
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Pengendalian hama
dan penyakit terpadu telah menjadi salah satu pilihan yang tepat dalam
melaksanakan pengendalian OPT budidaya tanaman pertanian. Penggunaan strategi
pengendalian yang bermacam-macam dan diterapkan secara terpadu dilandaskan pada
aspek ekologi dan lingkungan. Selain itu, ekonomi dan kesehatan menjadi salah
satu aspek penting dalam penerapannya di lapangan.
Berbagai strategi
pengendalian dipadukan dalam mengendalikan berbagai hama dan penyakit tanaman.
Sebagai salah satu sayuran penting di Indonesia, budidaya kubis juga mengalami
penyerangan OPT yang tidak kalah merugikannya. Dalam proses pengendaliannya,
penggunaan strategi pengendalian terpadu rasanya harus terus dikembangkan agar
keseimbangan ekosistem lingkungan sekitar tetap terjaga. Pengontrolan lapangan
secara rutin dan penggunaan bahan kimia secara bijaksana harus menjadi acuan
utama para petani kubis dalam meningkatkan produktifitas pertanamannya.
Laporan ini
disusun dengan memaparkan hasil penelitian mengenali pengendalian terpadu hama
dan penyakit tanaman pada pertanaman cabai yang terletak di desa Genteng, Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang.
Segala data yang diperoleh berasal dari proses observasi, wawancara, dan studi
pustaka.
1.II Rumusan Masalah
Praktikum ini dilakukan dengan
beberapa rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana kondisi agroekosistem Desa pada saat suvei?
2. Organisme
Pengganggu Tanaman (OPT) apa saja yang menyerang tanaman cabai?
3. Bagaimana
teknik pengendalian yang diterapkan oleh petani untuk mengendalikan OPT pada
pertanaman kubis?
4. Adakah
rekomendasi pengendalian yang tepat dan sesuai dengan konsep Pengendalian
Terpadu Hama Penyakit Tanaman (PTHPT) yang dapat diterapkan pada pertanaman cabai?
I.III Tujuan Praktikum
Praktikum ini dilakukan dengan beberapa tujuan
sebagai berikut.
1.
Menganalisis kondisi agroekosistem Desa tempat lahan pertanaman cabai
2.
Mengetahui OPT yang menyerang pertanaman cabai
3.
Mengetahui teknik pengendalian yang sudah
diterapkan untuk mengendalikan OPT pada pertanaman kubis
4.
Menganalisis rekomendasi pengendalian yang tepat
dan sesuai dengan konsep PTHPT yang dapat diterapkan pada pertanaman cabai
BAB II
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
II.I Topografi Desa Genteng Kecamatan Sukasari Sumedang
Wilayah Desa Genteng berada pada ketinggian 700-1000 meter diatas
permukaan laut (dpl) dengan topografi berlereng dan berlembah. Jenis tanah yang terdapat di Desa Genteng umumnya berjenis lempung atau berlempung, dengan tekstur tanah sedang. Sebagian
besar penduduk Desa Genteng
berprofesi sebagai petani.
II.II Topografi Desa Bojongnangoh
Kecamatan Baregbeg Ciamis
II.III Topografi Desa
II.IV Karakteristik Petani
Penduduk Desa yang
telah kami lakukan survei sebagian besar berprofesi sebagai petani
dengan latar belakang pendidikan rata-rata Sekolah Dasar (SD). Tetapi ada salah satu petani yang kami lakukan
survei berrlatar belakang seorang sarjana/ Adapun karaktersitik petani
yang kami wawancarai adalah sebagai
berikut :
-
Desa : Genteng
Kecamatan Sukasari
Nama Petani :
Bapak Yaya
Umur : 40 tahun
Luas Lahan : 30 tumbak
Jumlah
Tanggungan : 2 Orang
Pendidikan
Terakhir : SD
-
Desa : Bojongnangoh
Kecamatan Baregbeg
Nama Petani :
Bapak Asep
Umur :
Jumlah Tanggunagan :
Pendidikan Terakhir : S1
Pertanian
-
Desa :
Nama Petani :
Luas Lahan :
Jumlah
Tanggungan :
Pendidikan
Terakhir :
BAB III
PELAKSANAAN
III.I Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan
tempat pelaksanaan kegiatan wawancara yaitu:
-
Hari : Rabu, 28 Oktober
Waktu : 09.00 - selesai
Tempat : Desa Genteng, Sukasari – Sumedang
-
Hari :
Waktu :
Tempat : Desa Bojongnangoh, Baregbeg – Ciamis
-
Hari :
Waktu :
Tempat :
III.II Alat dan Bahan
Alat
dan Bahan yang dibutuhkan dalam melaksanakan kegiatan wawancara ini meliputi :
1.
Alat tulis
2.
Alat perekam (handphone, dsb.)
3.
Alat dokumentasi (kamera atau handphone)
III.III Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan suatu teknik atau cara yang
digunakan untuk mengumpulkan suatu data. Adapun teknik pengumpulan data yang
kami lakukan dalam kegiatan ini adalah
observasi lapangan dan wawancara.
1. Studi Pustaka
Studi pustaka dilaksanakan dalam meghasilkan beberapa teori yang dijadikan
acuan dalam melaksanakan penelitian.
2. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tanya jawab secara lisan.
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tanya jawab secara lisan.
3. Observasi Lapangan
Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengamati serta mencatat
hal-hal hasil observasi. Teknik ini dilaksanakan dengan mendatangi lokasi
penelitian dan melakukan sampling untuk mengambil data olahan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.I Kondisi Agroekosistem Tempat Survai
Agroekosistem merupakan komunitas tanaman dan hewan yang
berhubungan dengan lingkungannya (baik fisik maupun kimia) yang telah diubah
oleh manusia untuk menghasilkan Pangan, pakan, serat, kayu bakar, dan produk-
produk lainnya. Kondisi agroekosistem meliputi kondisi abiotik (seperti iklim,
air, cahaya matahari, pupuk, pestisida, dsb.) dan biotik (seperti hama, musuh
alami, gulma, dsb.) dalam suatu wilayah.
Sebagian besar
desa yang kami lakukan survai merupakan daerah yang berada pada
ketinggian sekitar 700 - 1000
meter dpl dengan dengan sebagian
besar lahan merupakan lahan
pertanian. Adapun komoditas tanaman yang terdapat di yang kami lakukan survei salah satunya adalah
tanaman cabai.
Pada pertanaman cabai
milik penduduk setempat, hama utama yang seringkali menyerang tanaman tersebut
adalah hama Thrips sp dan ulat grayak.
IV.II Organisme
Pengganggu Tanaman (OPT) yang Menyerang Pertanaman Cabai.
Pada pertanaman cabai
milik penduduk setempat yang telah
kami lakukan survei,
rata-rata hama utama yang seringkali menyerang tanaman cabai tersebut adalah hama Thrips sp. Sementara penyakit utama yang seringkali
menyerang pertanaman cabai adalah
penyakit Antraknosa.
IV.III Hasil Skoring Hama dan
Penyakit Tanaman Kubis
Setelah melakukan
sampling dengan metode yang dipaparkan pada bab sebelumnya, maka didapatkan
salah satu data dan perhitungan yang kami dapatkan dari Desa Genteng, adalah
sebagai berikut :
Perhitungan
Intensitas Kerusakan akibat Hama
|
Titik sampel A :
-
Jumlah tanaman sampel : 25
-
Jumlah tanaman
terserang: 3
-
Skoring
0 : 22 tanaman
1 : 0 tanaman
2 : 2 tanaman
3 : 1 tanaman
4 : 0 tanaman
5 : 0 tanaman
|
Titik sampel B :
-
Jumlah tanaman sampel: 25
-
Jumlah tanaman terserang: 4
-
Skoring
0 : 21 tanaman
1 : 0 tanaman
2 : 3 tanaman
3 : 1 tanaman
4 : 0 tanaman
5 : 0 tanaman
|
Titik sampel C :
-
Jumlah tanaman sampel: 25
-
Jumlah tanaman terserang: 6
-
Skoring:
0 : 19 tanaman
1 : 2 tanaman
2 :
4 tanaman
3 : 0 tanaman
4 : 0 tanaman
5 : 0 tanaman
|
|
Titik sampel D :
-
Jumlah tanaman sampel: 25
-
Jumlah tanaman terserang: 0
-
Skoring:
0 : 25 tanaman
1 : 0 tanaman
2 : 0 tanaman
3 : 0 tanaman
4 : 0 tanaman
5 : 0 tanaman
|
Titik sampel E :
-
Jumlah tanaman sampel: 25
-
Jumlah tanaman terserang: 3
-
Skoring
0 : 22 tanaman
1 : 1 tanaman
2 : 2 tanaman
3 : 0 tanaman
4 : 0 tanaman
5 : 0 tanaman
|
Persentase
kerusakan
= (∑
nxz)/ (N x Z) x 100%
=
(0 x 112) + (1 x 3) + (2 x 11) + (3 x 2) + (4 x 0) + (5 x 0)
x 100
3
x 125
= 31
x 100% = 8,27 %
375
Perhitungan Intensitas Serangan Akibat Penyakit
Jumlah
tanaman seluruhnya = 1250 tanaman
Jumlah
tanaman sampel = 125 tanaman
Titik
sampel A :
-
Jumlah tanaman sampel :
25
-
Jumlah tanaman terserang: 2
Titik
sampel B :
-
Jumlah tanaman sampel :
25
-
Jumlah tanaman terserang: 6
Titik
sampel C :
-
Jumlah tanaman sampel :
25
-
Jumlah tanaman terserang: 6
Titik
sampel D :
-
Jumlah tanaman sampel :
25
-
Jumlah tanaman terserang: 0
Titik
sampel E :
-
Jumlah tanaman sampe l:
25
-
Jumlah tanaman terserang: 8
Persentase
kerusakan = jumlah tanaman terserang x 100%
Jumlah tanaman sampel
= 22
x 100% = 17,6%
125
IV.IV Analisis OPT dan Gejala
Serangan yang Ditimbulkan
IV.V Teknik
Pengendalian yang Sudah Diterapkan Di Desa Cijambu Untuk
Mengendalikan OPT Pada Pertanaman Kubis
BAB V
REKOMENDASI PENGENDALIAN TERPADU
V.I Pengendalian Terpadu Hama dan Penyakit Cabai
Menganalisis
penyerangan hama dan penyakit yang merugikan pertanaman cabai, penulis mencoba
untuk merancang strategi pengendalian terpadu yang dapat dilakukan dalam
mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman cabai. Tahapan-tahapan
pengendaliannya adalah adalah sebagai berikut.
1. Pangaturan cara bercocok tanam (kultur teknis)
Cara ini dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang
kurang menguntungkan bagi ulat untuk bertahan hidup, tumbuh dan bereproduksi.
Pengendalian dengan cara ini menguntungkan apabila diterapkan dalam program PHT
karena menciptakan lingkungan yang relatif stabil dan tidak memberikan hasil
pengendalian yang beragam, seperti yang dihasilkan bila mengandalkan
insektisida saja. Pengaturan cara bercocok tanam, antara lain meliputi
pengaturan pergiliran tanaman yang disertai bertanam serempak dan bertanam
dengan sistem tumpang sari.
2. Cara fisik dan mekanis
Pengendalian fisik dan mekanis merupakan cara yang langsung
atau tidak langsung mematikan serangga, mengganggu fisiologi serangga dengan
cara yang berbeda dengan insektisida, atau merubah lingkungan nenjadi tidak
menguntungkan bagi serangga hama. Cara fisik dan mekanis yang dianjurkan dalam
mengendalikan ulat adalah dengan memungut dan memusnahkan kelompok telur yang
ditemukan.
3. Pemanfaatan musuh alami
Untuk memanfaatkan musuh alami ulat, dilakukan usaha konservasi
yang tujuannya adalah untuk meningkatkan efektivitas musuh alami tersebut di
lapang. Misalnya, dalam usaha memanipulasi lingkungan untuk mengejar hasil
panen yang tinggi, insektisida harus digunakan secara selektif terhadap hama
sasaran demikian pula caranya, harus dengan dosis, formulasi, waktu dan
frekuensi aplikasi yang cocok.
LAMPIRAN
Data Hasil Survei di Desa
Bojongnangoh, Baregbeg – Ciamis
|
Nama Tanaman
|
:
|
Cabai Capsicum
annu, Varietas Pilar 1
|
|
Group
|
:
|
Kelompok 4
|
|
Nama Petani
|
:
|
Bapak Asep
|
|
Umur
|
:
|
35 Tahun
|
|
Pendidikan
|
:
|
S1 Pertanian
|
|
Pekerjaan Utama
|
:
|
Petani
|
|
Pekerjaan Istri
|
:
|
Pegawai Desa
|
|
Jumlah Tanggungan
|
:
|
3 (dua)
|
|
Lokasi Lahan
|
:
|
Dusun / Desa Bojongnangoh
Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis
|
1.
Kondisi
Agroekosistem
|
a.
|
Jenis lahan
|
Sawah
|
|
b.
|
Luas lahan
|
50 bata
|
|
c.
|
Status kepemilikan lahan
|
Sewa
|
|
d.
|
Kondisi lokasi lahan
|
Dataran medium
(700 - 1000 mdpl)
|
|
e.
|
Topografi
|
Dataran
|
|
f.
|
Kondisi tanah
|
Tekstur tanah sedang
Jenis tanah berlempung
|
|
g.
|
Jenis tanaman utama
|
Cabai
|
|
h.
|
Jenis tanaman skunder
|
-
|
|
i.
|
Jenis tanaman/tumbuhan yang berbatasan dengan lahan
yang diamati
|
Sebelah selatan
: Padi
Sebelah barat
: Padi
Sebelah timur
: -
Sebelah utara
: -
|
|
j.
|
Kondisi lingkungan (muusim) saat survei dilakukan
|
Musim kemarau
|
2.
Hama
dan penyakit serta cara Pengendaliannya
Data jenis hama
|
No
|
Jenis
Hama
|
Intensitas
kerusakan (Populasi hama)
|
Bagian
Tanaman yang diserang
|
Gejala
kerusakan
|
|
|
1
|
Thrips
sp
|
|
Daun
|
Daunnya
akan terlihat garis-garis keperakan, terdapat bercak-bercak kuning hingga
kecoklatan dan pertumbuhannya kerdil. Bila dibiarkan daun akan kering dan
mati.
|
|
|
2
|
Ulat Grayak (Spodoptera litura)
|
|
Daun
|
Daun
bolong-bolong sehingga menganggu kemampuan fotosintesis tanaman. Pada tingkat
yang parah ulat grayak memakan habis seluruh daun dan hanya menyisakan
tulang-tulang daun.
|
|
Data
jenis penyakit
|
No
|
Jenis Penyakit
|
Intensitas penyakit
|
Bagian Tanaman yang diserang
|
Gejala kerusakan
|
|
1.
|
Antraknosa
|
|
Daun, batang, buah
|
Mati
pucuk, serangan pada daun dan batang menyebabkan busuk kering. Sementara itu,
pada buah akan menjadi busuk seperti terbakar.
|
|
2.
|
Layu Fusarium
|
|
Daun
|
Menguningnya
daun-daun tua yang kemudian menjalar ke atas. Tulang daun memucat dan
berwarna keputihan.
|
Data jenis musuh alami
|
No
|
Jenis Musuh Alami
|
Ditemukan pada bagian tanaman
|
Karakteristik musuh alami
|
|
1
|
Kumbang Cocci (Coccinellidae sp)
|
Daun tanaman
|
Kumbang
koksi berukuran kecil sampai sedang, panjang badan 3-12 mm, hampir bulat atau
oval pendek. Salah satu sifat yang jelas dari famili Coccinellidae adalah
struktur sayapnya, kebanyakkan kumbang mempunyai empat sayap, dengan pasangan
sayap satu garis lurus dibawah pertengahan punggung dan menutupi sayap
belakang.
|
3.
Hama/Penyait
yang pernah sangat merugikan
|
No
|
Jenis Hama/Penyakit
|
Kapan terjadinya
|
Kerugian yang diakibatkan
|
|
1
|
Antraknosa
|
Pada saat musim hujan
|
Kerugian yang didapatkan, karena
gagal panen. Buah cabai yang dihasilkan jelek dan busuk
|
Data Hasil Survei di Desa
Genteng, Sukasari - Sumedang
|
Nama Tanaman
|
:
|
Cabai Capsicum
annu, Varietas serambi
|
|
Group
|
:
|
Kelompok 4
|
|
Nama Petani
|
:
|
Bapak Yaya
|
|
Umur
|
:
|
40 Tahun
|
|
Pendidikan
|
:
|
SD
|
|
Pekerjaan Utama
|
:
|
Petani
|
|
Pekerjaan Istri
|
:
|
IRT
|
|
Jumlah Tanggungan
|
:
|
2 (dua)
|
|
Lokasi Lahan
|
:
|
Dusun / Desa Genteng
Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang
|
1.
Kondisi
Agroekosistem
|
a.
|
Jenis lahan
|
Sawah
|
|
b.
|
Luas lahan
|
30 tumbak
|
|
c.
|
Status kepemilikan lahan
|
Pribadi
|
|
d.
|
Kondisi lokasi lahan
|
Dataran medium
(700 - 1000 mdpl)
|
|
e.
|
Topografi
|
Tidak datar
|
|
f.
|
Kondisi tanah
|
Tekstur tanah sedang
Jenis tanah berlempung
|
|
g.
|
Jenis tanaman utama
|
Cabai
|
|
h.
|
Jenis tanaman skunder
|
Bawang daun
|
|
i.
|
Jenis tanaman/tumbuhan yang berbatasan dengan lahan
yang diamati
|
Sebelah selatan
: Tembakau
Sebelah barat
: Padi
Sebelah timur
: Padi
Sebelah utara
: Pisang
|
|
j.
|
Kondisi lingkungan (muusim) saat survei dilakukan
|
Musim kemarau
|
2.
Hama
dan penyakit serta cara Pengendaliannya
Data jenis hama
|
No
|
Jenis
Hama
|
Intensitas
kerusakan (Populasi hama)
|
Bagian
Tanaman yang diserang
|
Gejala
kerusakan
|
|
|
1
|
Thrips
sp
|
|
Daun
|
Daunnya
akan terlihat garis-garis keperakan, terdapat bercak-bercak kuning hingga
kecoklatan dan pertumbuhannya kerdil. Bila dibiarkan daun akan kering dan
mati.
|
|
|
2
|
Ulat Grayak (Spodoptera litura)
|
|
Daun
|
Daun
bolong-bolong sehingga menganggu kemampuan fotosintesis tanaman. Pada tingkat
yang parah ulat grayak memakan habis seluruh daun dan hanya menyisakan
tulang-tulang daun.
|
|
Data
jenis penyakit
|
No
|
Jenis Penyakit
|
Intensitas penyakit
|
Bagian Tanaman yang diserang
|
Gejala kerusakan
|
|
1.
|
Antraknosa
|
|
Daun, batang, buah
|
Mati
pucuk, serangan pada daun dan batang menyebabkan busuk kering. Sementara itu,
pada buah akan menjadi busuk seperti terbakar.
|
|
2.
|
Layu Fusarium
|
|
Daun
|
Menguningnya
daun-daun tua yang kemudian menjalar ke atas. Tulang daun memucat dan berwarna
keputihan.
|
3.
Hama/Penyait
yang pernah sangat merugikan
|
No
|
Jenis Hama/Penyakit
|
Kapan terjadinya
|
Kerugian yang diakibatkan
|
|
1
|
Antraknosa
|
Pada saat musim hujan
|
Kerugian yang didapatkan, karena
gagal panen. Buah cabai yang dihasilkan jelek dan busuk
|
4.
Komponen
pengendalian
|
NO
|
Keterangan
|
Hasil Survei
|
|
a.
|
Benih yang digunakan berasal dari mana
|
Membeli dari penjual benih
|
|
|
Jika membeli, apakah bersertifikat atau tidak
|
Tidak
|
|
b.
|
Apakah sebelum ditanam benih dilakukan perlakuan
|
Tidak
|
|
|
Jika diberi perlakuan, apa perlakuannya
|
-
|
|
c.
|
Pengolahan tanah :
a. Sebelum panen, beraa lama tanah dibiarka
bera sebelum diolah ?
|
I bulan
|
|
|
b. Saat pengolahan tanah, apa yang
dilakukan terhadap sisa-sisa tanaman ?
|
Dikumpulkan disisi lahan dan dibakar
|
|
d.
|
Apakah bapak melakukan pemupukan
|
Ya
|
|
|
a. Jika ya, pupuk apa yang digunakan ?
|
Pupuk kandang, dan pupuk kimia
|
|
|
b. Seberapa banyak jumlah pupuk yang
digunakan ?
|
Pupuk kandang : 100kg/ha
Pupuk kimia
: 300 karung/100tumbak
|
|
|
c. Berapaka kali melakukan pemupukan ?
|
Pupuk kandang
: 1 kali selama masa tanam
Pupuk kimia
: 5 kali selama masa tanam
|
|
e.
|
Jarak tanam yang sekarang di budidayakan
|
50x50
|
|
f.
|
Sistem irigasi yang digunakan
|
Irigasi terknis (berasal dari gunung)
|
|
g.
|
Ketersediaan air selama setahun
|
6-9 bulan tersedia
|
|
h.
|
Drainse
|
Baik
|
|
i.
|
Sanitasi
a. Penanganan gulma, cara dan kapan
dilakukan
|
Secara mekanis atau menggunakan herbisida.
Dilakukan pada saat setiap kali gulma muncul
|
|
|
b. Penanganan sisa tanaman sisa tanaman
|
Dibiarkan lalu dibuang
|
|
j.
|
Penggunaan perangkap
a.
Apa
jenis perangkap yag digunakan ?
|
-
|
|
|
b.
Pada
umur tanaman berapa pada saat tanaman diserang ?
|
-
|
|
|
c.
Jumlah
perangkap per luasan lahan ?
|
-
|
|
k.
|
Penggunaan biologi apakan yang digunakan ?
|
-
|
|
l.
|
Jika menggunakan, apa yg digunakan ?
|
-
|
|
m.
|
Pestisida nabati apakah digunakan ?
|
Tidak
|
|
n.
|
Apakah bapak menyemprot tanaman bapak ?
|
Ya
|
|
|
a.
Jika
ya, jenis obat apa yang digunakan ?
|
|
|
|
Bagaimana Insektisida
|
Endure dan turex
|
|
|
-
Fungisida
|
Kurset
|
|
|
-
Bakterisida
|
-
|
|
|
b.
Jika
ya, seberapa sering dilakukan penyemprotan ?
|
Seminggu 2 kali
|
|
|
c.
Jika
ya, apakah obat selalu sama ?
|
Ya
|
|
|
d.
Apakah
obat tersebut dicampurkan sebelum digunakan sekaligus atau tetrpisah ?
|
Disemprotkan terpisah
|
|
|
e.
Bagaimana
hasil penyempprotan ?
|
Bagus
|
5.
Analisis
usaha tani
|
a.
|
Berapa biaya yang dikeluarkan ?
|
4juta 1 lahan / 4000 per 1 pohon
|
|
b.
|
Apakah hasilnya untuk dijual atau dikonsumsi sendiri ?
|
Dijual
|
|
|
a.
Jika
dijual apakan bapa untung atau rugi ?
|
Pada saat sekarang sedang mengalami kerugian
|
|
|
b.
Seberapa
besar ruginya ?
|
Kurang lebih sekitar Rp. 3.300.000
|
|
c.
|
Apakah bapak mendapatkan penyuluhan dari petugas ?
|
Ya
|
|
d.
|
Apakah bapak menjadi kelompok usaha tani ?
|
Tidak
|
|
|
Darimana sumber usaha modal usaha tani bapak ?
|
Swadaya modal sendiri
|
|
|
Bagaimana cara bapak menjual hasil panen ?
|
Jual sendiri ke pasar
|
6. Presepsi mengenai cara pengendaian ramah
lingkungan
|
a.
|
Pernahkan bapak mendengan tentang PHT
|
Belum
|
|
b.?
|
Apakah pestisida berbahaya menurut bapak
|
Tidak
|
|
c.
|
Apakah bapak merasakan bahwa pestisida yang
bapak gunakan semakin kurang efektif ?
|
Ya
|
|
d.
|
Pernahkan bapak pernah mendengan tentang
pestisida berbahan alam ?
|
Ya
|
|
e.
|
Jika pernah mendengar, apakah bapak bersedia
mencobanya ?
|
Tidak, karena kurang efektif
|
EmoticonEmoticon