
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
ZAT PENGATUR TUMBUH
Acara III
PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP DOMINASI APIKAL TANAMAN
OLEH
1. Nurul Aen Sofiatun (C1M015152)
2. Putri Ramadhani (C1M015160)
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2018
ACARA III
PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP DOMINASI APIKAL TANAMAN
Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh ZPT terhadap pertumbuhan tunas pada tanaman yang dihilangkan dominansi apikalnya melalui permangkasan pucuk.
Tinjauan Pustaka
Menurut Wilkins (1989), dominansi apikal merupakan suatu proses penghambatan pertumbuhan sepenuhnya atau hampir sepenuhnya pada tunas-tunas axillari, atau lateral dengan terdapatnya tunas apikal. Dominansi apikal terjadi dengan adanya penghambatan pertumbuhan sari satu pucuk dengan terdapatnya tunas dominan lainnya. Efek-efek bagian apikal dari pucuk terhadap orientasi dan perkembangan organ-organ lateral seperti misalnya cabang, daun, rhizoma, dan stolon.
Dominansi apikal mengontrol pertumbuhan tunas dalam tahap perkembangan vegetatif pada tanaman vaskuler dan tahap juvenil pada tanaman berkayu. Siklus musiman untuk pertumbuhan dan dormansi terjadi di seluruh tunas pada tanaman berkayu. Misalnya, pada akhir musim tanam, tanaman perenial akan mengalami dormansi ketika suhu meningkat. Strategi ini digunakan sebagai perlindungan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi secara tiba-tiba. Oleh karena itu, suhu lingkungan akan mempengaruhi dominansi apikal dan pertumbuhan tunas-tunas axillari pada tanaman (Shimizu-Sato dan Mori, 2001).
Berdasarkan pendapat Harjadi (1982), bentuk pertumbuhan yang tegak yang memiliki satu titik tumbuh aktif dan batang yang kaku adalah bentuk yang umum dan dianggap normal; selain dari bentuk tersebut dianggap mengalami penyimpangan. Pertumbuhan bersemak atau perdu disebabkan ketiadaan batang utama atau “central leader”. Tanaman dengan pola pertumbuhan ini dicirikan oleh sejumlah batang tegak atau setengah tegak dan tidak satupun yang dominan. Pertumbuhan dapat berasal dari suatu kuncup akhir (terminal bud) atau kuncup-kuncup samping (lateral buds) yang berada di ketiak daun. Kuncup dapat menghasilkan daun-daun, bunga-bunga atau keduanya dan disebut sebagai kuncup daun, kuncup bunga atau kuncup campuran.
Pertumbuhan daerah terminal batang (apex) yang mencakup pembelahan sel-sel baru, pembesara, pemanjangan dan secara langsung dipengaruhi oleh hormon Auxin. Cara kerjanya mencakup perubahan dan
plasitisitas dinding-dinding sel. Meristem apikal merupakan tempat sintesa utama dari auxin. Ketika auxin dari ujung batang (shoot apex) bergerak ke bawah menuju daerah pemanjangan sel, hormon ini menstimulasi pergerakan sel-sel untuk pertumbuhan primer tanaman. Selain pengaruh stimilasinya pada pemanjangan sel, auxin juga menginduksi pembelahan sel-sel pada jaringan kambium dan mempengaruhi diferensiasi xylem sekunder (Campbell, 1997).
Pada kebanyakan spesies, titik tumbuh tunas apikal menunjukkan suatu pengaruh penghambatan pada pertumbuhan titik tumbuh tunas lateral, dalam bentuk penekanan atau perlambatan pertumbuhan tunas lateral. Fenomena ini dikenal dengan dominansi pucuk atau apikal (apical
doiminance). Hal ini merupakan fungsi dari distribusi auxin. Dominansi pucuk dapat dihilangkan dengan pemangkasan pucuk sehingga kadar auxin pada daerah apikal sangat berkurang dan sintesa beralih ke daerah tunas lateral. Akibatnya Auxin pada daerah tunas-tunas lateral tersedia dalam jumlah yang dapat menstimulasi pembelahan, pembesaran dan pemanjangan sel-sel muda pada daerah lateral ini sehingga tunas-tunas lateral tumbuh (Salisbury and Ross, 1992).
Metode Percobaan
Tanggal dan Tempat Praktikum: Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Mataram dari tanggal 21 April 2018.
Bahan dan Alat: | 1. Tanaman Coleus sp., pasta vaselin, IBA 1% dan IBA 2%. 2. Tusuk gigi, pot/polybag, media tumbuh tanah dan pasir, gunting kecil, timbangan analitik, dan alat tulis menulis. |
Prosedur
Adapun prosedur pada praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Disiapkan IBA dalam konsentrasi 0%, 1%, dan 2% (didalam vaselin).
2. Dipangkas pucuk tanaman Coleus sp.
3. Dioles ZPT yang telah disiapkan pada setiap pucuk sesuai dengan perlakuan.
Parameter pengamatan:
Adapun parameter pengamatan pada
1. Diamati dan dicatat hari tumbuhnya tunas pasca pemangkasan pucuk.
2. Dihitung jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh sampai minggu ke empat pasca pemangkasan.
Hasil dan Pembahasan
Hasil:
Tabel 1. Jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh.
Hari | Ulangan | Perlakuan | Keterangan |
Senin, 30 April 2018 | 1 | Kontrol | Tumbuh 1 tunas |
2 | Kontrol | Tumbuh 1 tunas | |
3 | Kontrol | Tumbuh 1 tunas | |
1 | IBA 1% | Tidak tumbuh | |
2 | IBA 1% | Tidak tumbuh | |
3 | IBA 1% | Tidak tumbuh | |
1 | IBA 2% | Tidak tumbuh | |
2 | IBA 2% | Tumbuh 1 tunas | |
3 | IBA 2% | Tidak tumbuh | |
Jum’at, 04 Mei 2018 | 1 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas |
2 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas | |
3 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas | |
1 | IBA 1% | Tidak tumbuh | |
2 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
3 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
1 | IBA 2% | Tumbuh 2 tunas | |
2 | IBA 2% | Tumbuh 2 tunas | |
3 | IBA 2% | Tumbuh 1 tunas | |
Senin, 07 Mei 2018 | 1 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas |
2 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas | |
3 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas | |
1 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
2 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
3 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
1 | IBA 2% | Tumbuh 1 tunas | |
2 | IBA 2% | Tu.mbuh 3 tunas | |
3 | IBA 2% | Tumbuh 2 tunas | |
Sabtu, 13 Mei 2018 | 1 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas |
2 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas | |
3 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas | |
1 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
2 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
3 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
1 | IBA 2% | Tumbuh 1 tunas | |
2 | IBA 2% | Tumbuh 3 tunas | |
3 | IBA 2% | Tumbuh 2 tunas | |
Jum’at, 18 Mei 2018 | 1 | Kontrol | Tumbuh 3 tunas |
2 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas | |
3 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas | |
1 | IBA 1% | Tumbuh 3 tunas | |
2 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
3 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
1 | IBA 2% | Tumbuh 2 tunas | |
2 | IBA 2% | Tumbuh 3 tunas | |
3 | IBA 2% | Tumbuh 3 tunas | |
Jum’at, 21 Mei 2018 | 1 | Kontrol | Tumbuh 3 tunas |
2 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas | |
3 | Kontrol | Tumbuh 2 tunas | |
1 | IBA 1% | Tumbuh 3 tunas | |
2 | IBA 1% | Tumbuh 3 tunas | |
3 | IBA 1% | Tumbuh 2 tunas | |
1 | IBA 2% | Tumbuh 2 tunas | |
2 | IBA 2% | Tumbuh 3 tunas | |
3 | IBA 2% | Tumbuh 3 tunas |
Narasi singkat: Diperoleh pertumbuhan jumlah tunas dan jumlah daun yang berbeda-beda pada setiap perlakuan, yang dimana pertumbuhan pada perlakuan kontrol lebih cepat tumbuh karena memiliki auksin 0%, karena tunas apikal yang telah dipotong tertutupi oleh vaselin. Tetapi jika dibandingkan antara perlakuan IBA 1% dengan 2% maka yang lebih cepat tumbuh yaitu IBA 2% karena memiliki konsentrasi auksin yang lebih pekat, karena pada dasarnya konsentrasi auksin yang tinggi akan menghambat pemanjangan sel pada tunas apikal sehingga tunas lateral dapat tumbuh.
Pembahasan:
Setiap tumbuhan melakukan pertumbuhan yang merupakan proses adanya perubahan pada suatu tumbuhan, baik itu perubahan panjang, volume, maupun berat dari tumbuhan tersebut. Pada proses pertumbuhan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya diantara faktor-faktor tersebut ialah suhu, cahaya matahari, keadaan air dan hormon. Satu diantaranya adalah zat pengatur tumbuh (ZPT) pada tanaman (plant regulator).
Auksin merupakan salah satu hormon pertumbuhan pada tumbuhan yang mempunyai peranan luas terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Sifat penting auksin adalah berdasarkan konsentrasinya, dapat merangsang dan menghambat pertumbuhan. Auksin berperan penting dalam perubahan dan pemanjangan sel. Hormon auksin diproduksi secara endogen pada bagian pucuk apikal tanaman. Fungsi dari hormon auksin ini adalah membantu dalam proses mempercepat pertumbuhan, baik itu pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang, mempercepat perkecambahan, membantu dalam proses pembelahan sel, mempercepat pemasakan buah, mengurangi jumlah biji dalam buah.
Berdasarkan pendapat Wattimena (1998), kerja hormon auksin ini sinergis dengan hormon sitokinin dan hormon giberelin. Tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena kerja auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat, sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme.
Auksin dibentuk di koleoptil atau ujung batang dan akar yang berfungsi untuk pemanjangan tunas apikal (tunas pertama yang tumbuh cepat), akibat dari dominansi apikal, yaitu terhambatnya pertumbuhan tunas lateral (tunas ketiak daun). Untuk itu pemangkasan tunas apikal perlu dilakukan agar tunas lateral dapat tumbuh. Pertumbuhan tunas lateral menimbulkan terbentuknya cabang batang yang cukup banyak pada ketiak batang utama, akan tetapi perkembangan tunas lateral tidak saja dapat dirangsang dengan menghilangkan tunas apikal, tetapi juga dengan memberikan senyawa-senyawa kimia tertentu atau dengan memberikan lingkungan fisik tertentu yang dapat menurunkan kandungan auksin tumbuhan.
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dinarasikan diatas dilakukan perlakuan hormon auksin yang berbeda terbukti memberi pengaruh yang berbeda pula terhadap pertumbuhan tunas lateral maupun terjadinya dominansi apikal pada suatu tanaman. Konsentrasi hormon auksin yang rendah mengakibatkan pertumbuhan tunas lateral lebih cepat sedangkan konsentrasi hormon akusin yang lebih tinggi memicu terjadinya dominansi apikal pada tumbuhan. Menurut Hoesen dan Priyono (2000), IBA merupakan derivat dari IAA berupa auksin sintetis. Zat pengatur tumbuh IBA dapat menghasilkan terjadinya tunas apikal. Data menunjukkan bahwa tanaman Coleus sp. yang diberi IBA dengan konsentrasi lebih besar lebih cepat terbentuk tunas lateral daripada tanaman Coleus sp. yang diberi perlakuan IBA dengan konsentrasi sedikit maupun 0%. Konsentrasi IBA yang paling cepat untuk menumbuhkan tunas lateral adalah konsentrasi 2%.
Dari hasil percobaan tersebut juga menunjukkan bahwa pemangkasan pada daun muda yang jika auksin ditambahkan pada sisa batang yang terpotong, setelah bagian apeks dipangkas maka perkembangan kuncup samping dan arah pertumbuhan cabang yang tegak akan terhambat lagi. Pergantian kuncup atau daun muda oleh auksin menunjukkan bahwa zat penghambat yang dihasilkan adalah IBA atau auksin lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1984), yang menyatakan, bahwa hambatan terhadap pertumbuhan pucuk samping ini ternyata disebabkan adanya produksi auksin pada ujung pucuk, pemangkasan ujung pucuk akan menyebabkan pertumbuhan tunas samping.
Selain itu, diperkirakan bahwa pertumbuhan tunas pucuk adalah karena kahat sitokinin, berarti bahwa tidak tumbuhnya tunas-tunas samping adalah karena defisiensi terhadap auksin dan sitokinin. Auksin disintesis dalam jumlah besar dalam tunas apikal tumbuhan dan bergerak secara basipetal (arah pangkal batang) keseluruh bagian tumbuhan. Aliran auksin ini berpengaruh mendorong pemanjangan sel batang dan sekaligus menghambat pertumbuhan tunas pada ketiak daun (tunas lateral) yang mengakibatkan pertumbuhan keatas yang cepat. Pertumbuhan tunas lateral yang lambat dapat disebabkan karena produksi auksi pada bagian tunas pucuk terhambat.
Ujung batang daun-daun muda yang mengalami dormansi akan menyebabkan tingginya kandungan auksin di tempat tersebut. Tingginya kandungan auksin tersebut akan dialirkan secara difusi ke organ-organ lain sehingga tunas lateral akan terhambat pertumbuhannya. Jika pucuk batang dipotong akan muncul tunas lateral. Mekanisme terbentuknya tunas lateral adalah karena adanya pemotongan pucuk batang sehingga aliran auksin ke bawah akan terhambat sehingga akan tumbuh tunas ke samping yang disebut tunas lateral, hal ini sesuai dengan pendapat Rismunandar (1988).
Banyak faktor yang mempengaruhi ekspresi dominansi apikal, yaitu faktor fisik dan faktok kimiawi. Faktor fisik antara lain yaitu karbondioksida, oligosakarida, protein, senyawa organik dan berbagai hormon. Pemberian auksin pada tumbuhan dapat menghambat perkembangan tunas lateral, suatu keadaan yang mirip dengan dominansi tunas apikal. Salah satu respon jaringan tumbuhan terhadap perlakuan auksin adalah pertumbuhan atau pembelahan sel secara acak, yang mengakibatkan terjadinya perbanyakan sel. Kumpulan sel yang tidak atau sedikit terorganisasi disebut kalus. Batang yang terluka atau dipotong sering didapati membentuk kalus bila diberi auksin.
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
1. Dominansi apikal adalah dominasi pertumbuhan yang terdapat dibagian apeks atau ujung organ sebagai persaingan antara tunas pucuk dengan tunas lateral dalam hal pertumbuhan, dimana kuncup terminal secara parsial menghambat pertumbuhan kuncup aksilar.
2. Pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan tunas pada tanaman yang dihilangkan dominansi pucuknya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tunas lateral yang tumbuh pada perlakuan IBA 2% yang lebih besar dari IBA 1%.
Daftar Pustaka
Campbell, N. A., 1997. Biology, third edition. The Benjamin/Cunningham Publishing Company, Inc. California.
Harjadi, S. S., 1982. Pengantar Agronomi. Penerbit PT Gramedia. Jakarta.
Hoesen, D. S. H. dan S. H. Priyono. 2000. Peranan Zat Pengatur Tumbuh IBA, NAA, dan IAA pada perbanyakan Amarilis Merah (Amaryllidaceae). Prosiding Seminar Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Kebun Raya Bogor, 5 November 2000.
Rismunandar. 1988. Hormon Tanaman dan Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1992. Plant Physiology. 4th edition. Wadswoth Publishing Company, Belmont, California.
Shimizu-Sato, S. dan H. Mor. 2001. Control of Outgrowth and Dormancy In Axillary Buds. Plant Physiology 127 : 1405 – 1413.
Wattimena, G.A. 1998. Zat Pengatur Tumbuh. PAU Bioteknologi IPB, Bogor.
Wilkins, M.B. 1989. Fisiologi Tumbuhan. Bumi Aksara. Jakarta.
EmoticonEmoticon