BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tanaman Wortel
Wortel merupakan jenis sayuran umbi semusim, sayuran ini telah menjadi sayuran terpopuler kedua di dunia setelah kentang yang mempunyai kandungan vitamin A yang tinggi. Wortel tergolong sebagai sayuran sumber serat makanan yang tinggi, merupakan sumber antioksidan alami, kandungan β-karoten wortel cukup tinggi, mudah diperoleh dan harganya cukup murah (Lesmana, 2013). Selain itu, wortel juga mengandung vitamin B, vitamin C, vitamin G serta zat-zat lain yang bermanfaat bagi kesehatan manusia (Herawati, 2012). Khasiat wortel cukup beragam, misalnya untuk meningkatkan kesegaran tubuh, menjaga kesehatan mata, mengantisipasi pembentukan edapan dalam saluran kencing, paru-paru, jantung, dan hati, serta berhasiat untuk memgantisipasi berbagai penyakit dan kecantikan. Wortel mengandung enzim pencernaan dan bersifat diuretic (mendorong produksi air seni). Daun wortel dapat menyembuhkan luka-luka dalam mulut, mengatasi bau mulut, gusi berdarah, dan sariawan ( Tafajani, 2011).
Tanaman wortel merupakan tanaman umbi yang termasuk dalam famili Umbelliferaedan memiliki nama latin Daucus carota L. Wortel merupakan tanaman rumput-rumputan, bentuk bunganya seperti payung, dan daun wortel mengeluarkan harum yang khas. Batang wortel pendek hamper tidak terlihat, berakar tumggang, dan sedikit berakar samping yang dangkal.
Tanaman ini merupakan bukan tanaman asli Indonesia, melainkan dari luar negeri yang beriklim sedang (sub tropis), dibudidayakan di lingkungan tumbuh dengan suhu udara yang dingin dan lembab (Taufika, 2011).
2.1.1. Klasifikasi Wortel
Dalam sistem tumbuh-tumbuhan (taksonomi), tanaman wortel diklasifikasikan sebagai berikut :
Devisio : Spermatophyta
Sub devisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Umbelliferales
Family : Umbelliferae
Genus : Daucus
Species : Daucus carota L
Susunan tubuh tanaman wortel terdiri atas daun dan tangkainya, batang dan akar. Secara keseluruhan wortel merupakan tanaman setahun, ang tumbuh tegak hingga 30-100 cm atau lebih (Cahyono, 2002 dalam (Keliat, 2008)).
2.1.2. Morfologi Tanaman Wortel.
2.1.2.1. Daun
Daun wortel bersifat majemuk menyirip ganda dua atau tiga, anak-anak daun berbentuk lanset (garis-garis). Setiap tanaman memiliki 5-7 tangkai daun yang berukuran agak panjang. Tangkai daun kaku dan tebal dengan permukaan yang halus, sedangkan helaian daun lemas dan tipis.
2.1.2.2 Batang
Batang tanaman wortel sangat pendek sehingga hampir tidak nampak, batang bulat, tidak berkayu, agak keras, dan berdiameter kecil (sekitar 1-1,5 cm). Pada umumnya batang berwarna hijau tua. Batang tanaman tidak bercabang, namun ditumbuhi oleh tangkai daun yang berukuran panjang, sehingga kelihatan seperti bercabang.
2.1.2.3. Akar
Tanaman wortel memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Dalam pertumbuhannya akar tunggang akan mengalami perubahan bentuk dan fungsi menjadi tempat penyimpanan cadangan makanan. Bentuk akar akan berubah menjadi besar dan bulat memanjang, hingga mencapai diameter 6 cm dan panjang sampai 30 cm, tergantung varietasnya. Akar tunggang yang telah berubah bentuk dan fungsi inilah yang sering disebut atau dikenal sebagai “Umbi Wortel”.
2.1.2.4. Bunga
Bunga tanaman wortel tumbuh pada ujung tanaman, berbentuk payung berganda, dan berwarna putih atau merah jambu agak pucat. Bunga memiliki tangkai yang pendek dan tebal. Kuntum-kuntum bunga terletak pada bidang yang sama. Bunga wortel yang telah mengalami penyerbukan akan menghasilkan buah dan biji-biji yang berukuran kecil dan berbulu (Cahyono, 2007).
2.1.2.5. Umbi
Wortel merupakan tanaman sayuran umbi semusim, berbentuk semak yang dapat tumbuh sepanjang tahun, baik pada musim hujan maupun kemarau. Batangnya pendek dan berakar tunggang yang fungsinya berubah menjadi bulat dan memanjang. Warna umbi kuning kemerah-merahan, mempunyai karoten A yang sangat tinggi, Umbi wortel juga mengandung vitamin B, Vitamin c dan mineral.
2.1.3. Jenis Wortel
Pada awalnya hanya dikenal beberapa varietas wortel, namun dengan berkembangnya peradaban manusia dan teknologi, saat ini telah ditemukan varietas-varietas baru yang lebih unggul daripada generasi-generasi sebelumnya. Menurut Lesmana (2013) bahwa tanaman wortel terbagi menjadi tiga kelompok yang didasarkan pada bentuk umbi, yaitu tipe Imperator, Chantenay, dan Nantes.
- Tipe Imperator memiliki umbi berbentuk bulat panjang dengan ujung runcing (menyerupai kerucut), panjang umbi 20-30 cm, dan rasa yang kurang manis sehingga kurang disukai oleh konsumen.
- Tipe Chantenay memiliki umbi berbentuk bulat panjang dengan ujung tumpul, panjang antara 15-20 cm, dan rasa yang manis sehingga disukai oleh konsumen.
- Tipe Nantes memiliki umbi berbentuk peralihan antara tipe Imperator dan tipe Chantenay, yaitu bulat pendek dengan ukuran panjang 5-6 cm atau berbentuk bulat agak panjang dengan ukuran panjang 10-15 cm.
2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Wortel
Wortel tumbuh secara optimal pada daerah dengan ketinggian tempat 1.000-2.000 meter diatas permukaan laut dengan suhu optimum 15-21 0C dan kelembaban 70-80. Wortel menyukai tanah gembur, pH tanah 5,5-6,5 dan tanah mengandung bahan organik. Jenis tanah andisols sangat cocok untuk menanam wortel karena tanahnya gembur, sedikit mengandung pasir, dan kandungan bahan organiknya tinggi (Dudy, 2011).
Wortel merupakan tanaman subtropics yang memerlukan suhu dingin (22-24 0C). Sekarang ini wortel sudah dapat ditanam di daerah berketinggian 600 m dpl. Tanah yang kurang subur masih dapat ditanami wortel asalakan dilakukan pemupukan intesif. Kebanyakan tanah dataran tinggi I ndonesia mempunyai pH rendah. Bila, demikian, tanah perlu dilakukan pengkapuran, karena tanah yang asam menghambat perkembangan umbi (Herawati, 2012).
2.2.1. Iklim
Tanaman wortel merupakan tanaman dataran tinggi yang permulaan tumbuh menghendaki cuaca dingin dan lembab yang dapat ditanaman sepanjang tahun baik musim kemarau maupun musim hujan. Pada pertumbuhan dan produksi umbi dibutuhkan suhu udara optimal antara 15,6 - 21,1 0C. Suhu udara yang terlalu tinggi (panas) seringkali menyebabkan umbi kecil-kecil (abnormal) dan berwarna pucat/kusam. bila suhu udara terlalu rendah (sangat dingin), maka umbi yang terbentuk menjadi panjang kecil.
2.2.2. Media Tanam
Keadaan tanah yang cocok untuk tanaman wortel adalah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik (humus), tata udara dan tata airnya berjalan baik (tidak menggenang). Jenis tanah yang paling baik adalah andosol. Jenis tanah ini pada umumnya terdapat di daerah dataran tinggi (pegunungan). Tanaman ini dapat tumbuh baik pada keasaman tanah (pH) antara 5,5-6,5 untuk hasil optimal diperlukan pH 6,0-6,8. Pada tanah yang pH-nya kurang dari 5,0, tanaman wortel akan sulit membentuk umbi. Demikian pula tanah yang mudah becek atau mendapat perlakuan pupuk kandang yang berlebihan, sering menyebabkan umbi wortel berserat, bercabang dan berambut (Lesmana, 2013).
2.5. Unsur Hara NPK
Setiap tanaman membutuhkan unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Terdapat beberapa unsur hara makro yaitu karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N),fosfor (P), kalsium (K), kalium (Ca), magnesium (Mg) dan belerang/sulfur (S) . Unsur hara makro N, P dan K merupakan hara yang harus tersedia dalam jumlah yang optimal untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan wortel. Unsur hara N adalah sebagai penyusn klorofil, bahan pembangun asam amino, asam nukleat, nukleo-protein, dan alkaloid. Unsur hara P berperan pada proses fisologi dan biokimia tanaman yaitu mengaktifkan proses metabolisme tanaman, mengatur keseimbangan senyawa pengatur tubuh endogen/alami, mengatur partisi dan tranlokasi fotosintat, dan keseimbangan antara pati dan sukrosa. Unsur hara K berfungsi sebgai aktivator 46 macam enzim, berperan dalam prosen fotosintesis, peningkatan indeks luas daun dan meningkatkan translokasi fotosintat dari sumber ke penerima (Shofarul et al,. 2017).
2.5.1. Unsur Hara Nitrogen (N)
Unsur hara primer ini adalah unsur hara yang harus tersedia bagi tanaman karena fungsinya tidak bisa tergantikan oleh unsur hara yang lain. Unusur N bermanfaat bagi bagi pertumbuhan vegetatif tanaman yaitu pembentukan sel-sel baru seperti daun, cabang dan mengganti sel-sel yang rusak (Febriangsih dan Kurniawan, 2009). Setyamidjaja (1986) mengatakan bahwa apabila tanaman kekurangan unsur N tanaman akan memperlihatkan pertumbuhan yang kerdil (abnormal). Unsur N terkandung dalam protein dan berguna untuk pertumbuhan pucuk daun, selain itu juga dapat menyuburkan bagian-bagian batang daun (Soewito, 1991). Pupuk yang mengandung unsur N, P, K yang cukup memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman merupakan salah satu faktor penting yang dibutuhkan oleh tanaman untuk proses pertumbuhan. Pendapat setyamidjaja (1986) bahwa unsur N berfungsi untuk memacu pertumbuhan vegetatif tanaman. Apabila kekurangan unsur N tanaman akan memperlihatkan pertumbuhan yang kerdil. Unsur N juga berguna bagi pembentukan klorofil dan kloroplas pada daun yang berguna bagi proses fotosintesis. Unsur P bersamaan dengan unsur N, akan memberikan peningkatan tinggi tanaman. Unsur N juga menurut Prasetyo et al. (2009) mengatakan bahwa unsur N bermanfaat untuk pertumbuhan vegetatif yaitu melalui pembentukan sel-sel baru. Nitrogen sebagai pembangun asam nukleat, protein, bioenzim, dan klorofil (Sumiati 1989).
2.5.2 Unsur Hara Fosfor (P)
Unsur P berfungsi sebagai bahan dalam proses fisiologi dan biokimia tanaman yaitu mengaktifkan metabolisme tanaman, mengatur keseimbangan senyawa pengatur tubuh endogen/alami, mengatur partisi dan translokai fotosintat, dan keseimbangan pati antara sukrosa (Sofarul, 2017). Nitrogen, P, dan K merupakan faktor penting yang harus selalu tersedia bagi tanaman, karena berfungsi sebagai proses metabolisme dan biokimia sel tanaman (Nurtika & Sumarni 1992). Fosfor sebagai pembangun asam nukleat, fosfolipid, bioenzim, protein, senyawa metabolik, dan merupakan bagian dari ATP yang penting dalam transfer energi (Sumiati 1983). Perbedaan hasil dapat dipengaruhi oleh perbedaan dosis pemberian N, P, dan K pada tiap perlakuan. Pemberian N, P, dan K memberikan jumlah cabang produktif yang maksimal (Purnomo et al. 2013). Fosfor berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman, merangsang pembungaan dan pembuahan, merangsang pertumbuhan akar, merangsang pembentukan biji, merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel. Tanaman yang kekurangan unsur P akan menimbulkan gejala pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan (kurang sehat).
2.5.3. Unsur Hara Kalium (K)
Uunsur K merupakan salah satu unsur makro yang dibutuhkan dalam keadaan stabil untuk memperkokoh batang tanaman (Harahap, 1993). Unsur K berperan dalam pembentukan karbohidrat sehingga bobot umbi meningkat (Wargino, 1980 dalam Taufik 2011. Kalium berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air, juga dapat meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit. Tanaman yang kekurangan unsur K akan menimbulkan gejala batang dan daun menjadi lemasdan cepat rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun.
EmoticonEmoticon