
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu diawali dari rasa ingin tahu, kemudian meningkatnya rasa ingin tahu, yang mendorong sesorang untuk berfikir dan ingin mencari tahu, maka dari itu pada praktikum kali ini berjudul asam amino, peptida, dan protein, dimana protein sangat penting dalam kehidupan, dan terdapat pada semua sel hidup, yang berfungsi sebagai pembangun struktur, biokatalis, hormon, sumber energi, dan bahkan pembawa sifat dari generasi-kegenerasi.
Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Suatu molekul protein disusun oleh sejumlah asam amino tertentu dengan susunan yang sudah tertentu pula dan bersifat turunan (Girindra, 1986).
Struktur protein dapat dikelompokkan menjadi empat kelas, yaitu struktur primer, sekunder, tersier dan kwartener. Keempat struktur tersebut pada dasarnya dibedakan atas jenis dan jumlah ikatan/interaksi kimia. Untuk mengidentifikasi protein berdasarkan ikatan peptidanya dilakukan beberapa uji. Uji –uji yang dilakukan adalah Uji Penentuan Konsentasi Protein Cara Biuret, Reaksi Pengendapan, dan Reaksi Perubahan Warnayang meliputi Uji Biuret, Xantoprotein, Millon, Ninhidrin, dan Sulfur (Tarigan, Ponis. 1983).
Terdapat berbagai cara dalam pengujian terhadap protein yaitu dengan reaksi uji asam amino dan reaksi uji protein. Reaksi uji asam amino sendiri terdiri dari uji millon, uji sulfur, uji xantroproteat, uji ninhidrin dan uji biuret. Pada uji asam amino terdapat uji bersifat umum dan uji berdasakan jenis asam aminonya. Seperti halnya uji millon bersifat spesifik terhadap tirosin, uji biuret bereaksi positif terhadap pembentukan senyawa kompleks Cu gugus –CO dan –NH dari rantai peptida dalam suasana basa. Serta uji xantroproteat bereaksi positif untuk asam amino yang mengandung inti benzena.
Oleh karena itu, untuk membuktikan teori-teori yang ada tentang protein maka kami melakukan beberapa percobaan. Diantaranya, Uji penentuan konsentrasi cara biuret dilakukan untuk mengetahi perbedaan konsentrasi terhadap suatu larutan sedangkan reaksi perubahan warna dilakukan untuk melihat protein yang dikandung pada setiap percobaan dengan mengamati perubahan warna yang terjadi pada setiap percobaan.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
a. Mengetahui konsentrasi protein total yang terdapat pada sampel.
b. Mempelajari beberapa reaksi uji terhadap asam amino dan protein.
c. Membuktikan kandungan yang ada pada asam amino, peptide dan protein melalui uji biuret, uji xantoprotein, uji molisch, uji ninhidrin, dan uji sulfur, dan uji sakaguchi.
C. Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari paktikum ini adalah dapat memberi wawasan yang lebih luas dan keterampilan yang lebih baik kepada Mahasiswa khususnya mengetahui kebenaran dari teori-teori tentang kandungan unsur-unsur yang ada pada protein. Pembuktikan kebenaran dari teori-teori tentang kandungan yang ada pada asam amino, peptide dan protein melalui uji biuret, uji xantoprotein, uji molisch, uji ninhidrin, dan uji sulfur, dan uji sakaguchi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sebagian besar ilmu kimia organisme hidup menyangkut 5 golongan senyawa utama, yaitu: karbohidrat, lipida, mineral, asam nukleat dan protein. Protein menentukan kebanyakan sifat-sifat yang ditemukan dalam kehidupan. Menurut (Ngili, 2010) Protein memiliki berbagai fungsi biologis yang berbeda-beda yaitu, Katalis enzim, Transport dan penyimpanan, Fungsi mekanik, Pergerakan, Pelindung dan Proses informasi.
Protein utama merupakan makro molekul yang paling berlimpah didalam sel dan menyusul lebih dari setengah berat kering pada hampir semua organisme. Protein merupakan instrument yang mengekspresikan informasi genetik. Seperti juga terdapat ribuan gen didalam inti sel. Masing-masing mencirikan suatu sifat nyata dari organisme, didalam sel terdapat ribuan jenis protein yang berbeda. Masing-masing membawa fungsi spesifik yang dibentuk oleh gen yang sesuai. Protein, karenanya bukan hanya merupakan makromolekul yang berlimpah. Tetapi juga amat bervariasi. Protein adalah suatu zat dalam susunan kimianya mengandung unsur-unsur oksigen, karbon, hydrogen, nitrogen dan kadang-kadang mengandung unsur-unsur lain seperti sulfur dan fosfor (Girindra, 1986).
Asam amino merupakan satuan penyusun protein. Berdasarkan rumus bangunnya asam amino dapat dipandang sebagai turunan karboksilat, yang salah satu hidrogenya diganti oleh gugus amino (-NH3). Protein dapat dipecah kembali menjadi asam amino, yaitu dengan memakai asam, basa, ataupun hidrolisis dengan enzim. Asam amino tergolong amfoter yaitu dapat bereaksi asam atau basa (Hala, 2011).
Menurut Lehninger, 1997 tidak semua asam amino yang terdapat dalam molekul protein dapat dibuat dalam tubuh kita. Jadi ditinjau dari segi pembentukannya asam amino dapat dibagi dalam dua golongan yaitu sebagai berikut :
1. Asam amino esensial ( yang tidak dapat dibentuk dalam tubuh). Asam amino yang termasuk dalam kelompok esensial adalah isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan dan valin.
2. Asam amino nonesensial (yang dapat dibentuk dalam tubuh dan harus diperoleh dari makanan sumber protein). Asam amino yang termasuk dalam kelompok nonesensial adalah arginin, histidin, asam glutamate, asama aspartat, glutamine, prolin, asparagin, alamin, glisin, serin dan sistein.
Proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi sebagai biokatalis. Di samping itu hemoglobin dalam butir darah merah (eritrosit) yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh adalah salah satu jenis protein. Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim (Fessenden. 1986).
Protein adalah molekul penyusun tubuh kita yang terbesar setelah air. Hal ini mengindikasikan pentingnya protein dalam menopang seluruh proses kehidupan dalam tubuh. Dalam kenyataannya, memang kode genetik yang tersimpan dalam rantaian DNA digunakan untuk membuat protein, kapan, dimana dan seberapa banyak. Protein berfungsi sebagai penyimpan dan pengantar seperti hemoglobin yang memberikan warna merah pada sel darah merah kita, bertugas mengikat oksigen dan membawanya ke bagian tubuh yang memerlukan. Selain itu juga menjadi penyusun tubuh, "dari ujung rambut sampai ujung kaki", misalnya keratin di rambut yang banyak mengandung asam amino Cysteine sehingga menyebabkan bau yang khas bila rambut terbakar karena banyaknya kandungan atom sulfur di dalamnya, sampai kepada protein-protein penyusun otot kita seperti actin, myosin, titin, dsb. Kita dapat membaca teks ini juga antara lain berkat protein yang bernama rhodopsin, yaitu protein di dalam sel retina mata kita yang merubah photon cahaya menjadi sinyal kimia untuk diteruskan ke otak. Masih banyak lagi fungsiprotein seperti hormon, antibodi dalam sistem kekebalan tubuh, dll (Witarto, 2001).
Menurut Poedjiaji, 2007 pemeriksaan protein umumnya berdasarkan reaksi warna. Reaksi ini adalah reaksi-reaksi khas protein yang berdasarkan ikatan peptide maupun adanya sifat-sifat tertentu dari asam amino yang dikandungnya. Beberapa reaksi-reaksi khusus protein yaitu:
1. Uji xantoprotein, reaksi yang terjadi adalah nitrasi pada inti benzene yang terdapat pada molekul protein. Reaksi positif ditandai dengan timbulnya warna kuning dan negative selain warna kuning.
2. Uji biuret, reaksi ini umumnya untuk peptide dan protein, termasuk diantaranya hasil hidrolisis protein seperti metaprotein, protease, pepton, polipeptida, kecuali asam amino. Reaksi positif terjadi dengan adanya warna ungu atau merah muda akibat terjadinya senyawa antara Cu dan N dari air. Bila ikatan peptide panjang warnanya ungu sebaliknya bila pendek warnanya merah muda.
3. Uji millon, reaksi millon adalah larutan merkuro atau merkuri nitrat dalam asam nitrat. pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena tebentuk senyawa merkuri dengan gugus hidriksi fenil yang berwarna (merah terang). Protein yang mengandung tyrosin akan memberikan hasil positif. Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna. Protein yang mengandung tirosin akan memberikan hasil positif.
4. Uji sulfur, untuk menguji sulfur yng terkandung dalam asam amino. Reaksi positif ditandai dengan warna coklat dan hitam.
5. Uji ninhidrin, untuk mengtahui dekarboksilasi oksidatif dan α-amino. Ninhidrin adalah suatu oksidator yang menyebabkan dekarboksilasi oksidatif dari α-amino yang menghasikan CO2, NH3, dan aldehid dengan kehilangan 1 atom karbon.warna biru terjadi berhubungan reaksi ninhidrin menghasilkan aldehid yang rendah dan melepaskan CO2 dan amoniak.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Jum’at dan Sabtu/ 4 dan 5 November 2015
Waktu : Pukul 09.10-11.00 dan Pukul 14.00-16.00 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi Lantai II Sebelah Timur FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
a. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:
a) Uji Penentuan Konsentrasi Cara Biuret
1. Rak Tabung 1 buah
2. Cuvet 2 buah
3. Tabung reaksi 3 buah
4. Pipet tetes
5. Gelas kimia 100 ml
6. Spetrofotometer
7. Vortex
b) Uji Pengendapan
1. Tabung reaksi 5 buah
2. Pipet tetes 6 buah
3. Rak tabung
4. Lap halus
5. Bunsen
6. Penjepit tabung
7. Gelas ukur
c) Reaksi Perubahan Warna
1. Rak Tabung
2. Tabung reaksi 5 buah
3. Bunsen
4. Penjepit tabung
5. Korek api
6. Tissue
b. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu:
a) Uji Penentuan Konsentrasi Cara Biuret
1. Larutan protein baku (konsentrasi 0, 2, 4, 6, dan 8 ppm)
2. Larutan protein tidak baku (sampel X1 dan X2)
3. Reagen biuret
4. Alkohol 96 %
5. Aquades
6. Tissue
b) Uji Pengendapan
1. Asam Fosfotungstat
2. Asam Fosmolibdat
3. Asam Trikoloroasetat
4. Alhokol 96%
5. Reagen Perak Nitrat
6. FeCl
7. Tembaga Sulfat
8. Amonium Sulfat
c) Reaksi Perubahan Warna
1. Larutan NAOH 10% dan 40%
2. Larutan CuSO4
3. Larutan HNO3 pekat
4. Albumin
5. NaNO3
6. Aquades
7. Pb asetat
8. Bahan uji yang terdiri atas pepton, putih telur, ekstrak tempe, dan ekstrak tauge.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
Uji Konsentrasi dan Uji Pengendapan Protein
1. Penentuan konsentrasi protein cara biuret
NO | KONSENTRASI | TRANSMITAN | ABSORBANSI |
1 | 0% | - | 0,84 |
2 | 25% | - | 0,67 |
3 | 50% | - | 0,42 |
4 | 75% | - | 0,44 |
5 | X1 (Putih Telur) | 1.23 | 1,.92 |
6 | X2 (kuning telur) | 2,5 | 1,61 |
7 | X3 (pepton) | 0,5 | 2,30 |
2. Uji Pengendapan Alkohol
No. | Reagen Alkohol Pekat | 0% | 25% | 50% | 75% | ||||
T | H | T | H | T | H | T | H | ||
1 | Asam Trikloroasetat | 170’ | 171’ | 10 | 150’ | 14 | 245’ | 10 | 149 |
2 | Asam Fosfotungstat | 200’ | 208’ | 7 | 150’ | 14 | 150’ | 10 | 150’ |
3 | Asam Fosmolibdat | 150’ | 152’ | 15 | 160’ | 11 | 150’ | 10 | 150’ |
4 | Alkohol 96% | 160’ | 175’ | 30 | 160’ | 13 | 198’ | 25 | 150’ |
3. Uji Pengendapan Ion Logam
No. | Reagen Ion Logam | 0% | 25% | 50% | 75% | ||||
T | H | T | H | T | H | T | H | ||
1 | Tembaga Sulfat | 43’ | 140’ | 2 | 150 | 3 | 150’ | 1 | 50’ |
2 | FeCl3 | 150’ | 150’ | 10 | 150’ | 8 | 150’ | 6 | 70’ |
4. Uji Pengendapan Amonium Sulfat
No. | Reagen | 0% | 25% | 50% | 75% | ||||
T | H | T | H | T | H | T | H | ||
1 | Amonium Sulfat | 181 | 181’ | 20 | 86’ | 17’ | 150’ | 12’ | 164’ |
5. Reaksi Perubahan Warna
Reaksi Perubahan Warna | Bahan | ||||
Tempe | Taoge | Telur | Pepton | ||
Biuret | Reaksi | (+) | (-) | (-) | (-) |
Warna | Ungu | Hijau gelap | Ungu | Biru+ Endapan | |
Molisch | Reaksi | (-) | (-) | (-) | (-) |
Warna | Coklat muda | Coklat muda | Coklat tua+ Endapan | Coklat Tua | |
Millon | Reaksi | - | - | - | - |
Warna | - | - | - | - | |
Xantoprotein | Reaksi | (+) | (+) | (+) | (+) |
Warna | Kuning keruh | Kuning Tua | Endapan putih | Kuning Bening | |
Ninhidrine | Reaksi | (+) | (+) | (+) | (+) |
Warna | Biru tua | Biru tua | Biru tua | Ungu pekat | |
Sulfur | Reaksi | (-) | (-) | (+) | (-) |
Warna | Bening+ Endapan | Kuning+ Endapan | Coklat tua | Bening | |
Sakaguchi | Reaksi | (-) | (-) | (+) | (-) |
Warna | Kuning kehijauan | Kuning kehijauan | Merah | Merah | |
6. Grafik Penentuan Konsentrasi Cara Biuret
B. Analisis data
1. Mengubah Transmitan menjadi absorbansi
a.) A(X1%) = −log % T
=Log % - T
= 2 – Log 1,23
= 2 – (0,08)
= 1,92
b.) A(X2%) = −log % T
=Log % - T
= 2 – Log 2,5
= 2 – (0,39)
= 1,61
c.) A(X3%) = −log % T
=Log % - Log T
= 2 – Log 0,5
= 2 – (-0,30)
= 2,30
2. Data yang digunakan adalah data konsentrasi 2 dan 3
Misalkan X1 = 25 y1 = 0.67
X2 = 50 y2 = 0.42
Jadi, Untuk persamaan Pertama dan persamaan kedua :
y1 = ax1 + b y2 = ax2 + b
0.67 = 25a + b0.42= 50a + b
Eliminasi Persamaan Pertama dan Kedua :
0.67 = 50a + b
0.25 = 25a
a =
a = 0.01
Untuk nilai b:
Nilai a didistribusikan masuk ke persamaan Kedua, jadi:
0.42 = 50a + b
0.42 = 50 (0.01) + b
0.42= 0.5 + b
0.42 - 0.5 = b
b = 0.08
Untuk nilai konsentrasi X1 dan X2, nilai a dan b di distribusikan masuk kedalam persamaan y = ax + b
Untuk konsentrasi X1
y = ax + b
1,92 = 0,01 (X1) + 0,08
1,92–0,08 = 0,01 X1
1,84= 0,01 X1
X1 =
X1 =184 ppm
Untuk konsentrasi X2
y = ax + b
2,5= 0,01 X2 + 0,08
2,5 - 0,08 = 0,01X2
2,42 = 0,01 X2
X2 =
X2 = 242 ppm
Untuk konsentrasi X3
y = ax + b
2,30= 0,01 X3+ 0,08
2,30 - 0,08 = 0,01X3
2,22 = 0,01 X3
X3 =
X3= 222 ppm
C. Pembahasan
1. Uji Penentuan Konsentrasi Cara Biuret
Pada penentuan konsentrasi protein cara biuret dengan menggunakan alat spektrofotometer. Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu objek kaca atau kuarsa yang disebut cuvet.
Adapun prinsip kerja dari spektrofotometer adalah bila cahaya (monokromatik maupun campuran) jatuh pada suatu medium homogen, sebagian dari sinar yang masuk akan dipantulkan dan sebagian diserap dalam medium itu. Dan sisanya diteruskan. Nilai yang keluar dari cahaya yang diteruskan dinyatakan dalam nilai absorbansi karena memiliki hubungan dengan konsentrasi sampel.
Nilai absorbansi suatu larutan dapat ditentukan berdasarkan konsentrasi protein. Pada sebuah sampel X1 dan X2 bantuan kurva standar dengan menggunakan rumus persamaan garis lurus yaitu y=ax+b. Pengukuran konsentrasi dengan spektrofotometer didasarkan pada hukum Lambert-Beer, yang menyatakan bahwa pengukuran intensitas cahaya yang masuk dibandingkan dengan banyaknya atom-atom dan panjang medium serapan.
Hasil pengamatan yang telah kami lakukan yaitu menggunakan protein dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu dengan konsentrasi 0%, 25%, 50%, 75%, yang kemudiandi tambahkan dengan 4 ml reagen biuret di dapatka hasil berturut-turut 0,334 nm, 0,278 nm, 0,388 nm, 0,440 nm, dan 0,480 nm, namun pada uji pertama dan ke dua hasilnya kurang benar karna seperti yang kita lihat bahwa konsentrasi yang lebih rendah namun absorbansinya lebih tinggi tetapi pada konsentrasi 0 terjadi peningkatan dibanding konsentrasi lainnya dan terjadi penurunan pada konsentrasi X2. Hal ini tidak sesuai dengan Hukum Beer menyatakan absorbansi cahaya berbanding lurus dengan dengan konsentrasi dan ketebalan bahan/medium (dalam Miller J.N 2000). Adanya perbedaan konsentrasi dan absorbansi antara hasil percobaan dengan teori disebabkan adanya kesalahan prakikan yaitu dalam mengukur banyaknya sampel protein dengan reagen biuret, mencampurkan larutan dan waktu yang dibutuhkan untuk mendiamkannya tidak cukup atau lebih dari 30 menit, pada saat pembacaan nilai absorbansi pada spektrofotometer. Tak hanya itu, kemungkinan bahan atau alat yang digunakan telah rusak.
Untuk sampel X1, X2, dan X3 yang mempunyai absorbansi 0,588 nm dan 0,376 nm telah di ketahui melalui analisis data di atas y,bahwa sampel tersebut mepunyai konsentrasi yang berbeda yaitu X1 = 14 dan X2 = 2,222.
2. Uji Pengendapan
a. Uji Pengendapan dengan Reagen Alkohol Pekat
Hasil pengamatan, ditunjukkan jumlah tetes reagen yang digunakan pada setiap sampel berbeda-beda hingga menimbulkan endapan, hal ini disebabkan berdasar pada teori bahwa penyebab pengendapan terjadi karena kemampuan setiap larutan untuk mencapai titik isoelektrik dan pH reagen yang digunakan berbeda-beda, sehingga jumlah tetes yang berbeda-beda sampai terjadi pengendapan.dan pada percobaan ini tidak ada satu pun reagen yang menunjukkan hilangnya endapan hal ini disebabkan karena bahan yang digunakan sudah kadaluarsa atau sudah tidak layak pakai.
Seharusnya salah satu reagen yang digunakan terjadi pengenceran kembali atau hilangnya endapan pada saat pH larutan berada diatas titik isoelektrik dimana saat itu larutan berada dalam keadaan basah. Proses ini dinamakan proses penyusunan kembali struktur protein (Girindra, 1986).
b. Uji Pengendapan dengan Amonium Sulfat
Hasil pengamatan dari ketiga sampel yang digunakan yaitu glisin, pepton, dan protein kemudian ditambahkan dengan reagen yang telah disediakan oleh laboran.Glisin dan protein setelah ditambahkan dengan reagen terbentuk endapan. Ini disebabkan karena pH larutan berada pada titik isoelektrik sehingga kelarutan protein akan berkurang, dan endapan terjadi karena kemampuan setiap larutan untuk mencapai titik isoelektrik (Thenawijaya, 1990).
3. Reaksi Perubahan Warna
a. Uji Biuret
Uji biuret dilakukan untuk menguji adanya protein dan peptida berdasarkan reaksi warna. Reaksi berdasarkan adanya ikatan peptida, reaksi positif terjadi dengan adanya perubahan warna menjadi ungu untuk ikatan peptida panjang dan merah muda untuk ikatan peptida pendek, sehingga warna yang terjadi tergantung pada panjang pendeknya ikatan peptida. Perubahan warna disebabkan terjadinya senyawa antara Cu dan N dari ikatan peptida dan O dari air, Asam amino memberikan reaksi biuret negatif, sebab tidak ada ikatan peptida
Percobaan ini menggunakan 4 buah tabung reaksi yang berisi dengan pepton, ekstrak tempe, ekstrak tauge dan putih telur yang kemudian ditambahkan dengan NaOH 40 % dan 2-3 CuSO4 mengalami perubahan warna yang mana ekstrak tempe dan putih telur mengalami perubahan warna menjadi ungu yang menandakan bahwa reaksi ini positif mengandung ikatan peptide panjang, menurut (Girindra, A. 1986) Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua molekul urea. Ion Cu2+ dari pereaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatn peptida yang menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Warna ungu yang terbentuk dalam uji biuret ini berasal dari ion Cu2+(yang dihasilkan dari ) dari pereasksi biuret.
Percobaan yang kami lakukan, positif terhadap dua bahan yang kami ujikan yaitu ekstrak tempe dan putih telur. Tetapi negatif untuk ekstrak teuge yang berwarna hijau gelap dan pepton yang membentuk endapan biru. Hal ini menandakan hasil percobaan negative, yang mungkin disebabkan karena alat-alat yang kami gunakan kurang bersih sehingga mempengaruhi reaksi.
b. Uji Molisch
Uji molicsh adalah salah satu cara pengujian yang memberikan hasil positif pada senyawa-senyawa organik. Pada ekstrak tempe menghasilkan warna coklat muda, ekstrak tauge menghasilkan warna coklat muda, putih telur menghasilkan warna coklat keruh, dan pepton menghasilkan warna coklat tua. Keempat bahan ini menunjukkan hasil yang negative.Hal ini mungkin disebabkan karena alat-alat yang kami gunakan kurang bersih sehingga mempengaruhi reaksi serta bahan yang kami gunakan sudah tidak layak pakai.
c. Uji Xantoprotein
Uji Xantoprotein bertujuan untuk menguji keberadaan asam amino yang mangandung inti benzena pada gugus sampingnya, seperti tirosin, triptofan, dan fenilalanin. Prinsip ini menggunakan prinsip nitrasi inti benzene oleh asam nitrat pekat, sehingga larutan dapat berwarna.
Percobaan yang kami lakukan menggunakan 4 buah tabung reaksi yang berisi dengan pepton, ekstrak tempe, ektrak tauge dan putih telur yang kemudian ditambahkan dengan HNO3 Pekat dan dipanaskan selama kurang lebih 1 menit dan ditambahkan dengan 2-3 larutan CuSO4 secara perlahan menghasilkan perubahan warna pada pepton berwarna kuning bening,, ekstrak tempe berwarna kuning keruh dan ekstrak tauge berwarna kuning tua (Reaksi Positif). Menurut (Hala, 2011) reaksi warna ini untuk asam amino yang mengandung cincin fenil atau inti benzene, contoh triosin, fenilalanin, dan triptofan. Sehingga reaksi positif ditandai dengan pepton berwarna kuning bening,, ekstrak tempe berwarna kuning keruh dan ekstrak tauge berwarna kuning tua yang menandakan bahwa reaksi ini positif mengandung cincin fenil atau inti benzene.
d. Uji Ninhidrin
Nindhidrin adalah suatu oksidator yang menyebabkan dekarboksilasi oksidatif dari α-amino yang menghasilkan CO2, NH3 dan aldehid dengan kehilangan satu atom karbon. ninhidrin beraksi dengan asam amino bebas dan protein menghasilkan warna biru terjadi berhubung reaksi ninhidrin menghasilkan aldehid yang rendah dan melepaskan CO2 dan amoniak. Reaksi ini termasuk yang paling umum dilakukan untuk analisis kualitatif protein dan produk hasil hidrolisisnya.
Uji Ninhidrin yang kami menggunakan 4 buah tabung reaksi yang berisi dengan pepton, ekstrak tempe, ekstrak tauge dan putih telur yang kemudian ditambahkan dengan 6-10 tetes Ninhidrin dan kemudian di panaskan dan menghasilkan warna biru tua untuk ekstrak tempe, ekstrak tauge dan putih telur dan pepton yang berwarna ungu pekat. Hal ini menandakan bahwa reaksi positif menghasilkan aldehid yang rendah karna menurut (Hawab. 2004) Semua asam amino, atau peptida yang mengandung asam-α amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu.
e. Uji Sulfur
Uji sulfur bertujuan untuk menguji adanya sulfur yang terkandung dalam asam amino. Sistein dan Metionin merupakan asam amino yang mengandung atom S pada molekulnya. Reaksi positif ditujukkan dengan perubahan warna cokelat atau kuning karena terbentuk Pbs (Hala, 2011).
Percobaan ini menggunakan 5 buah tabung reaksi yang berisi dengan protein, asam amino, albumin, extrak tempe dan putih telur yang kemudian ditambahkan dengan NaOH 40% dan di panaskan selama kurang lebih 1 menit setelah itu di tambahkan dengan Pb asetat dan terjadi perubahan warna yaitu putih telur bewarna kuning tua yang menandakan reaksi positif membentuk PbS. Karena pada reaksi ini sampel yang di gunakan akan berikatan dengan Pb yang mana kemudian membentuk PbS.
Sedangkan ekstrak tempe berwarna bening dan membentuk endapan, ekstrak tauge berwarna kuning dan membentuk endapan dan pepton berwarna bening yang menandakan bahwa reaksi negative, hal ini terjadi mungkin karna alat-alat yang kami gunakan kurang bersih sehingga mempengaruhi reaksi serta bahan yang kami gunakan sudah tidak layak pakai.
f. Uji Sakaguchi
Uji Sakaguchi bertujuan untuk mendeteksi adanya kandung asam amino arginin. Arginin mengandung gugus guanidine diujungnya. Gugus guanidine merupakan atom C yang mengikat dengan ikatan tunggal dan mengikat N dengan ikatan ganda. Gugus Guanidin akan bereaksi dalam uji sakaguchi. Dalam kondisi basa akan bereaksi dengan gugus guanidine dalam arginin yang telah teroksidasi sodium hipoklorit, menghasilkan senyawa berwarna merah.
Percobaan ini menggunakan 4 buah tabung reaksi yang berisi dengan pepton, ekstrak tempe, ekstrak tauge dan putih telur yang kemudian ditambahkan 3 tetes dan 1-2 tetes hipoklorid. Pada percobaan ini putihtelur dan pepton menghasilkn warna merah. Hal ini menandakan bahwa reaksi positif mengandung arginin.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah kami melakukan percobaan reaksi perubahan warna, kami dapat menympulkan bahwa reaksi asam amino, peptide dan protein sudah terbukti dalam beberapa uji yaitu pada uji biuret ekstrak tempe dan putih telur berwarna ungu yang menandakan bahwa reaksi ini positif mengandung ikatan peptide panjang sedangkan ekstrak tauge dan pepton menunjukkan hasil yang negatif, Uji molisch yang kami lakukan semuanya menunjukkan hasil yang negative, Uji xantoprotein ekstrak tempe, ekstrak tauge dan pepton bewarna kuning yang menandakan bahwa reaksi ini positif mengandung cincin fenil atau inti benzene sedangkan putih telur menunjukkan hasil yang negatif, Uji ninhidrin yang kami lakukan semuanya menunjukkan hasil yang positif menghasilkan aldehid yang rendah, Uji sulfur yang kami lakukan pada putih telur bewarna coklat tua yang menandakan reaksi positif membentuk PbS, Uji sakaguchi pada putih telur dan pepton berwarna merah yang menandakan reaksi positif
B. Saran
1. Untuk praktikan
Praktikan diharapkan agar sebelum melakukan praktikum agar dapat mengetahui apa yang akan dipraktikumkan.
2. Untuk laboratorium
Laboratorium diharapkan agar lebih melengkapi fasilitas yang diperlukan dalam praktikum.
3. Untuk Asisten
Asisten diharapkan agar dapat membimbing lebih maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Girindra, Aisjah. 1986. Biokimia 1. Jakarta: Gramedia.
Hala, Yusmina. 2011. Penuntun Praktikum Biokimia Umum. Jurusan Biologi
FMIPA UNM: Makassar.
Hala, Yusmina. 2012. Penuntun Praktikum Biokimia Umum. Jurusan Biologi
FMIPA UNM: Makassar.
Hawab, HM. 2004.Pengantar Biokimia. Jakarta : Bayu Media Publishing.
Lehninger, A.L., 1997. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Miller, J.N and Miller, J.C. 2000. Statistics and Chemometrics for Analytical
Chemistry. 4thed. Prentice Hall: Harlow.
Ngili, Yohanis. 2010. Biokimia Dasar. Rekayasa Sains: Jakarta.
Poedjiadi, A., 2007. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta:Universitas Indonesia
Tarigan, Ponis. 1983. Kimia Organik Bahan Makanan. Bandung: Penerbit Alumni
Thenawijaya, Maggy. 1990. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Erlangga
Witarto, Budi Arif. 2001. (The Role of Protein Engineering in Bioindustry and Its Prospect in Indonesia). Sinergy Forum - PPI Tokyo Institute of Technology
EmoticonEmoticon