PENGARUH JARAK TANAM DAN DOSIS PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAPRIKA (Capsicum annum var grossum)
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman paprika (Capsicum annum var grossum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Paprika termasuk kedalam tanaman semusim yang biasanya dibudidayakan di daerah subtropis dengan ketinggian 1.000 mdpl atau lebih. Dimana ketinggian tersebut suhu udara dan kelembabannya sangat baik. Namun demikian tidak menutup kemungkinan pada ketinggian kurang dari 1.000 meter dari permukaan lautpun paprika dapat tumbuh dengan baik.
Cabai manis atau paprika merupakan sayuran yang belum terlalu dikenal masyarakat luas. Buah ini mengandung zat gizi yang cukup lengkap, antara lain kalori, protein, lemak, karbohidrat, mineral (kalsium, fospor dan besi), vitamin, abu, dan serat kasar. Selain itu, terdapat juga zat –zat lain.yang berkhasiat obat, misalnya, oleoresin, capsaicin, bioflavonoid, minyak atsiri, flavonoid, antioksidan, karotenoid, (capsantin, capsorubin, carotene, dan lutein) dan mineral silicon (Cahyono B, 2012).
Belakangan ini banyak permintaan paprika sejalan dengan banyaknya pengusaha restoran dan hotel yang menghidangkan aneka masakan luar negeri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut khususnya di pulau Lombok harus didatangkan dari luar daerah seperti Bedugul di Bali dan beberapa daerah di pulau Jawa. Sehingga harganya relative mahal. Oleh karena itu, jika tanaman paprika dibudidayakan secara intensif akan mendatangkan keuntungan. Keberhasilan budidaya paprika dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti iklim, geografi dan kesuburan tanah. Teknik budidaya yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan hasil antara lain adalah dengan pengaturan jarak tanam dan dosis pupuk daun yang berbeda.
Pengaturan jarak tanam yang tepat dapat mengurangi tingkat kompetisi tanaman dengan tanaman lain maupun dengan gulma dalam memperebutkan air, cahaya matahari dan hara. Serangan hama penyakit juga dapat dicegah dengan pengaturan jarak tanam. Jarak tanam yang terlalu rapat dapat menyebabkan hama dan penyakit berpindah dengan cepat ke tanaman lain, dan sebaliknya jika jarak antar tanaman terlalu lebar menyebabkan gulma dapat tumbuh subur.
Selain faktor pengaturan jarak tanam factor lain yang berpengaruh yaitu pemupukan. Untuk petumbuhan yang optimal, tanaman membutuhkan sejumlah unsur hara secara berimbang. Setiap jenis tanamn membutuhkan jumlah dan unsur hara yang berbeda- beda. Unsur hara didalam tanah dapat hilang melalui berbagai macam cara seperti diserap oleh tanaman, terangkut bersama hasil panen, menguap dan terlindi atau terbawa bersama air drainase. Pemberian pupuk melalui bagian tanaman diatas tanah atau daun boleh jadi merupakan suatu metode yang efektif dalam memberikan pupuk. Namun penerapan metode ini haruslah berhati- hati karena sangta beresiko jika pemberian pupuk dilakukan dengan konsentrasi tinggi, karena akan berakibat pada kebakaran daun yang parah (Mulyati, 2006).
Green booster merupakan pupuk daun yang termasuk pupuk organik. Mengandung unsur makro lengkap dengan kandungan N organic 18 % dan unsur mikro lengkap dalam bentuk chelat. Nutrisi makro yang terdapat pada green booster yaitu N total sebanyak 2,8% (N organic 18,5%, NH4 2,8%, NO3 4% dan NH22,4%), P2O5 7,06%, K2O 3% dan MgO 0,2%, sedangkan nutrisi mikro (EDTA chelat) terdiri atas Cu (93 ppm), B (0,052%), CO (0,001 ppm), MO (0,009 ppm) dan Si (0,3%).
Rancangan Percobaan
RAK Faktorial
· Faktor jarak tanam terdiri dari 3 taraf yaitu:
J1: Jarak tanam 40cm x 65cm
J2: Jarak tanam 50cm x 65cm
J3: Jarak tanam 60cm x 65cm
· Faktor pemberian pupuk daun terdiri dari 3 taraf yaitu:
P1:
P2:
P3:
EmoticonEmoticon