-->

LAPORAN PRAKTIKUM PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP RONTOKNYA TANGKAI DAUN

Image result for zpt
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
ZAT PENGATUR TUMBUH






OLEH
1.    Nurul Aen Sofiatun                  (C1M015152)
2.    Putri Ramadhani                      (C1M015160)


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2018
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
ZAT PENGATUR TUMBUH




Acara II

PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP RONTOKNYA TANGKAI DAUN


OLEH
3.    Nurul Aen Sofiatun                  (C1M015152)
4.    Putri Ramadhani                      (C1M015160)


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2018
ACARA II
PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH TERHADAP RONTOKNYA TANGKAI DAUN
Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap rontoknya tangkai daun.
Tinjauan Pustaka
Menurut Abdillah (2015), jaringan tumbuhan dapat mengalami proses penuaan dengan berbagai cara, salah satunya yaitu proses absisi. Absisi adalah suatu proses secara alami terjadinya pemisahan bagian/organ tanaman dari tumbuhan, seperti daun, bunga, buah atau batang. Dalam proses absisi faktor alami seperti dingin, panas kekeringan akan mempengaruhi proses absisi yang terjadi. Dalam hubungannya dengan hormon tumbuh, hormon ini akan mendukung atau menghambat proses tersebut.
Salah satu tumbuhan yang mudah mengalami absisi daun adalah iler atau Coleus sp. Absisi daun Coleus sp. dipengaruhi oleh aktivitas hormon yang berperan dalam senesensi tumbuhan, yaitu asam absisat atau ABA dan etilen. Berlawanan dengan etilen dan ABA, tumbuhan juga memiliki hormon pertumbuhan yang berpengaruh dalam merangsang pertumbuhan yaitu auksin. Dalam tubuh tumbuhan, auksin terdapat dalam bentuk AIA atau asam indol asetat yang terdiri atas cincin benzena aromatis dan gugus karboksil (-COOH) (Salisbury, 1992).
Zona absisi secara anatomi memiliki jaringan parenkim dengan selsel yang halus dan berdinding sel tipis, terdapat diantara lapisan jaringan yang mengayu pada tangkai dan lapisan pelindung primer dan sekunder pada batabg/cabang. Dinding selnya mengalami perubahan kimia sehingga lapisan dalamnya yang merekatkan satu sel dengan sel lainnya mengalami pelunakan kekuatan dan pada akhirnya menyebabkan tangkai daun mudah sekali rontok (Hidayat, 1995; Loves, 1983).
Proses absisi bagian-bagian tanaman mempunyai arti penting bagi kehidupan tanaman tersebut. Bagi tanaman deciduous di daerah beriklim sedang, perontokan daun di musim gugur merupakan suatu bentuk adaptasi tanaman agar tetap dapat hidup dengan tingkat metabolism rendah karena ketidakmampuan akar melakukan aktivitas absorpsi air selama temperatur lingkungannya rendah/dingin. Selain itu, kerontokan daun pada musim panas/kemarau merupakan suatu usaha tanaman untuk menekan transpirasi berlebihan via daun. Sedangkan kerontokan buah secara alamiah akan membantu tanaman menyebarkan buah dan bijinya ke daerah yang jauh (Campbell, 1977; Dwidjoseputro, 1983).
Kerontokan daun dan buah suatu tanaman umumnya akan terhambat selama kadar auxin di sekitar daerah absisi tinggi. Auxin pada tanaman disintesa di daerah meristematis (muda dan aktif tumbuh). Oleh karena itu semakin tua jaringan semakin berkurang pula produksi auxin sehingga proses perontokan tanaman akan semakin mudah terjadi (Abidin, 1985).
Tahapan proses absisi dapat digambarkan sebagai berikut: Sel-sel parenkim di daerah lapisan absisi memiliki dinding sel yang sangat tipis dan tidak memiliki sel-sel serabut. Ketika polisakarida pada dinding sel dihidrolisa dan rusak oleh enzim maka lapisan absisi semakin lemah. Kemudian, daun yang berat dan adanya angin menyebabkan adanya pemisahan pada lapisan absisi ini. Daunpun selanjutnya gugur tanpa menimbulkan luka pada bekas patahan yang memungkinkan pathogen masuk (Salisbury and Ross, 1992).
Metode Percobaan
Tanggal dan Tempat Praktikum: Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Mataram dari tanggal 21 April 2018.
Bahan dan Alat:
1.    Tanaman Coleus sp., pasta vaselin, IBA 1% dan IBA 2%
2.    pot/polybag, gunting kecil, timbangan analaitik, tusuk gigi, dan alat tulis menulis.
Prosedur
  1. Disiapkan IBA dalam konsentrasi 0%, 1%, dan 2% (didalam vaselin).
  2. Dihilangkan semua helai daun pada masing-masing tanaman dan disisakan tangkai daunnya saja (kecuali 1 helai tetap utuh untuk kontrol) dengan cara menggunting.
  3. Dioleskan zat pengatur tumbuh sesuai perlakuan pada bagian ujung bekas potongan.
  4. Setelah semua tanaman diberi perlakuan, diletakkan tanaman pada tempat yang teduh.
Parameter pengamatan:
  1. Pengamatan dilakukan mulai hari kedua setelah perlakuan hingga hari ke-14, dengan mencatat waktu (hari) rontoknya tangkai daun pada masing-masing perlakuan.
  2. Disajikan data dalam bentuk tabel.
Hasil dan Pembahasan
Hasil:
Tabel 1. Jumlah tangkai daun yang mengalami kerontokan (abscission) pada asing-masing perlakuan.
Hari
Ulangan
Perlakuan
Keterangan
Senin, 30 April 2018
1
Kontrol
1 rontok
2
Kontrol
0 rontok
3
Kontrol
0 rontok
1
IBA 1%
1 rontok
2
IBA 1%
0 rontok
3
IBA 1%
0 rontok
1
IBA 2%
1 rontok
2
IBA 2%
2 rontok
3
IBA 2%
0 rontok
Jum’at, 04 Mei 2018
1
Kontrol
2 rontok
2
Kontrol
0 rontok
3
Kontrol
0 rontok
1
IBA 1%
2 rontok
2
IBA 1%
1 rontok
3
IBA 1%
0 rontok
1
IBA 2%
0 rontok
2
IBA 2%
1 rontok
3
IBA 2%
2 rontok
Senin, 07 Mei 2018
1
Kontrol
2 rontok
2
Kontrol
1 rontok
3
Kontrol
1 rontok
1
IBA 1%
2 rontok
2
IBA 1%
1  rontok
3
IBA 1%
2 rontok
1
IBA 2%
2 rontok
2
IBA 2%
1 rontok
3
IBA 2%
2 rontok
Sabtu, 13 Mei 2018
1
Kontrol
2 rontok
2
Kontrol
2 rontok
3
Kontrol
2 rontok
1
IBA 1%
1 rontok
2
IBA 1%
2 rontok
3
IBA 1%
0 rontok
1
IBA 2%
0 rontok
2
IBA 2%
2 rontok
3
IBA 2%
2 rontok
Jum’at, 18 Mei 2018
1
Kontrol
2 rontok
2
Kontrol
2 rontok
3
Kontrol
2 rontok
1
IBA 1%
1 rontok
2
IBA 1%
2 rontok
3
IBA 1%
1 rontok
1
IBA 2%
2 rontok
2
IBA 2%
2 rontok
3
IBA 2%
2 rontok
Jum’at, 21 Mei 2018
1
Kontrol
2 rontok
2
Kontrol
2 rontok
3
Kontrol
2 rontok
1
IBA 1%
2 rontok
2
IBA 1%
2 rontok
3
IBA 1%
2 rontok
1
IBA 2%
2 rontok
2
IBA 2%
2 rontok
3
IBA 2%
2 rontok
Narasi singkat: Diperoleh jumlah tangkai daun yang mengalami kerontokan pada masing-masing perlakuan yang paling banyak ditunjukkan pada perlakuan kontrol (IBA 0%), yang dimana kerontokan lebih cepat terjadi daripada perlakuan lainnya dan terjadi pada hari tiga. Hal ini terjadi karena vaselin merupakan senyawa yang dapat mempercepat absisi daun dikarenakan batang menjadi kaku setelah diolesi vaselin itu menandakan sel-selnya mengalami kematian sel dan menjadi kaku sehingga mudah gugur saat tersenggol atau tertiup angin.
Pembahasan:
Rontoknya daun adalah suatu prose salami yang terjadi pada tumbuhan berupa terpisahnya daun dari tangkai daun dan batang yang diakibatkan oleh adanya faktor luar dan dalam dari tumbuhan itu sendiri. Faktor luar yang menyebabkan rontoknya daun adalah panas, dingin, dan kekeringan. Sementara faktor dalam yang mempengaruhi rontoknya daun adalah hormon tumbuhan yang dapat mempengaruhi rontolnya daun. Hormon yang memacu rontoknya daun adalah hormon ethilen, sedangkan hormon auksin dapat menghambat kerontokan daun.
Rangsangan dari faktor luar lingkungan ini menyebabkan perubahan keseimbangan antara ethilen dan auksin. Auksin mencegah absisi dan tetap mempertahankan proses metabolism daun, tetapi seiring dengan bertambahnya umur daun maka jumlah etilen yang dihasilkan akan meningkat. Sel-sel yang membentuk etilen mulai menghasilkan etilen yang akan merangsang lapisan absisi terpisah yang dapat memacu  rusaknya dinding sel pada lapisan absisi. Gugur daun pada musim gugur merupakan adaptasi tumbuhan untuk mencegah kehilangan air melalui penguapan pada musim salju karena pada saat itu akar tidak mampu menyerap air pada tanah yang membeku.
Percobaan yang dilakukan pada praktikum ini menggunakan tanaman Coleus sp. yang diberi perlakuan yaitu dengan pemberian Vaselin, IBA1%, IBA 2 %, dan kontrol pada ujung tangkai daun yang sebelumnya tangkai daunnya dipotong dengan menyisakan ukuran 1-2 cm pada semua sampel tumuhan yang dilakukan. Berdasarkan hasil pengamatan, menunjukkan tangkai daun yang rontok paling cepat adalah pada perlakuan kontrol yang dimana, walau pada setiap perlakuan dengan pot kontrol mengalami kerontokan ada juga pot yang lain yang pada masing-masing perlakuan mengalami layu. Namun yang jelas terlihat kerontokan daun terjadi dengan cepat pada perilaku kontrol atau IBA 0% yang dimana rontok pada ulangan 1, 2 dan 3 tepat pada pengamatan ke 4, hal ini disebabkan karena tidak adanya produksi auksin karena terhalang penuh oleh vaselin. Hal tersebut dikarenakan vaselin merupakan senyawa yang dapat mempercepat absisi daun dikarenakan batang menjadi kaku setelah diolesi vaselin itu menandakan sel-selnya mengalami kematian sel dan menjadi kaku sehingga mudah gugur saat tersenggol atau tertiup angin yang sesuai dengan pendapat Leopold (1957) yang mengatakan kemampuan auksin untuk memacu terjadinya absisi, dapat dilakukan dengan pemberian atau pengolesan pasta auksin pada jaringan sisi proksinal absisi. Pemberian auksin pada konsentrasi rendah pada kedua sisi akan menyebabkan efek pemacuan pada salah satu sisi yang dengan kata lain semakin tinggi feel inhibitor pada daerah yang diberi auksin disebabkan oleh kesiapan pergerakan pada arah polar menuju kezona absisi.
Kerontokan selanjutnya ditemukan yang paling cepat rontok selanjutnya adalah  perlakuan ketiga yaitu IBA 2% karena konsentrasinya melebihi konsentrasi auksin yang dapat mempertahankan daun, akibat konsentrasi auksin yang berlebihan tersebut, dapat merontokkan daun. Sedangkan pada perlakuan IBA 1% terjadi keseimbangan auksin pada daun yang menyebabkan  tidak terjadinya kerontokan daun karena ada pengaruh kandungan auksin yang tidak terlalu tinggi konsentrasinya yang dicampurkan pada vaselin tersebut.
Daun muda dan buah muda membentuk auksin, agar keduanya tetap kuat menempel pada batang. Tetapi, bila pembentukan auksin berkurang, selapis sel khusus terbentuk di pangkal tangkai daun dan buah sehingga daun dan buah gugur. Mekanisme kerja auksin berlangsung secara biokimia. Terpacunya koleptil atau batang oleh auksin terjadi secara cepat dan mendadak. Respon tersebut mulai tampak dalam waktu 10 menit hingga berjam-jam dimana pertumbuhan dapat meningkat lima sampai sepuluh kali lipat. Pertumbuhan dengan atau tanpa auksin memerlukan penyerapan air yang berarti bahwa sel tersebut harus mem pertahankan potensia airnya agar selalu lebih negatif dari pada potensial air sekitarnya. Jadi auksin mengakibatkan pengenduran dinding yaitu suatu istilah mengenai sifat mudah melar atau sifat plastis dinding sel yang diberi auksin (Salisbury dan Ross, 1995).
Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut.
1.    Perlakuan yang paling cepat untuk melihat kerontokan daun yaiu pada perlakuan kontrol (IBA 0%), kemudian diteruskan pada perlakuan IBA 2% dan yang terakhir IBA 1%.
2.    Zat pengatur tumbuh yang memicu rontok daun adalah etilen, sedangkan  zat pengatur tumbuh auksin yaitu mempertahankan daun untuk tetap berada pada batang.
3.    Konsentrasi ZPT auksin dalam keadaan normal akan menghambat kerontokan daun, sedangkan dalam keadaan banyak dapat menyebabkan rontoknya daun tetapi tidak lebih cepat dengan efek yang ditimbulkan oleh etilen.
Daftar Pustaka
Abidin, Z., 1985. Dasar-dasar Pengetahuan Zat pengatur Tumbuh. Angkasa Bandung.
Campbell, N. A., 1997. Biology, third edition. The Benjamin/Cunningham Publishing Company, Inc. California.
Dwidjoseputro, D., 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia Jakarta.
Leopold. 1957. Analisis Pertumbuhan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.
Loves, A. R., 1983. Prinsip-prinsip Biologi Tanaman Tropis. PT. Gramedia Jakarta.
Salisbury, F.B. and C.W. Ross, 1992. Plant Physiology. 4th edition. Wadswoth Publishing Company, Belmont, California.
Salisbury, F. B. & Ross, C. W. 1995. Plant Physiology. Wadsworth Publishing co, California.





EmoticonEmoticon