BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hortikultura adalah salah satu bidang pertanian yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan pangan nasional. Wortel (Daucus carota L.) merupakan salah satu produk sayuran yang diminati oleh kebanyakan masyarakat, sehingga permintaan terhadap komoditas ini sangat tinggi baik di dalam negeri maupun di luar negeri (Cahyono, 2002). Hasil dari penelitian diketahui bahwa tanaman wortel memiliki kandungan senyawa aktif, yaitu protein, karbohidrat, lemak, gula alamiah, pektin, glutanin, asparaginin, geraniol, flavonoida, piena, limonene dan beta karotin. Karotin memberikan karakteristik warna jingga pada umbi wortel (Suojala, 2000). Berdasarkan data dari USDA (2007), bahwa 100 gram sayuran wortel mentah mengandung kandungan gizi antara lain energi 173 Kj (41 Kcal); karbohidrat 9,6 g; gula total 4,7 g; serat 2,8 g; lemak nabati 0,24 g; protein 0,93 g; kalsium 33 mg (3%); besi 0,3 mg (2%); magnesium 12 mg (3%); mangan 0,143 mg (7%); fosfor 35 mg (5%); kalium 320 mg (7%); seng 0,24 mg (3%); natrium 69 mg (5%); tiamin (vit. b1) 0,066 mg (6%); riboflavin (vit. b2) 0,058 mg (5%); niacin (vit. b3) 0,983 mg (7%); pantothenik acid (b5) 0,273 mg (5%); vitamin B6 0,138 mg (11%); asam folat (vit. b9) 19 µg (5%); vitamin A setara dengan 835 µg (104%); vitamin C 5,9 mg (7%); vitamin E 0,66 mg (4%); dan vitamin K 13,2 µg (13%).
Produksi tanaman wortel di Indonesia pada lima tahun terakhir berfluktuasi yaitu dari 465.534 ton pada tahun 2012 lalu meningkat menjadi, 512.112 ton pada tahun 2013. Namun menurun menjadi 495.800 ton pada tahun 2014. Produksi tersebut meningkat kembali pada tahun 2015 menjadi 522.529 ton dan pada tahun 2016 mencapai 537.526 ton. Mekipun demikian produksi wortel tersebut masih rendah. Di Nusa Tenggara Barat pada lima tahun yang sama juga berfluktuasi dari produksi tahun 2012 yang mencapai 1.493 ton meningkat pada tahun 2013 menjadi 3.274 ton. Namun setelah itu menurun menjadi 2.567 ton pada tahun 2016 (BPS, 2018). Artinya bahwa produksi tersebut cendrung menurun. Disisi lain kebutuhan terhadap sayuran wortel diduga akan mengalami peningkatan pada tahun-tahun mendatang disebabkan oleh beberapa hal yaitu peningkatan jumlah penduduk, berkembangnya Indonesia dan Nusa Tenggara Barat sebagai daerah tujuan wisata dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya nilai gizi. Maka untuk mencukupi kebutuhan tersebut dibutuhkan upaya untuk mempertahankan produksi yang sudah dihasilkan serta upaya untuk meningkatkan produksi (Taufika, 2011). Terbatasnya areal penanaman di dataran tinggi membuka peluang untuk mengembangkan wortel di dataran medium dan dataran rendah sebagai upaya perluasan wilayah penanamannya. Mardin dan Dewanto (2013) menunjukkan bahwa ekstensifikasi tanaman wortel ke dataran rendah dapat dilakukan dengan perlakuan tertentu untuk memodifikasi lingkungan mikro di dataran medium serta pemilihan varietas yang sesuai.
Wortel adalah tanaman yang berasal dari negara beriklim sub tropis dan bukan termasuk tanaman asli Indonesia. Karenanya, budidaya wortel selama ini berkembang di dataran tinggi. Ketinggian tempat ini berhubungan dengan kebutuhan tanaman wortel terhadap suhu. Pertumbuhan umbi dengan kualitas yang baik terjadi pada suhu 180C sampai 210C. Suhu di atas 300C dapat menyebabkan pertumbuhan daun menurun dan menurunkan kualitas umbi (Nunez et al, 2008). Menurut Wangsitala et. al (2015), bahwa suhu yang optimal untuk pertumbuhan umbi wortel berkisar antara 180C sampai 240C. Suhu di atas kisaran tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan umbi yang abnormal. Suhu tinggi juga mempengaruhi warna umbi yang dihasilkan pada daerah tersebut menjadi kusam atau pucat. Meskipun demikian terdapat varietas wortel yang dapat dibudidayakan di dataran medium.
Terdapat tiga tipe wortel yaitu tipe Imperator, tipe Chantenery dan tipe Nantes. Tipe wortel yang disukai oleh konsumen adalah tipe Nantes karena memiliki warna oranye gelap, bentuk bulat tumpul, dan diameter umbi dari atas ke bawah hampir sama (Lesmana, 2013). Pada saat ini di pasar tersedia varietas wortel tipe Nantes antara lain varietas New Nantes berasal dari Korea, varietas New Kuroda dari Jepang dan varietas Lokal Berastagi yang merupakan varietas lokal Indonesia yang diproduksi di Berastagi dan benihnya dihasilkan oleh BBI Kuta Gadung, Sumatra Utara. Departemen Pertanian RI (2015) menyatakan bahwa varietas New Nantes dan New Kuroda dapat tumbuh di dataran medium dengan ketinggian 300-800 m dpl. Selain itu Mardin et al. (2009), menunjukkan bahwa varietas New Kuroda mampu tumbuh normal dan menghasilkan umbi saat dibudidayakan di dataran rendah (110 m dpl), meskipun kualitasnya belum optimal.
Setiap tanaman membutuhkan unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Terdapat 16 unsur hara esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Adapun unsur hara makro ada 9 macam yaitu karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), fosfor (P), kalsium (K), kalium (Ca), magnesium (Mg) dan belerang/sulfur (S) . Unsur hara makro N, P dan K merupakan hara yang harus tersedia dalam jumlah yang optimal untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur hara N adalah sebagai penyusun klorofil, bahan pembangun asam amino, asam nukleat, nukleo-protein dan alkaloid. Unsur hara P berperan pada proses fisologi dan biokimia tanaman yaitu mengaktifkan proses metabolisme tanaman, mengatur keseimbangan senyawa pengatur tubuh endogen/alami, mengatur partisi dan translokasi fotosintat dan keseimbangan antara pati dengan sukrosa. Unsur hara K berfungsi sebagai aktivator 46 macam enzim, berperan dalam prosen fotosintesis, peningkatan indeks luas daun dan meningkatkan translokasi fotosintat dari sumber ke penerima (Shofarul et al. 2017).
Dosis optimum penambahan unsur hara N, P dan K tergantung pada varietas tanaman, kondisis hara tanah, media budidaya dan teknologi budidaya yang dilakukan. Firmansyah et al,. (2016) menunjukkan dosis pupuk NPK (16:16:16) sebanyak 300 kg/ha sesuai dengan budidaya wortel varietas Royal Chantenery, Nantes Improved, Flaker Giant Cisarua dan Batu di dataran rendah. Selain itu, Khoir (2017) menunjukkan bahwa kombinasi 100 % pupuk NPK dengan 100 % kompos kelinci meningkatkan produksi menjadi 35,89 ton/ha. Kombinasi dari 16,11 (tanpa kompos kelinci + NPK), 50 % kompos kelinci dan 50 % NPK, 75 % kompos kelinci dan 100 % NPK , serta 75 % kompos kelinci dan 25 % NPK meningkat produksi sebesar 28,41 %. Perbedaan dosis pupuk disebabkan oleh perbedaan karaktristik varietas terhadap asupan nutrisi yang dibutuhkan, ketersediaan unsur hara pada lokasi budidaya.
Dengan demikian karena masih sedikit informasi yang tersedia untuk perkembangan wortel varietas Nantes di dataran medium khususnya di NTB dan kesesuaian pemberian dosis pupuk NPK. Maka perlu dilakukan penelitian dengan judul “Uji Daya Hasil Tiga Varietas Wortel Terhadap Berbagai Dosis Pupuk NPK di Dataran Medium”. Sehingga dari hasil yang diharapkan dapat diketahaui dosis pupuk yang tepat untu wortel khususnya tipe Nnates dengan tiga varietas tersebut yang dibudidayakan di dataran medium.
1.2. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil tiga varietas wortel pada berbagai dosis pupuk NPK di dataran medium.
1.3 Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dosis pupuk yang optimal pada budidaya tiga varietas wortel di dataran medium.
2. Sebagai tambahan informasi dalam menentukan dosis pupuk NPK pada budidaya di dataran medium.
3. Sebagai bahan informasi dalam mengembangkan budidaya wortel khususnya tipe Nantes di dataran medium.
1.4 Hipotesis
HO : Tidak terdapat perbedaan daya hasil tiga varietas wortel dengan berbagi dosis pupuk NPK di dataran medium.
V1D1=V1D2=V1D3=V2D1=V2D2=V2D3=V3D1=VV3D2=V3D3
H1 : Terdapat perbedaan daya hasil tiga varietas wortel dengan berbagai dosis pupuk NPK di dataran medium.
V1D1=V1D2=V1D3=V2D1=V2D2=V2D3=V3D1=VV3D2=V3D3
EmoticonEmoticon