-->

LAPORAN PRAKTIKUM UJI KEMURNIAN BENIH : Tekben wahyu faperta!

Related image
LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH
ACARA II. UJI KEMURNIAN BENIH






Oleh
Nama             : Putri Ramadhani
NIM               : C1M015160
Kelompok     : 29


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2017



ACARA II. UJI KEMURNIAN BENIH
A.      Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui cara menghitung kemurnian benih dan dapat mengetahui komposisi dari suatu contoh benih.
B.       Pelaksanaan Praktikum
1.      Hari/tanggal praktikum :
Senin, 8 Oktober 2017 pukul 12.30 – 14.00 WITA.
2.      Tempat praktikum         :
Laboratorium Pemuliaan dan Teknologi Benih, Gedung E, Lantai 3, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram.
C.    Tinjauan Pustaka
Benih diartikan sebagai biji tanaman yang tumbuh menjadi tanaman muda yang kita sebut bibit, kemudian tumbuh menjadi dewasa dan menghasilkan bunga. Melalui proses penyerbukaan, bunga berkembang menjadi buah atau polong, lalu menghasilkan biji kembali. Benih dapat dikatakan pula sebagai ovul masak yang terdiri dari embrio tanaman, jaringan cadangan makanan, dan selubung penutup yang berbentuk vegetatif. Benih berasal dari biji yang dikecambahkan atau dari umbi, setek batang, setek daun, dan setek pucuk untuk dikembangkan dan diusahakan menjadi tanaman dewasa (Kartasapoetra, 1992).
Benih bermutu fisik yang tinggi adalah benih yang bersih. Tidak hanya bersih dari campuran kotoran fisik seperti pasir, tanah, tangkai atau daun kering, tetapi juga bersih dari campuran benih-benih mati atau benih abnormal fisik dan benih kosong, atau dari perangan benih seperti kulit, endosperm, pecahan kotiledon, serta dari biji gulma yang ikut tercampur saat panen (Sadjad, 1993).
Kualitas benih sangat mempengaruhi produktivitas tanaman yang akan diperoleh, sehingga perlu ketelitian dalam menentukan benih yang akan digunakan dalam usaha budidaya tanaman. Komponen yang perlu diperhatikan pada saat melakukan analisis kemurnian fisik adalah benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih. Untuk analisa kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 4 komponen yaitu benih murni, benih species lain, benih gulma dan bahan lain atau kotoran (Suharto, 2003).
Benih spesies lain mencakup semua benih dari tanaman pertanian yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji. Benih gulma mencakup semua benih ataupun bagian vegetatif tanaman yang termasuk dalam kategori gulma. Juga pecahan gulma yang berukuran setengah atau kurang dari setengah ukuran yang sesungguhnya tetapi masih mempunyai embrio. Bahan lain atau kotoran, termasuk semua pecahan benih yang tidak memenuhi persyaratan baik dari komponen benih murni, benih species lain maupun benih gulma, partikel-partikel tanah, pasir, sekam, jerami dan bagian-bagian tanaman seperti ranting dan daun (Sutopo, 1984).
Dalam perhitungan kemurnian benih dapat dipengaruhi oleh komponen hasil pengujian benih. Apabila berat sampel benih kurang dari 25 gram, maka perhitungan presentase berat masing-masing komponen dengan membandingkan terhadap keseluruhan berat semua komponen (bukanterhadap berat sampel benih yang diuji), yang kemudian dikaikan dengan 100%. Jika tingkat kemurnian benih itu rendah maka akan berperngaruh dalam keseragaman tumbuh dilapangan (rendah). Hal ini bisa terjadi karena adakemungkinan bahwa benih yang digunakan tercampur oleh spesies tanaman lain gulma atau kotoran lainnya sehingga akan berpengaruh pada waktu panen yangtidak serentak dan produk yang dihasilkan tidak akan seragam atau tidak sesuai yang diharapkan (Sutopo, 2002).
Kategori benih murni dari suatu species adalah benih masak dan utuh, benih yang berukuran kecil, mengerut tidak masak, benih yang telah berkecambah sebelum diuji dan pecahan benih yang ukurannya lebih besar dari separuh benih yang sesungguhnya, asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih itu termasuk ke dalam species yang dimaksud (Justice, 1990).
Kontaminasi benih dari varietas lain dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti cara pembudidayaannya atau pada saat prosesing-nya. Dari segi pembudidayaan, pencampuran varietas lain dimungkinkan karena penanaman yang tidak hanya satu varietas saja dalam tempat yang sama dan dalam waktu yang bersamaan. Dengan kata lain dalam pembudidayaannya proses isolasi tidak berjalan dengan baik. Dari segi prosesing benih, pencampuran varietas lain dapat terjadi karena beberapa hal misalnya saat pengangkutan benih tercampur varietas lain, hal ini bisa karena karung tempat membawa tidak bersih dari varietas lain, atau pada saat pengeringan tempat yang digunakan tidak bersih. Tempat penjemuran yang berdekatan antar varietas berbeda juga dapat mengakibatkan tercampurnya varietas yang sedang dikeringkan, sehingga idealnya suatu tempat penjemuran hanya digunakan untuk mengeringkan satu varietas saja (Siregar, 2005).
Alat prosesing yang tidak bersih juga dapat menyebabkan benih menjadi tidak murni karena masih ada benih dari varietas lain yang masih tertinggal dan akhirnya tercampur dengan benih yang kita panen. Sehingga untuk mendapatkan benih dengan tingkat kemurnian tinggi diperlukan kecermatan dan ketelitian yang baik. Karena suatu benih apabila tingkat kemurniannya turun sampai batas tertentu maka kelas benih tersebut juga akan turun. Persentase benih murni akan dapat mencapai 100%. Jika prosesing benih, proses pengangkutan benih, dan proses penjemuran benih memenuhi standar serta alat prosesing yang digunakan bersih dan dipastikan tidak ada varietas lain (Sund dan Delouce, 2008).
Beda antara hasil ulangan pertama dan kedua tidak boleh lebih tinggi atau lebih rendah dari 5%. Setiap komponen ditimbang lalu ditotal, diman berat total seharusnya dengan berat dengan mula-mula keseluruhan contoh uji untuk kemurnian tetapi bisa kurang. Persentase dari setiap komponen didapatkan dari berat masing-masing komponen dibagi dengan berat total kali 100%. Hasilnya ditulis dalam dua decimal atau dua angka dibelakang koma (Kamil, 1982).
D.      Bahan dan Alat Praktikum
1.      Bahan Praktikum
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut.
a.       Benih padi (Oryza sativa)
b.      Bening kacang tanah (Arahis hypogea)
c.       Benih kacang hijau (Vigna radiata)
2.      Alat Praktikum
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut.
a.       Meja analisis kemurnian benih
b.      Pinset
c.       Timbangan
d.      Petridis
E.       Cara Kerja
Adapun prosedur kerja dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1.      Disiapkan benih yang banyak yang akan diuji dalam sebuah wadah (petridish)
2.      Ditimbang berat contoh uji tersebut dengan timbangan analitik (berat total). Penimbangan contoh uji untuk kemurnian, harus sesuai dengan ketentuan dalamsertifikasi benih yaitu adi 75 g, jagung 900 g, shorgum 90 g, kacang tanah 100 g, kedelai 500 g, kacanghijau 150 g, bayam, 2 g, kol bunga 10 g, dan petsai 4 g.
3.      Dipisahkan komponen uji, kemudian ditimbang:
-          Benih murni= a g
-          Benih spesies = b g
-          Benih gulma = c g
-          Bahan lain atau kotoran = d g
4.      Persentase dari berat komponen b, c, dan d diatas dari berat totalnya dan persentase benih murni (a) adalah100% - total persentase b, c, dan d.
5.      Dilakukan analisis sebanyak dua kali ulangan dengan beda antar ulangan tidak boleh lebih dari 5%.
F.       Hasil Pengamatan
a.       Data Kelompok
·         Padi
c = 0%
a = 100% - (14,23+0+6,67)%
= 100% - 20,9%
=79,1%
·         Kacang Tanah
a = 100% - (2,06+0,11+2,26)
= 100% - 4,43%
= 95,57%
·         Kacang Hijau
c = 0%
a = 100% - (6,58+0+1,56)%
= 100% - 8,14%
= 91,86%
b.      Data Gelombang
·         Padi
a = 100% - (8,33+8,33+6,57)%
= 100% - 23,23%
= 76,77%
·         Kacang Tanah
a = 100% - (1,72+0,57+1,83)%
= 100% - 4,12%
= 95,88%
·         Kacang Hijau
a = 100% - (5,13+7,93+2,22)%
a = 100% - 15,28
a = 84,72%
G.      Pembahasan
Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman dilapangan. Dalam pengujian benih mengacu dari ISTA, dan beberapa penyesuaian telah diambil untuk mempertimbangkan kebutuhan khusus (ukuran, struktur, pola perkecambahan) jenis-jenis yang dibahas di dalam petunjuk ini. Beberapa penyesuaian juga telah dibuat untuk menyederhanakan prosedur pengujian benih. Pengujian benih mencakup pengujian mutu fisik fisiologi benih (Harjadi, 1979).
Kemurnian benih adalah tingkatan kebersihan benih dari materi-materi serasah, atau benih varietas lain yang tidak diharapkan yang kemurnian benih dinyatakan dalam persentase (%). Standar metode pengujian mutu benih yang ada selama ini mengacu pada ketentuan ISTA. Sebagai langkah pertama dalam pengujian mutu benih adalah menyediakan contoh benih yang dapat dianggap seragam dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh ISTA.
Menurut Badan Standarisasi Nasional (BSN), persyaratan mutu di laboratorium meliputi kadar air dengan batas maksimum 13,0%, benih murni dengan batas minimum 98,0%, daya berkecambah/daya tumbuh dengan batas minimum 80,0%, kotoran benih dengan batas maksimum 2,0%, biji benih tanaman lain 0,0%, dan biji gulma 0,0%.
Benih-benih yang termasuk dalam kategorimurni merupakan benih-benih yang memiliki kriteriasperti biji muda, biji belah, dan biji rusak, pecahan biji dengan ukuran lebih besar dari setengah ukuran biji aslinya, biji-biji yang terserang penyakit, dan biji yang mulai berkecambah.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada praktikum ini dapat diketahui bahwa data kelompok pada benih padi yaitu berat komponen campuran varietas lain 10,67 gram, biji tanaman lain 0 gram, dan kotoran benih 5 gram. Persentase komponen pada benih padi diperoleh benih murni sebesar 79,1%, campuran varietas lain 14,23%, biji tanaman lain 0%, serta kotoran benih sebesar 6,67%. Pada benih kacang tanah diperoleh benih murni sebesar 95,57%, berat komponen campuran varietas lain 2,06 gram, biji tanaman lain 0,11 gram, dan kotoran benih 2,26 gram. Persentase komponen pada benih kacang tanah diperoleh benih murni sebesar 95,57%, campuran varietas lain 2,06%, biji tanaman lain 0,11%, dan kotoran benih 2,26%. Pada benih kacang hijau diperoleh berat komponen campuran varietas lain yaitu 9,87 gram, biji tanaman lain 0, dan kotoran benih 2,34 gram. Persentase komponen pada benih kacang hijau diperoleh benih murni sebesar 91,86%, campuran varietas lain 6,58%, biji tanaman lain 0%, serta kotoran benih sebesar 1,56%.
Hasil pengujian kemurnian benih padi, kacang tanah, dan kacang hijau memiliki persentase kemurnian benih yaitu 79,1%, 95,57%, dan 91,86% pada data kelompok dan pada data gelombang yaitu 76,77%, 95,88%, dan 84,72%, sehingga dari ketiga hasil tersebut diperoleh persentase kemurnian benih yang tinggi pada benih kacang tanah dibandingkan dengan benih padi dan kacang hijau. Benih kacang tanah memiliki kemurnian yang tinggi karena mencapai lebih dari 95% dari standar ISTA. Hal ini berarti bahwa jika dilihat dari data kelompok maupun data per gelombang benih kacang tanah adalah benih yang benar-benar murni walaupun ada beberapa persen kotoran benih dan benih varietas lain. Akan tetapi benih dari data per kelompok lebih baik digunakan dibandingkan dengan benih dari data per gelombang, karena persentase dari data per kelompok lebih tinggi dibandingkan dengan persentase data per gelombang. Persentase terendah baik pada data  kelompok maupun gelombang adalah benih padi, hal ini disebabkan oleh benih padi yang diuji adalah bukan benih murni yang akan dijadikan bibit dan benih yang bukan berasal dari balai penelitian benih melainkan benih yang diambil dari sawah langsung.
Berarti mutu benih yang kita praktikum kali ini adalah mutu fisik benih yang murni karena faktor kehilangan benih tidak lebih besar dari 5% sehingga benih yang kita gunakan pada praktikum kali ini adalah benih yang mutu fisiknya baik, namun dengan nilai kemurniannya rata-rata (95%) kalau sudah mencapai tingkat kemurniannya (95%) maka benih tersebut dikatakan benih yang varietas kemurniaannya sangat baik atu bagus.
Benih yang memiliki kemurnian yang tinggi merupakan salah satu takaran atau ukuran untuk menjadi benih bersertifikat. Sehingga pengujian kemurnian benih dilakukan untuk menentukan komposisi berdasarkan berat dari contoh benih yang akan diuji atau dengan kata lain komposisi dari kelompok benih identitas dari berbagai spesies benih dan partikel-partikel lain yang terdapat dalam benih.
Prinsip dari pengolahan benih ialah mewujudkan benih tanaman yang unggul dan baik. Apabila benih itu ditanam atau ditumbuhkan akan mampu bertahan selama perkembangan hidupnya serta mampu memberikan produk yang baik dan meningkat, dengan cara memberikan perlakuan antara lain memisahkan secara khusus benih yang kita pilih dari benih tanaman sejenis yang bervarietas lain, dari benih tanaman lain, dari biji-bijian herba, dari kotoran-kotoran yang melekat atau tercampur padanya. Jangkauan dari aktivitas ini adalah agar diperoleh benih yang benar-benar murni.
Pembersihan benih dari varietas lain dan kotoran harus dilakukan dengan sebaik-baiknya mengingat antara benih yang kita maksud dengan hal-hal yang telah disebutkan itu pada dasarnya ada perbedaan fisik. Jadi tinggal ketekunan kita dalam melaksanakan cleaning tersebut. Dalam pelaksanaan pembersihan itu terdapat dua cara yaitu yang tradisional dan yang pemanfaatan mesin.
Cara tradisional ini seperti yang dilakukan oleh praktikan dalam praktikum kemurnian benih ini yaitu dengan memilah-milah benih murni, varietas lain dan kotoran dengan menggunakan tangan, jadi hanya mengandalkan indera perasa dan penglihatan saja. Cara ini banyak kelemahannya karena seperti kita ketahui kemampuan indera tiap orang berbeda-beda.
Pembersihan dengan mesin kegiatan utamanya meliputi scalping(tertuju pada material-material kasar), hulling (tertuju pada bagian-bagian yang lengket), shelling (tertuju pada pengelupasan kotoran yang ada di permukaan benih). Jadi pada dasarnya pembersihan fisik benih dari fisik kotoran dan material yang tidak diperlukan akan mengaburkan, mempengaruhi dan merusak kenurnian benih.
Pembersihan benih sangat perlu dilakukan sehubungan adanya perbedaan-perbedaan fisik dan sifat yang dapat mengaburkan kemurnian benih. Perbedaan-perbedaan seperti tekstur permukaan dan warna harus kita ambil yaitu yang menunjukkan kemurnian benih, sedang yang lainnya kita pisahkan sehingga yang tinggal menunjukkan kemurnian benih tersebut
Semakin baik mutu fisik benih, akan berpengaruh pada semakin baik muru genetis dan fisiologis. Sebab murni benih tersebut, maka daya kecambah dan campuran dari benih lain juga sedikit, sehingga karakter benih terjaga dan tumbuh dilapangan dengan optimal.

H.      Kesimpulan
Hal yang dapat disimpulkan dari hasil pengamatan diatas yaitu sebagai berikut.
1.      Kemurnian benih adalah tingkatan kebersihan benih dari materi-materi non benih/serasah, atau benih varietas lain yang tidak diharapkan. Biasanya kemurnian benih dinyatakan dalam persentase (%).
2.      Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen benih tersebut.
3.      Pengujian kemurnian benih secara fisik di laboratorium dilakukan dengan cara memisahkan contoh kerja benih ke dalam komponen-komponen benih, biji tanaman/varietas lain, biji gulma dan kotoran benih.
4.      Pada hasil pengujian kemurnian  benih padi, benih kacang hijau, dan benih kacang tanah pada data kelompok 29 memiliki presentase benih murni yaitu 79,1%, 95,57%, dan 91,86%.
5.      Karena kadar kemurnian benih padi pada data kelompok  padi  79,1%98,0% dari standar ISTA untuk benih murni maka benih padi yang diuji tidak memenuhi standar sebagai benih murni sedangkan benih biji kacang hijau dan kacang tanah 97,96% dan94,92%  mendekati standar ISTA untuk benih murni 98,0% maka kedua benih biji kacang tanah dan kacang hijau yang diuji memenuhi standar dengan kemurnian yang bagus
6.      Pada hasil pengujian kemurnian  benih padi, benih kacang hijau, dan benih kacang tanah pada data per gelombang memiliki persentase 76,77%, 95,88% dan 84,72%.



DAFTAR PUSTAKA

Harjadi, S.S., 1979. Pengantar Agronomi. Garmedia, Jakarta.
Justice, O.L. 2002. Prinsip Dan Praktek Penyimpanan Benih. Rajawali Press:  Jakarta.
Kamil, J. 1984. Teknologi Benih. Angkasa Raya : Bandung.
Kartasapoetra, A.G. 1992. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. Rineka Cipta: Jakarta.
Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Siregar, A. Z. 2005. Comparative anatomy and morphology of embryos and seedling of maize, oats, and wheat. Journal Cultura 40: 77-83.
Suharto, E. 2003. Struktur biji, sifat fisik biji, dan karakteristik benih kemiri(Aleurrites molluccana) provenan Karang Dapo. Jurnal Akta Agrosia 6: 23-29.
Sund dan Delouce. 2008. Relation of specific gravity to vigor and viability in rice seed. Proceeding of the AOSA 52 : 168.
Sutopo, L. 1984. Teknologi Benih. Penerbit CV. Rajawali, Jakarta.
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Raja Grafindo Persada. Jakarta.


EmoticonEmoticon