembentukan fitohormon (hormon tumbuhan) yang sudah ada di dalam tanaman atau menggantikan fungsi dan peran hormon bila tanaman kurang dapat memproduksi hormon dengan baik (Heddy, 2000).
Dalam dunia pertanian mencangkok (air layerage) merupakan salah satu istilah yang digunakan untuk memperbanyak tanaman secara vegetatif. Pembiakan vegetatif secara cangkok ini merupakan sauatu cara perkembangbiakan tanaman yang tertua di dunia akan tetapi hasilnya sering mengecewakan pencangkoknya karena kegagalan dalam melakukan pencangkokan. Kegagalan ini dapat dilihat dari bagian tanaman di atasa keratan/luka yang kering atau mati (Wudianto, 1998).
Jenis-jenis tanaman yang biasa dicangkok adalah pohon buah-buahan, misalnya mangga, beberapa jenis jeruk (jeruk besar, jeruk nipis, jeruk manis dan jeruk siem), berbagai jenis jambu (jambu biji, jambu air, jambu monyet), dilema, belimbing manis, lengkeng dan sebagainya. Selain tanaman buah-buahan, tanaman hias bisa juga dicangkok, misalnya bunga sakura, kemuning, soka, nusa indah, bugenvil, cemara dan sebagainya (Nuanyar, 2007).
Menurut Sutisna (2010), auksin sebagai salah satu hormon tumbuh bagi tanaman mempunyai peranan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dilihat dari segi fisiologi, hormon tumbuh ini berpengaruh terhadap pengembangan sel, phototropisme, geotropisme, apikal dominasi, pertumbuhan akar (root initiation), parthenocarpy, abisission, pembentukan callus (callus formation) dan respirasi.
Hormon auksin adalah salah satu hormone dalam pertumbuhan pada semua jenis tanaman lain, dari hormone ini meliputi IAA atau Asam Indol Asetat. Hormon auksin ini terletak pada ujung batang dan ujung akar, fungsi dari hormon auksin ini sendiri adalah membantu proses mempercepat pertumbuhan, baik pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang (Campbell, 2004: 234).
Konsentrasi yang tinggi akan bersifat menghambat. Auksin mengatur proses di dalam tubuh tanaman dalam morfogenesis. Misalnya kuncup lateral dan pertumbuhan akar dihambat oleh auksin namun permukaan pertumbuhan akar baru digalakkan pada jarinngan kalus. Konsentrasi auksin yang berlebihan dapat menyebabkan ketidak normalan seperti epinasti. Auksin mempengaruhi pengembangan dinding sel dimana mengakibatkan berkurangnya tekanan dinding sel terhadap protoplas. Maka karena tekanan dinding sel berkurang, protoplas mendapat kesempatan untuk meresap air dari sel-sel yang adadi bawahnya karena sel-sel yang ada di dekat titik tumbuh mempunyai nilai osmotis yang tinggi (Gardner, 1999: 176).
Metode Percobaan
Tanggal dan Tempat Praktikum: Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Mataram dari tanggal 21 April 2018.
Bahan dan Alat: | 1. Tanaman puring, Atonik, Root Up, tanah halus, dan pupuk kandang. 2. Penggaris, plastik, polybag, gunting kecil, tali rafia, dan alat tulis menulis. |
Prosedur
Adapun prosedur pada praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Disiapkan campuran tanah halus dan pupuk kandang.
2. Disiapkan Root Up 0,05 g.
3. Ditentukan batang yang akan dicangkok, sayat dan hilangkan kulit
4. Diluarnya sekitar 5 cm. Dibersihkan hingga kering lapisan kambiumnya.
5. Diolesi batas sayatan atas dengan ZPT sesuai jenis dan konsentrasi.
6. Segera tutupi dengan campuran tanah-pupuk kandang.
7. Dibungkus dengan sabut kelapa/plastik dan ikat dengan tali rafia di
8. Ditiap ujung atas dan bawah.
Parameter pengamatan:
Adapun parameter pengamatan pada
1. Diamati dan catat hari keluarnya akar pada cangkokan.
2. Dihitung jumlah akar dan panjang masing-masing akar yang tumbuh
pada akhir pengamatan (minggu ke lima)
Hasil dan Pembahasan
Hasil:
Tabel 1. Jumlah akar dan panjang yang tumbuh pada tanaman puring
Parameter | Perlakuan | ||||||||
Kontrol | Root up | Atonik | |||||||
1 | 2 | R | 1 | 2 | R | 1 | 2 | R | |
Jumlah akar | 2 | 17 | 9,5 | 4 | 0 | 2 | 3 | 21 | 12 |
Panjang akar | 3,4 | 4,2 | 3,8 | 3,15 | 0 | 1,83 | 1,3 | 0,27 | 3,73 |
Narasi singkat: Pada pengamatan diatas diperoleh data bahwa senyawa atonik memiliki panjang dan jumlah akar yang lebih banyak daripada senyawa root up dan perlakuan kontrol.
Pembahasan:
Root up adalah salah satu hormon yang digunakan dalam perangsangan pertumbuhan akar pada perbanyakan vegetatif (stek atau cangkok) yang mengandung fungisida untuk mencegah adanya jamur, cendawan, infeksi dan berbagai penyakit yang dapat menyerang bagian tanaman yang terluka atau terkena sayatan, sehingga dalam melakukan pencangkokan biasanya tanaman diberikan root-up untuk melindungi tanaman dari serangan penyakit dan untuk memacu pertumbuhan akar yang lebih cepat dari biasanya. Sedangkan hormon athonik adalah hormon utama yang berasal dari tanaman dan cara kerja hormon ini adalah menstimulasi munculnya akar pada stek batang dan pertumbuhan akar cabang, serta diferensiasi akar pada kultur jaringan. Sehingga pada konsentrasi tertentu penggunaan auksin pada tanaman dapat mempercepat terbentuknya akar karna hormon ini juga dapat berkombinasi dengan hormon cytokinin dalam pembentukan akar tanaman.
Menurut Sudarmono (1983), mencangkok atau okulasi adalah teknik pengembangbiakan tanaman yg sangat cocok untuk ditanam di dalam pot atau budidaya dengan sistem hidroponik. Pohon yang dikembangbiakan dengan teknik cangkok ini tidak akan mempunyai akar tunggang, sehingga sangat mudah dilakukan budidaya dengan sistem hidroponik maupun dengan dibudidaya pada lahan perkebunan secara umumnya. Di dalam perlakuan pencangkokan tanaman menggunakan pembungkus atau pembalut yang digunakan sebagai media perakaran dan sekaligus pelindung tanah yang ada disekitar area tempat dilakukannya pencangkokan, mempertahankan kelembapan akar agar mendapatkan hasil yang baik dengan waktu yang relatif lebih cepat juga untuk menghindari terkena cahaya langsung, sebab akar akan lebih cepat tumbuh dengan sehat dalam keadaan gelap dan lembab.
Pada pengamatan diatas diperoleh data bahwa senyawa atonik memiliki panjang dan jumlah akar yang lebih banyak daripada senyawa root up dan perlakuan kontrol. Pertumbuhan akar pada tiga perlakuan memiliki panjang dan jumlah akar yang berbeda. Akar yang paling panjang dapat dilihat pada perlakuan athonik dengan ulangan yang ke 2 sebesar 6,27 dan jumlah akarnya adalah 21 yang tumbuh (terbanyak dan terlebat dari yang lainnya). Sedangkan jumlah akar dan panjang akar paling sedikit terdapat pada perlakuan Root Up ulangan 2 dengan hasil sebesar 0 (akarnya tidak tumbuh). Hal ini disebabkan karena kesalahan pada saat pencangkokan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kurang telitinya praktikan saat mencangkok misalnya pada saat pengolesan senyawa root-up pada batang yang sudah dikupas dan tanah yang digunakan pada saat mencangkok kurang bagus sehingga tanahnya tidak memiliki kelembaban tertentu atau terlalu rapat dan padat tanah yang memicu akarnya menjadi tidak tumbuh.
Seharusnya penggunaan dengan root up yang lebih unggul, karena root up adalah hormon pertumbuhan akar, untuk merangsang pertumbuhan akar pada perbanyakan vegetative (cangkok,stek). Root up mengandung fungsida untuk mencegah jamur, cendawan, infeksi dan berbagai penyakit di bagian yang terluka/terkena sayatan. Hal ini juga dapat diamati dari hasil pengamatan bahwa pada saat praktikum terdapat jamur pada perlakuan senyawa atonik.
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1. Berdasarkan data diatas bahwa perlakuan atonik yang memiliki rata–rata jumlah akar yang tumbuh 12 akar dan panjangnya mencapai 3,73
2. Perlakuan yang memili panjang dan jumlah akar yang lebih banyak adalah pada perlakuan senyawa atonik, hal ini dimungkinkan karena pengaruh praktikan yang salah dalam proses pengolesan dan pembungkusan dengan plastik.
Daftar Pustaka
Campbell, Reece dan Mitchell. 2004. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Gardner, F.P., RB. Pierce, dan R.L. Mitchl, 1995. Fisiologi Tanaman Budidaya. Diterjemahkan oleh H. Susilo. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Heddy, 2000. Hormon tumbuhan. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Nuanyar. 2007. Cara Bercocok Tanam. [serial online]. http://nanemeuy.blogspot.com/cara-bercocok-tanam. [Diakses pada tanggal 5 Juni 2018].
Sutisna. 2010. Teknik Mempercepat Pertumbuhan Tunas Lateral untuk Perbanyakan Vegetativ Anthurium dengan Aplikasi GA3 dan BA. (Vol. 15) No. 2. Hal: 56-59.
Wudianto, Rini. 1998. Membuat Stek, Cangkok, dan Okulasi. Penebar Swadaya. Jakarta.
EmoticonEmoticon