-->

Laporan Praktikum Budidaya Tanaman Selada (Lactuta sativa)

Image result for selada
TUGAS AKHIR
BUDIDAYA TANAMAN BUAH DAN SAYUR
“Budidaya Tanaman Selada (Lactuta sativa)






Oleh:
Putri Ramadhani       (C1M015160)


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2018


BAB I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Selada (Lactuca sativa L.) adalah tanaman yang termasuk dalam family Compositae (Sunarjono, 2014). Selada keriting (Lactuca Sativa L.) adalah tanaman asli lembah Mediterania Timur. Tanaman ini merupakan tanaman setahun yang dapat dibudidayakan di daerah lembab, dingin, dataran rendah maupun dataran tinggi. Pada dataran tinggi yang beriklim lembab produktivitas selada cukup baik. Di daerah pegunungan tanaman selada dapat membentuk bulatan krop yang besar sedangkan pada daerah dataran rendah, daun selada berbentuk krop kecil dan berbunga (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Selada (Lactuca sativa L.) termasuk dalam kelompok tanaman sayuran daun yang dikenal di masyarakat. Jenis sayuran ini mengandung zat - zat gizi khususnya vitamin dan mineral yang lengkap untuk memenuhi syarat kebutuhan gizi masyarakat. Selada sebagai bahan makanan sayuran bisa konsumsi dalam bentuk mentah sebagai lalapan bersama-sama dengan bahan makanan lain. Selain berguna untuk bahan makanan, selada juga berguna untuk pegobatan (terapi) berbagai macam penyakit. Sehingga dengan demikian, selada memiliki peranan yang sangat penting di dalam menunjang kesehatan masyarakat.
Tanaman selada merupakan salah satu sayuran yang banyak disukai masyarakat, mempunyai nilai komersil dan prospek yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Tanaman selada ini memiliki kandungan gizi yang cukup baik, setiap 100 g terdapat protein 1,20 g; lemak 0,20 g; karbohidrat 2,90 g; Ca 22 mg; P 25 mg; Fe 0,50; vitamin A 162 mg; vitamin B 0,04 mg; dan vitamin C 8,00 mg (Yelianti, 2011). Selada memiliki prospek dan nilai komersial yang cukup baik. Semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia serta meningkatnya kesadaran penduduk akan kebutuhan gizi menyebabkan bertambahnya permintaan akan sayuran. Kandungan gizi pada sayuran terutama vitamin dan mineral tidak dapat disubtitusi melalui makanan pokok (Nazaruddin, 2003).
Permintaan yang terus meningkat sesuai dengan pertambahan penduduk maka perlu adanya usaha-usaha pengembangan teknologi dalam budidaya  selada. Memperhatikan kegunaannya yang beragam di dalam kehidupan sehari-hari, maka selada sangat mudah dipasarkan, sehingga apabila dibudidayakan (diusahakan) dengan baik dapat memberikan keuntungan yang besar. Berusaha tani selada dapat berhasil dengan baik apabila petani memiliki pengetahuan yang luas mengenai semua aspek yang berkaitan dengan tanaman selada, yaitu mulai dari manfaat dan kegunaannya, varietas, mutu benih, teknik budidaya, kondisi lingkungan bertanam, penanganan panen dan hama penyakit yang menyerang selada itu sendiri. Berdasarkan penjelasan diatas, maka makalah ini perlu dibuat untuk meningkatkan pemahaman tentang budidaya Tanaman Selada dan bagaimana cara perhitungan perencanaan produksinya.

1.2.Tujuan Praktikum
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
a.       Mengetahui cara budidaya sayuran selada secara organik.
b.      Mengetahui peranan penting komoditi/tanaman selada bagi kehidupan.
c.       Mengetahui bagaimana melakukan perhitungan perencanaan produksi.


BAB II. TEKNIK BUDIDAYA
Perencanaan merupakan suatu upaya penyusunan program, baik program yang sifatnya umum maupun yang spesifik, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu usaha produksi yang baru, memerlukan perencanaan yang bersifat umum atau yang sering disebut sebagai praperencanaan. Faktor-faktor yang sangat penting dan harus diputuskan dalam praperencanaan, adalah pemilihan             komoditas, pemilihan-pemilihan lokasi produksi dan pertimbangan fasilitas, serta skala usaha. Setelah ketiga hal tersebut diputuskan, maka dibuat        rencana yang lebih spesifik menyangkut kebutuhan input-input serta perlengkapan produksi.
Pemilihan komoditas yang akan diusahakan memegang peranan penting dalam keberhasilan usaha produksi sayuran. Komoditas yang bernilai ekonomis tinggi akan menjadi prioritas utama, tetapi perlu dipertimbangkan hal-hal yang berhubungan dengan pemasarannya. Bisa terjadi komoditas bernilai ekonomis dalam produksi, tetapi tidak tepat untuk daerah produksi dan wilayah pemasaran yang akan dituju. Komoditas yang telah dipilih selanjutnya ditetapkan jenisnya/varietasnya sesuai dengan kondisi topografi dan iklim lokasi yang direncanakan, dan komoditas yang telah dipilih adalah tamaman selada.
Tanaman selada (Lactuca sativa) termasuk jenis tanaman sayuran daun dan tergolong ke dalam tanaman semusim (berumur pendek). Tanaman tumbuh pendek dengan tinggi berkisar antara 20 cm – 40 cm atau lebih, bergantung pada tipe dan varietasnya. Tanaman selada ada yang membentuk krop (kumpulan daun – daun yang saling merapat membentuk kepala) dan ada varietas yang tidak membentuk krop. Tinggi tanaman selada daun berkisar antara 30 cm – 40 cm dan tinggi tanaman selada kepala berkisar antara 20 cm – 30 cm.
Syarat tumbuh tanaman selada yaitu dipengaruhi oleh faktor iklim dan faktor tanah. Tanaman selada dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Suhu optimum bagi pertumbuhan selada ialah antara 15-25ᴼ C, dalam kondisi seperti ini selada akan mengalami pertumbuhan yang sempurna (Aini et al., 2010). Di Indonesia, selada dapat ditanam di dataran rendah sampai datraran tinggi (600-1.200 dpl). Hal yang terpenting adalah memperhatikan pemilihan varietasnya yang cocok dengan lingkungannya (ekologi) setempat. Persyaratan iklim lainnya adalah curah hujan. Tanaman selada tidak atau kurang tahan terhadap hujan lebat. Oleh karena itu, penanaman selada dianjurkan pada akhir musim hujan. Pada dasarnya tanaman selada dapat ditanam di lahan sawah maupun tegalan. Tanah yang ideal untuk tanaman selada adalah liat berpasir. Di Indonesia tanaman ini cocok ditanam pada tanah andosol maupun latosol. Syaratnya tanah tersebut harus subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, tidak mudah menggenang dan pH-nya antara 5,0 - 6,8.
Yang perlu dipertimbangkan dalam kegiatan perencanaan proses produksi sayuran ini adalah biaya produksi, penjadwalan proses produksi, perencanaan pola produksi, dan perencanaan dan system pengadaan input dan sarana produksi.
Berikut adalah proses-proses teknik budidaya yang digunakan adalah sebagai berikut.
1.      Pembenihan dan Pembibitan
Tanaman selada dikembangkan dengan biji. Benih selada dalam bentuk biji tersebut bisa disebarkan langsung di atas bedengan, namun yang paling baik adalah disemaikan terlebih dahulu di lahan persemaian selama kurang lebih satu bulan, atau disaat bibit tanaman tersebut telah memiliki 3 – 5 helai daun. Pembibitan dengan persemaian selain dapat menghemat benih, juga memudahkan pemeliharaan bibit, karena bibit yang akan dipindah tanamkan dapat terlebih dahulu diseleksi.
2.      Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan dengan cara mencangkul atau membajak untuk membalikkan tanah. Setelah itu tanah dikeringkan selama ± 15 hari, sebelum kembali diolah dengan membentuk bedengan atau cukup diratakan selama di sekeliling lahan diberi parit pembuangan air dengan lebar 40-60 cm dan dalam 50-60 cm. Jika dibentuk bedengan, lebar parit tersebut adalah 80-120 cm sedang tingginya 30-40 cm, sehingga setiap bedengan bisa ditanami 3-5 barisan tanaman dengan jarak antar bedeng 30-40 cm.
3.      Penanaman
Selada tergolong tanaman yang tidak tahan terhadap hujan lebat, maka waktu tanam sebaiknya dilakukan pada akhir musim hujan atau sekitar bulan Maret/April, pada pagi atau sore hari. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menanam selada, yakni dengan menyebarkan benihnya secara langsung atau memindahkan bibit yang telah disemai ke lahan tanam. Namun, sebagaimana tersebut di atas, cara penanaman yang paling baik adalah dengan menyemai bibit terlebih dahulu.
4.      Pemeliharaan
Dalam masa pemeliharaan, tanaman selada memiliki beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti:
·         Penyiangan
Selada sudah harus disiangi ketika berumur 2 minggu. Hal ini disebabkan karena akar selada yang menancap di tanah dangkal, sehingga tidak mampu untuk bersaing dengan tanaman lain utamanya rumput-rumput liar dalam menyerap hara. Fungsi lain dari penyiangan adalah untuk menekan serangan hama/penyakit. Penyiangan dilakukan dengan Interval satu minggu sekali.
·         Pengairan
Tanaman selada butuh air yang cukup, maka pengairan juga harus mendapat perhatian, utamanya di daerah dataran rendah yang suhu udaranya lebih panas serta sering kekurangan air. Kebutuhan air wajib dipenuhi pada masa awal penanaman, disaat tanaman berumur 2 minggu, atau saat penyiangan pertama, juga pada waktu tanaman berumur satu bulan.


·         Penyiraman
Penyiraman bisa dilakukan dengan langsung menyiramkan air ke bagian batang dan daun tanaman, bisa juga dengan mengalirkan air melalui parit-parit pengairan di kanan-kiri lahan penanaman. Perhatikan kondisi parit pengairan, agar senantiasa dapat melewatkan kelebihan air di saat turun hujan lebat. Jangan sampai ada air yang tergenang cukup lama di sekitar tanaman, karena akan merusak perakaran dan menyebabkan tanaman menjadi roboh.
·         Pemupukan
Jika tanaman terlihat kurang subur, berikan pupuk tambahan berupa pupuk kandang sebanyak 2 ton untuk satu hektar lahan. Pupuk kandang yang baik adalah yang mengandung unsur nitrogen yang tinggi seperti kotoran ayam. Selain pupuk kandang, dapat pula ditambahkan pupuk kimia. Menurut Direktorat Jendral Pertanian (1992), tanaman selada membutuhkan pupuk anorganik untuk setiap hektarnya adalah: urea 220 kg/ha, TSP 220 kg/ha, dan KCl 160 kg/ha, dimana pupuk tersebut diberikan di alur kiri dan kanan tanaman. Hasil penelitian Setiowati (2011) memperlihatkan pemberian pupuk urea memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada, dimana hasil terbaiknya adalah 0,04 kg/ plot (150 kg/ha).
Fitter et al. (1994) menyatakan bahwa laju pertumbuhan tanaman yang rendah berkaitan dengan tanah miskin hara. Hara yang tersedia rendah akan langsung memperlambat pertumbuhan tanaman. Masing-masing unsur hara mempunyai fungsi dan proses fisiologis tanaman, misalnya Nitrogen mempunyai peranan yang sangat besar dalam tanaman. Sitompul et al. (1995) cit. Musliar et al. (2000) menyatakan ketersediaan Nitrogen mempengaruhi sangat nyata terhadap luas daun tanaman.
5.      Hama dan Penyakit
Selada memiliki beberapa hama dan penyakit yang mengganggu seperti:


·         Kutu Daun
Jenis hama yang paling banyak menyerang tanaman selada adalah kutu daun. Akibat yang ditimbulkan dari hama ini berupa mengerut dan mengeringnya daun karena kurang cairan. Tanaman muda yang terserang kutu daun, pertumbuhannya tidak dapat sempurna atau kerdil. Untuk mengendalikan kutu ini, diperlukan Insektisida, seperti Diazinon, Orthene 75 SP, maupun Bayrusil. Cara pemakaiannya dengan menyemprotkan insektisida tersebut dengan dosis 2 cc/l air.
·         Thrips
Hama lain yang juga kerap menyerang tanaman selada adalah thrips. Ciri dari serangan hama ini berupa menguning dan mengeringnya daun sebelum akhirnya tanaman mati. Untuk mengendalikan hama ini dapat digunakan Tamarot 200 EC, Bayrusil 250 EC, atau Tokuthion 500 EC dengan dosis 2 ml perliter air.
·         Penyakit busuk batang
Untuk jenis penyakit yang sering menyerang tanaman selada adalah penyakit busuk batang. Gejalanya ditandai dengan melunak dan berlendirnya batang, sedang akibat yang ditimbulkannya adalah membusuknya akar. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani. Untuk mencegahnya, lahan harus senantiasa dijaga kebersihannya serta mengurangi kelembaban lahan. Dapat pula dengan menyemprotkan fungisida Maneb atau Dithane M 45 dengan dosiss 2 g/l.
Selada dapat dipanen ketika berumur 2-3 bulan setelah tanam. Namun, bisa saja kurang dari umur tersebut tanaman sudah layak konsumsi, jadi bisa dipanen lebih cepat. Cara panen selada dengan memotong bagian tanaman di atas permukaan tanah. Bisa juga dengan mencabut semua bagian termasuk akar. Setelah akar dicuci, daun-daun yang rusak dibuang. Kelompokkan selada berdasar ukuran. Yang besar dengan yang besar dan yang kecil dengan yarrg kecil. Selada ini harus segera dipasarkan karena tak tahan panas dan penguapan.
Kerusakan pada komoditas selada bisa disebabkan faktor mekanis, fisiologis, dan nonparasiter. Kerusakan yang disebabkan oleh faktor mekanis umumnya terjadi karena penanganan yang kurang baik pada saat pengangkutan dan bongkar muat, sehingga banyak daun yang robek – robek dan patah. Kerusakan ini harus dicegah. Sebab kerusakan fisik yang terjadi pada daun sangat membantu parasit yang dapat mempercepat kerusakan daun.
Kerusakan karena faktor fisiologis disebabkan aktivitas biologis yang masih berlangsung dari daun selada yang telah dipanen, yaitu hasil tanaman yang telah dipanen masih melangsungkan proses penguapan (transpirasi), pernapasan (respirasi), dan aktivitas-aktivitas biologis lainnya. Peristiwa ini secara langsung menyebabkan berkurangnya berat (penyusutan) dan menurunkan kualitas daun.
Menurut Robinson et.al. (1975) dalam Toekidjo Martoredjo 1984), bahwa pada sayuran yang berupa daun, kehilanan air sebanyak 10% dari berat aslinya karena adanya penguapan (transpirasi) maka daun selada menjadi layu dan kualitasnya sangat rendah. Perubahan-perubahan biologis lainnya seperti perubahan tepung (karbohidrat menjadi gula, perubahan kandungan nutrisi, dan sebagainya juga akan menurunkan kualitas daun selada. Perubahan-peruban biologis ini menyebabkan daun selada yang telah dipanen mudah diserang parasit sehingga kerusakan dapat lebih cepat.
Kegiatan–kegiatan pascapanen untuk komoditas selada meliputi pembersihan dan pengeringan, sortasi, dan grading, penyimpanan, pengemasan, dan pengangkutan, serta pemasaran. Kegiatan–kegiatan Pascapanen:
a.       Pembersihan dan Pengeringan
Daun selada yang telah dipanen harus dibersihkan dahulu sebelum sampai pada tahap pemasaran. Tindakan pembersihan pada selada dilakukan dua kali, yaitu membuang bagian – bagian yang tidak berguna dan pencucian untuk menghilangkan kotoran dan residu pestisida yang masih melekat pada daun selada. Bagian – bagian yang tidak berguna seperti daun-daun yang rusak (daun paling bawah), sebagian batang dan akar harus dibuang, baru kemudian dilakukan pencucian.
Pencucian daun selada dilakukan dengan air yang bersih, dan air mengalir. Pencucian selanjutnya dilakukan dengan menggunakan Neutral Cleaner Brogdrek berbentuk cairan. Bahan ini membersihkan residu pestisida, dapat membersihkan kotoran, dan membunuh hama serta kuman–kuman penyakit yang masih terdapat dalam daun selada. Lalu untuk memperpanjang kesegaran daun selada, selanjutnya dicuci lagi dengan menggunakan Britex Wax. Dengan manggunakan kedua macam bahan kimia tersebut, kesegaran daun selada dapat lebih lama, dam daun selada bersih dari residu pestisida sehingga aman dikonsumsi.
b.      Penyimpanan
Selada tergolong jenis sayuran yang sangat mudah rusak. Sehingga apabila penanganan setelah panen dilakukan kurang baik maka dapat menyebabkan kemerosotan kualitas yang berlangsung cepat. Daun selada yang dibiarkan pada kondisi normal (tanpa perlakuan khusus) sudah mengalami pelayuan dengan daun menguning 2 hari setelah panen, dan daun sudah tidak laku dijual. Sayuran yang telah layu sudah banyak kehilangan Vitamin C dan Karoten.
Untuk mempertahankan kesegaran daun selada hingga beberapa lama dapat dilakukan dengan penyimpanan dengan suhu rendah dan penyimpanan dalam ruangan sitem atmosfer termodifikasi (modified atmosphere container).
·         Penyimpanan dengan suhu rendah
Penyimpanan dalam ruangan dengan suhu rendah adalah sisten penyimpanan yang dilakukan dalam ruangan yang bertemperatur rendah (32°F) dan kelembaban yang relatif tinggi (95%). Penyimpanan dalam ruangan yang bertemperatur rendah ini memerlukan ruangan yang dilengkapi dengan peralatan pendingin.
Penyimpanan dalam ruangan yang bertemperatur rendah dan kelembapan yang relatif tinggi dapat memperlambat laju penguapan dan laju pernapasan daun selada, menghambat penuaan, menghambat pengeluaran panas, menghambat pematangan, mencegah atau menghambat kegiatan patogen (mikroorganisme) perusak, perubahan biokimia daun selada, tidak mempengaruhi rasa, warna, tekstur, nilai gizi (nutrisi), dan bentuk fisik daun selada. Daun selada yang disimpan pada suhu 32°F dengan kelembapan nisbi 95% tahan disimpan sampai 3 – 4 minggu.
·         Penyimpanan dalam ruangan sistem atmsofer termodifikasi (Modified Atmosphere Container/MAS)
Penyimpanan dalam ruangan dengan sitem atmosfer termodifikasi merupakan cara penyimpanan dengan mengatur komposisi gas oksigen (O2), karbondioksida (CO2), dan Nitrogen (N2) di dalam ruangan penyimpanan pada tingkat konsentrasi tertentu yang dapat memperlambat proses pernapasan, penguapan dan aktifitas biologis lainnya yang terjadi pada daun selada.
c.       Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan pada komoditi selada bertujuan melindungi bahan (daun selada) dari kerudsakan akibat pengangkutan dari kebun sampai ke pusat-pusat pemasaran, memberikan daya tarik pada konsumen, memudahkan didalam pengangkutan, memudahkan pengiriman, dan memudahkan didalam penataan pada saat pemasaran, terutama penataan di supermarket. Fungsi pengangkutan adalah untuk mengangkut bahan (selada) dari kebun produksi dan atau tempat penyimpanan ke pusat-pusat pemasaran. Fungsi pengemasan dan pengangkutan saling berkaitan, terutama terhadap perlindungan bahan dari kerusakan mekanis akibat gesekan atau benturan yabg sering terjadi selama pengangkutan, kerusakan biologis, dan kerusakan karena pengaruh lingkungan (terik matahari, suhu udara yang tinggi, dan kelembaban yang tinggi).
d.      Pemasaran
Pendapatan yang tinggi dari hasil usaha tani selain ditentukan oleh teknik budidayanya, juga ditentukan oleh teknik penmasarannya. Di dalam kegiatan pemasaran selada ada dua hal yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu menentukan standar harga dasar dan pengenalan lembaga pemasaran (tata niaga) yang berperan menjualkan selada dari petani produsen sampai ke konsumen. Dalam pemasarannya dapat berupa domestic yaitu pasar tradisional dan non tradisional dan ekspor.


BAB III. PERHITUGNAN PERENCANAAN PRODUKSI
Analisis data perancanaan produksi tanaman sayuran Selada (Lactuca sativa):
Diketahui:  
Kebutuhan/daya serap pasar                               = 50 kg/hari
Jarak tanam selada                                              = (20 x 25) cm
Produktivitas selada                                           = 200 g/tanaman
Jumlah minggu penanaman/siklus produksi       = 6 minggu
Kehilangan hasil selama proses produksi           = 20%
Kehilangan hasil selama pasca panen                 = 20%
Ditanyakan:
Jumlah tanaman yang harus ditanam setiap minggu?
Luas lahan efektif?
Luas total areal (lahan) yang dibutuhkan (jika 6 siklus penanaman)?
Jawab:
·         Jumlah tanaman yang diperlukan= daya serap pasar/produktivitas selada
= 50 kg/hari / 200 g/tan
= 50.000 g/hari / 200g/tan
= 250 tan/hari
Untuk perminggunya (6 minggu)= 250 tan/hari x 7 minggu
= 1750 tan/mg
·         Jumlah tanaman yang harus ditanam = 100/80 x 100/80 x 1750
= 2.734,375 tan/mg
= 2800 tan/mg
·         Luas lahan efektif= (20 x 25) cm x 2800 tan/mg
= (0,2 x 0,25) m x 2800 tan/mg
= 0,05 x 2800
= 140 m2
·         Luas areal total
= jumlah minggu pennanaman/siklus x (luas efektif + 30% luas efektif)
= 6 x (140 + (30% x 140))
= 6 x (140 + 42)
= 6 x (182)
= 1092 m2



BAB III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini yaitu antara lain sebagai berikut.
1.      Selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu komoditi hortikultura yang memiliki prospek dan nilai komersial yang cukup baik.
2.      Syarat tumbuh dari tanaman selada yaitu dipengaruhi oleh faktor iklim dan faktor tanah.
3.      Kegiatan perencanaan yang baik dengan tahapan budidaya dimulai dari pengadaan benih, persiapan/pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, panen dan pasca panen.
4.      Kegiatan panen dilakukan ketika tanaman berumur 2-3 bulan dapat dilakukan dengan cara memotong bagian tanaman di atas permukaan tanah. Bisa juga dengan mencabut semua bagian termasuk akar. Setelah akar dicuci, daun-daun yang rusak dibuang. Kegiatan pasca panen meliputi pembersihan dan pengeringan, penyimpanan, pengemasan dan pemasaran.
5.      Kendala yang mungkin untuk dihadapi adalah adanya organisme pengganggu tanaman seperti kutu daun, thrips, dan penyakit busuk batang,  juga adanya kerusakan oleh faktor fisiologis, mekanis, dan biologi.

3.2. Saran
            Selada merupakan komoditi hortikultura yang mudah rusak sehingga penanganan setelah panen sangat diperlukan seperti teknik penyimpanan yang tepat dan perawatan tanaman selama produksi juga sangat berpengaruh dalam menghasilkan produk sayuran yang bernilai gizi tinggi dan tetap segar hingga sampai ke tangan masyarakat dan siap dikonsumsi.


DAFTAR PUSTAKA
Aini, R, Yaya, S, dan Hana, M. N. 2010. Penerapan Bionutrien KPD Pada Tanaman Selada Keriting (Lactuca sativa Var. crispa). Jurnal Sains dan Teknologi Kimia, 1 (1): 73-79
Barmin. 2010. Budidaya Sayur Daun. CV. Rikardo. Jakarta.
Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan. 1992. Vademekum Sayur-sayuran. Direktorat Bina Produksi Hortikultura. Jakarta.
Fitter, A. M. dan R. K. M. Hay. 1994. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gajah Mada University. Press, Yokyakarta .
Haryanto, E. Tina, S, dan Estu, R. 1995. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nazaruddin. 2003. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya, Jakarta
Rukmana, R. 1994. Bertanam Selada dan Andewi. Kanisius. Yogyakarta.


EmoticonEmoticon