-->

LAPORAN STRUKTUR DAN TIPE KECAMBAH PRAKTIKUM ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH

 

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU DAN TEKNOLOGI BENIH

ACARA V. STRUKTUR DAN TIPE KECAMBAH



A.      Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui struktur kecambah dan dapat membedakan tipe-tipe perkecambahan beberapa jenis tanaman serta dapat mengamati perubahan dalamfase-fase perkecambahan benih.

B.       Pelaksanaan Praktikum

1.      Hari/tanggal praktikum :

Senin, 21 November 2017 pukul 12.30 – 14.00 WITA.

2.      Tempat praktikum         :

Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih, Gedung E, Lantai 3, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram.

C.    Tinjauan Pustaka

Permulaan kehidupan tumbuhan terjadi karena pertumbuhan radikal dan plumula yang bermula dari biji dan masih hidup dari persediaan makanan yang terdapat dalam biji seperti endosperm maupun kotiledon dan inilah yang disebut dengan perkecambahan. Pada monokotil, kotiledon penting dalam penyerapan makanan, sedangkan endosperm berfungsi sebagain jaringan penyimpanan makanan. Pada dikotil, endosperma dicerna sepenuhnya sebelum benih berkecambah dan kotiledonnya tetap sampai bibit mampu berfotosintesis (Tjitrosoepomo, 1985).

Perkecambahan biji dapat dibedakan menjadi 2, yaitu perkecambahan epigeal dan hipogeal. Perkecambahan epigeal terjadi jika adanya pemanjangan ruas batang di bawah daun lembaga (hipokotil) sehingga mengakibatkan daun lembaga dan kotiledon terangkat ke atas permukaan tanah. Perkecambahan hipogeal terjadi jika adanya pemanjangan ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi kotiledon tetap di bawah tanah (Pratiwi 2006).

Metabolisme perkecambahan dipaparkan oleh Sutopo (2002) melalui 5 tahap. Tahap pertama sampai kelima secara berturut-turut, dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi protoplasma, kemudian dilanjutkan oleh kegiatan enzim dan selserta naiknya tingkat respirasi pada benih. Kemudia terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak, dan protein menjadi bentuk-bentuk yang terlarut dan di translokasikan ke titik tumbuh. Asimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik untuk menghasilkan energi bagi kegiatan pembentukan komponen dan pertumbuhan sel-sel baru. Pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran, dan pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh.

Faktor dalam (internal) yang mempengaruhi perkecamabahan yang dinyatakan oleh Pratiwi (2006) adalah gen yang diturunkan pada keturunannya dan berfungsi untuk mengontrol reaksi kimia didalam sel, persediaan makanan dalam biji berfungsi untuk mendukung embrio  maupun tanaman yang masih muda sebelum tanaman sehingga mampu memproduksi zat makanan sendiri, hormon memberikan kemampuan dinding sel untuk mengembang sehingga sifatnya menjadi elastis untuk mempermudah imbibisi. Ashari (1995) juga mengatakan bahwa semakin besar dan semakin keras bijinya maka air akan sulit untuk masuk ke dalam biji sehingga imbibisi teerhambat. Dormansi adalah suatu keadaan pertumbuhan yang tertunda atau keadaan istirahat, setiap benih tanaman memiliki masa dormansi yang berbeda-beda yang dimana ini dinyatakan oleh Gardner (1991).

Sedangkan faktor luar (eksternal) yang mempengaruhi perkecambahan, antara lain yaitu air yang berfungsi sebagai pelunak kulit bji, melarutkan cadangan makanan, sarana transportasi serta bersama hormon mengatur elurgansi (pemanjangan) dan pengembangan sel. Benih dapat berkecambah pada temperatur optimum yaitu 20,5°C sampai 35°C. Oksigen berfungsi untuk meningkatkan proses respirasi yang dimana jika berjumlah sedikit akan menghambat perkecambahan benih. Benih yang dikecambahkan pada keadaan yang sangat kurang cahaya atau gelap akan menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi (Sutopo. 2002).

Penyerapan air oleh benih yang terjadi dijelaskan oleh Sutopo (2002) yaitu pada tahap pertama yang terjadi sampai jaringan mempunyai kandungan air 40-60% dan akan terus meningkat pada awal munculnya radikula sampai jaringan penyimpanan dan kecambah yang sedang tumbuh mempunyai kandungan air 70-90%. Kira-kira 80% dari protein yang biasanya terbentuklah kristal yang kemudian disimpan dalam jaringan yang disebut badan protein yang kemudian sisanya 20% terbagi dalam nukleus, mitokondria, protoplastid, mikrosom, dan dalam sitosol.

D.      Bahan dan Alat Praktikum

1.      Bahan Praktikum

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut.

a.       Air

b.      Benih jagung (Zea mays)

c.       Pasir

2.      Alat Praktikum

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut.

a.       Bak Kecambah (bak plastik)

b.      Cawan petri

E.       Cara Kerja

Adapun langkah kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut.

1.      Diisi bak persemaian dengan pasir sampai ¾ tinggi bak, kemudian disiram air sampai lembab.

2.      Ditanam benih jagung dan sebanyak 25 butir pada masing-masing bak plastik.

3.      Dibuat lubang tanam sedalam 1 cm.

4.      Dirawat dan diamati setiap hari setelah tanam.

5.      Dihitung setiap hari tanaman yang berkecambah.

6.      Dicabut masing-masing 3 benih setiap harinya yang berkecambah kemudian diukur panjang radikula, panjang plumula dan jumlah benih berkecambah dan dicatat hasilnya.

F.       Hasil Pengamatan

Tabel 1. Hasil pengamatan struktur tipe kecambah jagung

HP

a (cm)

b (cm)

c (benih)

1

0

0

0

2

2,13

0,36

10

3

3,17

2,77

13

4

7,9

8,9

13

5

6,76

9,1

13

6

13,4

15,2

13

7

3,3

25

16

Total

36,66

61,33

78

Rata-rata

5,24

8,76

11,14

Ket:

HP     : Hari Pengamatan

a        : panjang radikula

b        : panjang plumula

c        : jumlah benih yang berkecambah


Grafik 1. Kecambah Benih Jagung

Grafik pertambahan kecambah benih jagung

G.      Pembahasan

Dari kegiatan praktikum ini bertujuan untuk mengetahui struktur kecambah dan dapat membedakan tipe perkecambahan beberapa jenis tanaman serta dapat mengamati perubahan dalam fase-fase perkecambahan benih. Dari hasil pengamatan diatas diperoleh panjang akar, panjang radikula, dan jumlah benih yang berkecambah pada tanaman jagung menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Untuk hari pengamatan pertama jagung didapatkan hasil panjang radikula dan panjang plumula, serta jumlah benih yang berkecambah adalah 0 benih. Untuk hari pengamatan kedua didapatkan hasil panjang radikula kecambah jagung yaitu 2,13 cm, panjang plumula 0,36 cm dan jumlah benih yang berkecambah adalah 10 benih. Untuk hari pengamatan ketiga jagung didapatkan hasil panjang radikula yaitu 3,17 cm dan panjang plumula yaitu 2,77 cm, serta jumlah benih yang berkecambah adalah 0 cm. Untuk hari pengamatan keempaat jagung didapatkan hasil panjang radikula yaitu 3,7,9 cm dan panjang plumula yaitu 8,9 cm, serta jumlah benih yang berkecambah adalah 0 cm. Untuk hari pengamatan kelima didapatkan hasil panjang radikula kecambah jagung yaitu 2,13 cm, panjang plumula 0,36 cm dan jumlah benih yang berkecambah adalah 10 benih.

Struktur biji pada jagung terdiri dari selaput biji, endosperm, skutelum, lapisan aleuron, koleoptil, plumula, akar seminal, radikula, koleoriza, embryonic axis atau pangkal embrio, dan embrio. Tipe kecambah pada tanaman jagung yaitu hipogeal yang dimana hipogeal adalah kecambah yang kotiledonnya atau endospremanya tetap didalam tanah sewaktu proses perkecambahan. Seperti yang kita ketahui umumnya jagung mempunyai pola pertumbuhan yang sama, namun interval waktu antartahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda. Pada setiap hari pengamatan, terjadi perbedaan pertumbuhan setiap kecambah dikarenakan pengaruh fitohormon, terutama hormon auksin yang sangat peka terhadap cahaya matahari. Bila terkena cahaya matahari, hormon ini akan terurai dan rusak. Pada keadaan yang gelap, hormon auksin ini tidak terurai sehingga akan terus memacu pemanjangan batang dan sebaliknya pada keadaan terang akan memacu hormon auksin untuk terus memanjangkan bagian-bagian dari kecambah seperti plumula dan radikula.

Faktor penentu pertumbuhan dapat dikategorikan ke dalam faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu berupa gen atau pembawa sifat yang mempengaruhi ciri dan sifat makhluk hidup dimana pada tanaman mempengaruhi bentuk tubuh, warna bunga, dan rasa buah. Hormon merupakan zat yang berperan dalam mengendalikan berbagai fungsi di dalam tubuh misalnya seperti auksin yang berperan untuk memacu proses pemanjangan, pembelahan, dan diferensiasi sel dan giberlin yang berperan untuk pembentukan biji serta perkembangan dan perkecambahan embrio. Faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuahn yaitu nutrisi yang merupakan bahan baku dan sumber energi dalam proses metabolisme tubuh. Cahaya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, serta untuk melakukan fotosintesis. Air dan kelembaban merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Suhu berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kemudian akan berkembang dengan optimal bila kondisi tanah tempat hidupnya sesuai dengan kebutuhan nutrisi dan unsur hara.

Kita mengukur tanaman jagung untuk mengetahui pertumbuhan tanaman jagung sehingga kita dapat membuktikan teori pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu fase perkecambahan saat proses imbibisi air yang ditandai dengan pembengkakan biji sampai dengan sebelum munculnya daun pertama, fase pertumbuhan vegetatif yaitu fase mulai munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnya bunga betina (silking), fase ini diidentifiksi dengan jumlah daun yang terbentuk dan fase reproduktif yaitu fase pertumbuhan setelah silking sampai masak fisiologis.

Perkecambahan benih jagung terjadi ketika radikula muncul dari kulit biji. Benih jagung akan berkecambah jika kadar air benih pada saat di dalam tanah meningkat >30% (McWilliams et al. 1999). Proses perkecambahan benih jagung, mula-mula benih menyerap air melalui proses imbibisi dan benih kemudian membengkak diikuti oleh kenaikan aktivitas enzim dan respirasi yang tinggi. Perubahan awal yang terjadi sebagian besar adalah katabolisme pati, lemak, dan protein yang tersimpan dihidrolisis menjadi zat-zat yang mobil, gula, asam-asam lemak, dan asam amino yang dapat diangkut ke bagian embrio yang tumbuh aktif.

Pada awal perkecambahan, koleoriza memanjang menembus pericarp, kemudian radikel menembus koleoriza. Setelah radikelmuncul, kemudian empat akar seminal lateral juga muncul. Pada waktu yang sama atau sesaat kemudian plumule tertutupi oleh koleoptil. Koleoptil terdorong ke atas oleh pemanjangan mesokotil, yang mendorong koleoptil ke permukaan tanah. Mesokotil berperan penting dalam pemunculan kecambah ke atas tanah. Ketika ujung koleoptil muncul ke luar permukaan tanah, pemanjangan mesokotil terhenti dan plumul muncul dari koleoptil dan menembus permukaan tanah.

Kurva sigmoid adalah kurva yang menunjukkan pertumbuhan cepat pada fase vegetatif sampai titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan akhirnya menurun pada fase senesen. Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Tiga fase utama yang biasanya mudah kita kenali yaitu fase logaritmik, fase linier dan fase penuaan. Pada fase logaritmik ini berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Pada hasil pengamatan fase ini terjadi dari hari pertama pengamatan sampai pada hari ketiga dari 0 cm sampai 3,17 cm pada panjang radikula, dari 0 sampai 2,77 cm pada panjang plumula, dan benih yang berkecambah 13. Semakin besar organisme, semakin cepat ia tumbuh. Kemudian pertumbuhan dengan meningkat tajam pada hari keempat sampai keenam yaitu panjang radikula dan plumula meningkat berturut-turut hingga mencapai 13,4 cm dan 15,2 cm, sedangkan jumlah benih yang berkecambah adalah tetap 13. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun, saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua. Pada pengamatan fase ini telah terlihat pada hari pengamatan ketujuh yaitu panjang radikula dan plumula berturut-turut mencapai 3,3 dan 25, sedangkan jumlah benih yang berkecambah bertambah menjadi 16 benih. Data hasil pengamatan tersebut kemudian tergambar dalam sebuah grafik, kurva yang dihasilkan sedikit menyerupai huruf S.

H.      Kesimpulan

Hal yang dapat disimpulkan dari hasil pengamatan diatas yaitu sebagai berikut.

1.      Struktur biji pada jagung terdiri dari selaput biji, endosperm, skutelum, lapisan aleuron, koleoptil, plumula, akar seminal, radikula, koleoriza, embryonic axis atau pangkal embrio, dan embrio.

2.      Tipe kecambah pada tanaman jagung yaitu hipogeal yang dimana hipogeal adalah kecambah yang kotiledonnya atau endospremanya tetap didalam tanah sewaktu proses perkecambahan.

3.      Faktor penentu pertumbuhan dapat dikategorikan ke dalam faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu berupa gen dan hormon. Faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuahn yaitu nutrisi, cahaya, air dan kelembaban, suhu, dan tanah.


DAFTAR PUSTAKA

 

Ashari, Sumaru.1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI Press ; Jakarta

Gardner, F.P. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Universitas Indonesia. Jakarta.

Pratiwi, D. A., Bambang S., Sri Maryati, Srikini, Suharno. 2007. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Sutopo, Lita. 2002. Teknologi Benih. Malang. Fakultas Pertanian UNBRAW.

Sutopo, Lita. 2002. Teknologi benih. Rajawali Press. Jakarta.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. UGM Press. Yogyakarta.


LAMPIRAN

 







EmoticonEmoticon