Laporan akhir praktikum dasar-dasar agronomi terlengkap 2018- Baiklah pada kesempatan ini saya akan membagikan artikel terbaru tentang laporan praktikum mata kuliah agronomi pada tumbuhan yang dimana laporan DDA ini bisa menjadi bahan kalian dalam menyusun laporan secara baik, silahkan di gunakan dengan baik !!
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam bercocok tanam, terdapat beberapa pola tanam agar efisien dan memudahkan kita dalam penggunaan lahan, dan untuk menata ulang kalender penanaman. Pola tanam sendiri ada tiga macam, yaitu : monokultur, polikultur (tumpangsari), dan rotasi tanaman. Ketiga pola tanam tersebut memiliki nilai plus dan minus tersendiri. Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Dengan pola tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang tersedia (agroklimat, tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial ekonomi). Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya tergantung dari hujan. Maka pemilihan jenis/varietas yang ditanampun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan. Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dalam waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan tanaman.
Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan pada dua atau lebih jenis tanaman yang relatif seumur, misalnya jagung dan kacang tanah atau bisa juga pada beberapa jenis tanaman yang umurnya berbeda-beda. Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu diperhatikan beberapa faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh diantaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar matahari dan hama penyakit. Penentuan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan dan saat penanaman sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari persaingan (penyerapan hara dan air) pada suatu petak lahan antar tanaman. Pada pola tanam tumpangsari sebaiknya dipilih dan dikombinasikan antara tanaman yang mempunyai perakaran yang relatif dalam dan tanaman yang mempunyai perakaran relatif dangkal.
Jagung (Zeamays) berpotensi diperas sebagai bio etanol. Sebagai biji dan kulitnya, batang jagung juga bisa dijadikan bahan baku bioetanol. Unsur itu dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan atau untuk pencampur bensin sehingga dihasilkan gashol. Selama ini jagung lebih banyak digunakan untuk pakan ternak. Padahal jagung juga bisa dijadikan bioetanol seperti yang dilakukan di Amerika Serikat (Budiman, 2012).
Jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan dunia yang terpenting selain gandum. Sebagai sumber karbohidrat utama di amerika tengah dan selatan,jagung juga menjadi sumber alternative bahan pangan amerika serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan nusa tenggara) juga menggunakan jagung sebagai bahan pokok (Aulia, 2010).
Sebagai tanaman serealia, jagung bisa tumbuh hampir diseluruh dunia. Jagung termasuk bahan pangan penting penting karena merupakan sumber karbohidrat kedua setelah beras. Sebagai salah satu sumber bahan pangan, jagung telah menjadi komoditas utama setelah beras. Bahkan, dibeberapa daerah Indonesia, jagung dijadikan sebagai bahan pangan ternak dan industri (Purwono, 2011).
Pertanian merupakan kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya, Sektor pertanian provinsi Sulawesi Tengah sampai saat ini masih menempati urutan penting dan strategis, karena kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah masih sangat dominan, mencapai 45% hingga 50% berbasis pertanian, sehingga sangat penting untuk pertumbuhan perekonomian daerah, hal ini disebabkan sebagian besar penduduk sulawesi tengah masih bermata pencaharian sebagai petani.
Pada saat ini kita sering mendengar teknik bertanam dengan sistem monokultur atau pertanaman tunggal dan dengan sistem tumpang sari atau menanam 2 jenis tanaman atau lebih pada satu lahan dan waktu yang sama, sistem menanam monokultur ataupun tumpang sari memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing baik dari sisi internal maupun eksternal.
Pertanaman tunggal merupakan salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Cara budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke-20 di dunia serta menjadi penciri pertanian intensif dan pertanian industrial. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. (Mejaya, 2008).
Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan tanaman. Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan pada dua atau lebih jenis tanaman yang relatif seumur, misalnya jagung dan kacang tanah atau bisa juga pada beberapa jenis tanaman yang umurnya berbeda-beda. Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu diperhatikan beberapa faktor lingungan yang mempunyai pengaruh di antaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar matahari dan hama penyakit (Hendroatmodjo, 2009).
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah agar Mahasiswa mampu membudidayakan tanaman jagung (Zea mays) dan tanaman kacang panjang (Vigna sinensis) secara optimum.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Tanaman
Tanaman adalah mahluk hidup yang tidak dapat berpindah tempat dan memproduksi makanannya sendiri. Sangat berbeda dengan hewan terutama manusia yang menggantungkan hidupnya dengan mahluk hidup lainnya, dengan bantuan sinar matahari makanan tanaman diproduksi sendiri menggunakan unsur-unsur anorganik yang terdapat di tempat sekitar mereka hidup. Proses ini disebut fotosintesis dan dilakukan oleh semua jenis tanaman. Sifat tanaman ini disebut autotrof, dan karena sifat inilah tanaman selalu ditempatkan di tempat pertama di setiap rantai makanan mahluk hidup.
Pada tanaman proses fotosintesis dilakukan di siang hari dikala matahari menyinari bumi. Proses ini adalah proses biokimia yang juga dilakukan oleh jenis lumut dan bakteri untuk memproduksi makanan. Photos artinya cahaya dan dengan menggunakan cahaya matahari inilah tumbuhan mengubah gas karbondioksida dan unsur-unsur mineral dalam tanah serta air untuk menghasilkan gula (glukosa) dan oksigen. Proses ini dilakukan oleh zat hijau daun bernama klorofil yang berada di daun dan dilindungi oleh lapisan lilin untuk mencegah penguapan. Gula disini disimpan tumbuhan sebagai cadangan energi, dan oksigen yang dihasilkan dinikmati oleh semua mahluk hidup di dunia ini.
Pada awal terciptanya, bumi tidak memiliki oksigen dan karena itulah tidak ada mahluk hidup yang dapat hidup. Proses munculnya oksigen di bumi ditimbulkan setelah organisme pertama di bumi, yang dipercaya sebagai lumut atau ganggang-ganggangan, menghasilkan proses fotosintesis, mengubah karbon yang saat itu memenuhi bumi dan menciptakan oksigen. Ganggang-ganggangan pertama tersebut akhirnya berevolusi dan membentuk tumbuh-tumbuhan seperti yang ada hingga sekarang dan menciptakan bumi seperti sekarang ini dimana oksigen dapat diperoleh secara bebas oleh mahluk hidup lainnya.
Tanaman sendiri dibagi menjadi beberapa jenis, seperti lumut, bryophita, pteridophita dan tumbuhan berbiji dengan perkiraan terdapat sejumlah 350.000 spesies yang tersebar di seluruh dunia. 287.655 spesies sudah berhasil diidentifikasi dan sisanya belum.
Tanaman dipelajari sebagai objek dari sebuah cabang ilmu pengetahuan disebut botani atau ethnobotani. Tanaman selain berfungsi sebagai penyedia oksigen di dunia juga memiliki banyak manfaat bagi mahluk hidup yaitu :
1. Sebagai makanan
Tanaman saat ini menjadi salah satu penyedia bahan makanan bagi manusia, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Secara langsung tanaman menyediakan bahan makanan pokok seperti gandum, beras dan jagung serta berbagai jenis sayuran dan buah-buahan yang penting untuk nutrisi manusia serta budidaya lainnya seperti kopi, teh, gula, bir, alkohol, dan lain-lain. Selain itu tanaman juga menjadi bahan olahan untuk produk lain seperti mentega, minyak goreng, susu kedelai, dan yang lainnya. Tanamanpun menjadi bahan makanan hewan yang juga menjadi makanan manusia.
2. Sebagai Produk non makanan
Sebagai produk yang bukan makanan, tanaman menghasilkan kayu yang berguna bagi bangunan, kertas, perabot, dan sebagainya, juga sebagai bahan pembuat kain. Hasil tanaman dari jaman purba juga bermanfaat untuk bahan bakar yaitu batu bara. Untuk dunia kedokteran tanaman menghasilkan aspirin, morfin, quinine, dsb dan produk herbal non kimiawi seperti ginseng, temulawak, kunyit, jahe yang digunakan untuk pengobatan tradisional. Tanaman juga menjadi bahan utama kebutuhan rumah tangga dan kecantikan serta menjadi bahan utama pembuatan karet, plastic, permen karet dan bahan kimia organik yang digunakan untuk ilmu pengetahuan dan percobaan.
3. Sebagai penggunaan estetika
Banyak sekali jenis tanaman yang beredar sebagai tanaman hias. Tanaman ini dipelihara oleh berbagai pecinta tanaman baik untuk sekedar menghiasi tempat tinggal mereka ataupun untuk meneduhkan lingkungan, mendinginkan temperatur, mengurangi hembusan angin, mengurangi kebisingan, menambah privasi dan melindungi tanah dari erosi.
4. Sebagai pengembang ilmu pengetahuan dan budaya
Tanaman juga berguna sebagai pendukung ilmu pengetahuan, dunia kedokteran dan berbagai kebudayaan dunia. Seperti kita tahu bahwa para ahli arkeolog dapat mengidentifikasi usia fosil, dan dunia kedokteran tertolong dengan ditemukannya obat bius dari morfin dan kokain. Tanaman juga banyak dipakai sebagai lambang beberapa Negara dan kelompok-kelompok tertentu
2.2 Sistematika dan Botani Tanaman
2.2.1 Sistematika dan Botani Tanaman Kacang Panjang
Sinonim : (Vigna sinensis (L.) Savi ex Hassk.)., Vigna unguiculata (L.) Walp., Vigna cylindrical Endl., Vigna
catjang (Burm.) Walp.
Klasifikasi :
Divisi : Spermatophyta
sub divisi : Angiospermae
kelas : Dicotyledoneae
bangsa : Rosales
suku : Leguminosae (Papilionaceae)
marga : Vigna
jenis : Vigna cylindrica (L.) Skeels
Nama umum/dagang : Kacang panjang
(Hutapea et al., 1994)
Morfologi Tumbuhan
Tanaman kacang panjang merupakan tanaman semak yang hidupnya menjalar dan tanaman kacang panjang ini merupakan tanaman semusim yang dengan tinggi kurang lebih 2,5 m pada bagian batang tanaman kacang panjang ini umumnya tumbuhnya tegak, silindris, lunak dan berwarna hijau dengan permukaan licin kemudian daunnya majemuk, lonjong, berseling, panjang 6-8 cm, lebar 3-4,5 cm, tepi rata, pangkal membulat, ujung lancip, pertulangan menyirip, tangkai silindris, panjang kurang lebih 4 cm, dan berwarna hijau. Kemudian bunga tanaman kacang panjang ini terdapat pada ketiak daun, majemuk, tangkai silindris, panjang kurang lebih 12 cm, berwarna hijau keputih-putihan, mahkota berbentuk kupu-kupu, berwarna putih keunguan, benang sari bertangkai, panjang kurang lebih 2 cm, berwarna putih, kepala sari kuning, putik bertangkai, berwarna kuning, panjang kurang lebih 1 cm, dan berwarna ungu. Kemudian buah tanaman kacang panjang ini berbentuk polong, berwarna hijau, dan panjang 15-25 cm. Bijinya lonjong, pipih, berwarna coklat muda. Akarnya tunggang berwarna coklat muda (Hutapea et al., 1994).
1. Akar tanaman
Tanaman akar panjang berakar tunggang dan berakar serabut. Akar tunggangnya tumbuh lurus ke dalam hingga mencapai kedalaman 30 cm, sedangakan akar serabutnya tumbuh menyebar kea rah samping (horizontal) dan tidak dalam. Panjang akar serabut mencapai 26 cm.
2. Batang
Batang tanaman kacang panjang memiliki cirri-ciri liat, tidak berambut, berbentuk bulat, panjang, bersifat keras, dan berkuran kecil dengan diameter sekitar 0,6 cm-1 cm. Tanaman yang pertumbuhannya bagus, diameter batangnya dapat mencapai 1,2 cm lebih.
3. Daun
Daun kacang panjang merupakan daun majemuk yang bersusun tiga helaian. Daun berbentuk lonjong dengn ujung daun runcing (hampir segitiga). Tepi daun rata, tidak berbentuk, dan memiliki tulang-tulang daun yang menyirip. Kedudukan daun tegak agak mendatar dan memiliki tangkai utama.
Daun panjangnya antara 9 cm-13 cm dan panjang tangkai daun 0,6 cm. permukaan daun kasar, permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua, sedangkan permukaan daun bagian bawah berwarna lebih muda. Ukuran daun kacang panjang sangat bervariasi, yakni panjang daun antara 9 cm-15 cm dan lebar daun antara 5 cm-8 cm.
4. Bunga
Bunga tanaman kacang panjang tergolong bunga sempurna, yakni dalam sau bunga terdapat alat kelamin betina (putik) dan alat kelamin jantan (benang sari). Bunga memiliki tipe zygomorphus (bilateral simetri) dan memiliki bentuk menyerupai kupu-kupu (papilona cues).
Bunga terdiri atas tangkai bunga, kelopak bunga, mahkota bunga (daun mahkota), benang sari, dan kepala putik. Bunga tanaman kacang panjang memiliki dua tangkai, yakni tangkai utama dan tangkai bunga. Tangkai utama berbentuk panjang dan tidak bercabang, serta panjang antara 9 cm-13cm dengan diameter 2 mm. sedangakan tangkai bunga sangat pendek, dan panjangnya sekitar 3 mm.
5. Buah atau polong
Buah tanaman kacang panjang berbentuk bulat panjang dan ramping. Buah kacang panjang ini biasa disebut polong. Polong kacang panjang memiliki ukuran panjang bervariasi antara 30 cm-100 cm, bergantung pada jenis dan varietasnya.
Demikian pula warna polongnya juga bervariasi, antara putih dan putih kekuning-kuningan (polong tua), hijau, hijau muda, dan hijau keputih-putihan (polong muda), bergantung pada jenis dan varietasnya.
6. Biji
Biji kacang panjang berbentuk bulat panjang dan agak pipih, tetapi kadang-kadang juga terdapat sedikit melengkung. Biji yang telah tua memiliki warna yang beragam, yaitu kuning, cokelat, kuning kemerah-merahan, putih, hitam, merah, dan putih, bebercak merah (merah putih), bergantung pada jenis dan varietasnya. Biji memiliki ukuran besar (panjang x lebar), yaitu 8-9 mm x 5-6 mm.
2.2.2 Tanaman Jagung
1. Klasifikasi
Secara umum, klasifikasi dan sistematika tanaman jagung adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Subdivisi : Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas : Monocotyledoneae (berkeping satu)
Ordo : Gramineae (rumput-rumputan)
Famili : Gramineceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
Morfologi Tanaman Jagung
1. Biji
Biji tanaman jagung dikenal sebagai kernel terdiri dari 3 bagian utama, yaitu dinding sel, endosperma, dan embrio. Bagian biji ini merupakan bagian yang terpenting dari hasil pemaneman. Bagian biji rata-rata terdiri dari 10% protein, 70% karbohidrat, 2.3% serat. Biji jagung juga merupakan sumber dari vitamin A dan E. (Belfield dan Brown, 2008).
2. Daun
Pada awal fase pertumbuhan, batang dan daun tidak bisa dibedakan secara jelas. Ini dikarenakan titik tumbuh masih dibawah tanah. Daun baru dapat dibedakan dengan batang ketika 5 daun pertama dalam fase pertumbuhan muncul dari tanah.
Daun terbentuk dari pelepah dan daun (leaf blade & sheath). Daun muncul dari ruas-ruas batang. Pelepah daun muncul sejajar dengan batang. Pelepah daun bewarna kecoklatan yang menutupi hampir semua batang jagung(Belfield dan Brown, 2008).
Daun baru akan muncul pada titik tumbuhnya. Titik tumbuh daun jagung berada pada ruas batang. Daun jagung berjumlah sekitar 20 helai tergantung dari varietasnya. Sejalan dengan pertumbuhan jagung, diameter batang akan meningkat. Pertumbuhan diameter pada tanaman jagung menyebabkan 7-8 daun pada bagian bawah tanaman jagung mengalami kerontokan (Belfield dan Brown, 2008).
3. Batang
Jagung berbentuk ruas. Ruas-ruas berjajat secara vertikal pada batang jagung. Pada tanaman jagung yang sudah tua, jarak antar ruas semakin berkurang (Belfield dan Brown, 2008). Batang tanaman jagung beruas-ruas dengan jumlah 10-40 ruas. Tanaman jagung umumnya tidak bercabang. Batang memiliki dua fungsi yaitu sebagai tempat daun dan sebagai tempat pertukaran unsur hara. Unsur hara dibawa oleh pembuluh bernama xilem dan floem. Floem bergerak dua arah dari atas kebawah dan dari bawah ke atas. Floem membawa sukrose menuju seluruh bagian tanaman dengan bentuk cairan.
4. Akar
Pada tanaman jagung, akar utama yang terluar berjumlah antara 20-30 buah. Akar lateral yang tumbuh dari akar utama mencapai ratusan dengan panjang 2,5-25 cm. Botani tanaman jagung termasuk tanaman monokotil (Tim Kerja Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, 2011). Sistem perakaran tanaman jagung terdiri atas akar-akar seminal, koronal, dan akar udara. Akar utama muncul dan berkembang kedalam tanah saat benih ditanam. Pertumbuhan akar melambat ketika batang mulai muncul keluar tanah dan kemudian berhenti ketika tanaman jagung telah memiliki 3 daun.
Pertumbuhan akar kemudian dilanjutkan dengan pertumbuhan akar adventif yang berkembang pada ruas pertama tanaman jagung. Akar adventif yang tidak tumbuh dari radikula tersebut kemudian melebar dan menebal. Akar adventif kemudian berperan penting sebagai penegak tanaman dan penyerap unsur hara. Akar adventif juga ditemukan tumbuh pada bagian ruas ke 2 dan ke 3 batang, namun fungsi utamanya belum diketahui secara pasti (Belfield dan Brown, 2008).
5. Bunga
Tanaman jagung memiliki bunga jantan dan betina yang letaknya terpisah. Bunga jantan terdapat pada malai bunga di ujung tanaman, sedangkan bunga betina terdapat pada tongkol jagung. Tangkai kepala putik merupakan rambut yang terjumbai di ujung tongkol yang selalu dibungkus kelobot yang jumlahnya 6-14 helai. Pada bunga betina, terdapat sejumlah rambut yang ujungnya membelah dan jumlahnya cukup banyak (Tim Kerja Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, 2011).
Anatomi Tanaman Jagung
1.Akar
Akar pada tanaman jagung terdiri dari epidermis, ground tissue, endodermisyang mengelilingi sistem vaskular akar. Sistem vaskular terdiri dari xilem dan floem. Epidermis tersusun atas sel-sel eliptik dan perhadapan dengan 2 lapis hypodermis.
2. Batang
Pada potongan melintang, jaringan epidermis berbentuk persegi. Sel epidermal mengandung bagian kristal yang memanjang. Di dalam setelah jaringan epidermis, terdapat jaringan sklerenkim yang tebal. Sklerenkim pada batang saling berselang-seling dengan jaringan klorenkim. Sklerenkim sebagian mengandung kumpulan sistem vaskular yang melingkari batang. Terdapat 3-5 sistem vaskular yang mengitari batang. Bagian sistem vaskular yang terluar merupakan yang terkecil. Bagian utama sistem vaskular yangterdiri dari xilem dan floem menyebar di bagian dalam tengah pada batang. Sistem vaskular yang berada di tengah tidak seluas sistem vaskular yang berada pada bagian periferal (pinggir). Sistem vaskular yang terletak pada bagian tengah batang tidak memiliki jaringan sklerenkim. Pada bagian tengah batang. Sklerenkim digantikan oleh jaringan keran bernama parenkim (Malti et al.,2011).
3. Daun
Anatomi dari daun tanaman jagung adalah berkarakter sama dengan rerumputan yang hidup didaerah iklim sedang (mesophytic grass). Jaringan paling luar disebut epidermis yang memiliki kutikula sehingga bersifat kasar. Bentuk selnya adalah batang. Jaringan epidermis selalu berada di luar. Silika kristal terdapat pada beberapa tipe daun yang bervarietas berbeda. Silika kristal bersebelahan dengan jaringan epidermis yang berfungsi sebagai pengikat. Pada tanaman monokotil seperti jagung, daun tidak memiliki jaringan palisade. Setiap sistem vaskular, dikelilingi oleh jaringan parenkim yang keras namun tipis. Sistem vaskular dikelilingi bundle sheath. Jagung adalah tipe tanaman C4. Tanaman C4 memiliki sel kloroplas yang besar dan tersebar secara kaku. Kloroplas terletak didaerah mesofil daun yang terletak pada bagian tengah jaringan daun. (Malti et al., 2011).
4. Biji
Embrio pada tanaman jagung terletak dibawah endosperma. Jaringan endosperma bersifat padat. Embrio terdiri dari radicula dan plumula. Radikula pada embrio dilindungi oleh sel-sel colerorhiza. Plumula dilindungi oleh sel-sel aleuron sel. Sel aleuron bertipe kecil, padat dan berbentuk persegi. Lapisan pelindung paling luar yang menutupi seluruh biji adalah pericarp (Malti et al., 2011).
2.3 Syarat Tumbuh
2.3.1 Syarat Tumbuh Tanaman Jagung
Untuk pertumbuhan yang baik, tanam jagung memerlukan air dan suhu
yang cukup tinggi. Tanam jagung memerllukan panas dan lembab dari waktu
tanam sampai selesai pembuahan. Syarat tumbuh bagi tanaman jagung manis
yakni cahaya matahari cukup atau tidak ternaungi (Emedinta, 2004).
Suhu di indonesia pada umumnya sudah cukup baik untuk pertumbuhan
untuk tanaman jagung. Suhu optimal yang di butuhkan untuk berkecambahnya
biji jagung adalah kurang lebih 30 – 32 C, suhu optimum 24 – 30 0C, curah
hujan merata sepanjang umur tanaman antara 100 – 200 mm per bulan,
ketinggian tempat optimal hingga 300 mdpl (Sujana dkk, 1991).
Selanjutnya di katakan bahwa, intensitas cahaya matahari sangat di
perlukan untuk pertumbuhan yang baik. Sebaiknya tanaman jagung mendapat
cahaya matahari yang langsung, dan jangan menanam jagung pada tempattempat terlindung dari cahaya matahari karena dapat mengurangi hasil.
Syarat tumbuh tanaman jagung manis yaitu curah hujan yang terjadi
selama bulan penanaman cukup tinggi sebesar 309 mm dan 501 mm (rata-rata
427 mm/bulan), nilai curah hujan yang cukup tinggi apabila dibandingkan
dengan distribusi hujan yang ideal bagi pertumbuhan jagung yaitu 200 mm/bln
dan berpotensi menyebabkan pencucian pada unsur hara yang terdapat di tanah.
Dalam suatu langkah budidaya ada hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya
syarat tumbuh, adapun syarat tumbuh tanaman jagung yaitu ketinggian 5-1.200
m dpl, kelembaban 80%, pH 2,3 dan suhu 15 - 20oC (Falah, 2009).
yang cukup tinggi. Tanam jagung memerllukan panas dan lembab dari waktu
tanam sampai selesai pembuahan. Syarat tumbuh bagi tanaman jagung manis
yakni cahaya matahari cukup atau tidak ternaungi (Emedinta, 2004).
Suhu di indonesia pada umumnya sudah cukup baik untuk pertumbuhan
untuk tanaman jagung. Suhu optimal yang di butuhkan untuk berkecambahnya
biji jagung adalah kurang lebih 30 – 32 C, suhu optimum 24 – 30 0C, curah
hujan merata sepanjang umur tanaman antara 100 – 200 mm per bulan,
ketinggian tempat optimal hingga 300 mdpl (Sujana dkk, 1991).
Selanjutnya di katakan bahwa, intensitas cahaya matahari sangat di
perlukan untuk pertumbuhan yang baik. Sebaiknya tanaman jagung mendapat
cahaya matahari yang langsung, dan jangan menanam jagung pada tempattempat terlindung dari cahaya matahari karena dapat mengurangi hasil.
Syarat tumbuh tanaman jagung manis yaitu curah hujan yang terjadi
selama bulan penanaman cukup tinggi sebesar 309 mm dan 501 mm (rata-rata
427 mm/bulan), nilai curah hujan yang cukup tinggi apabila dibandingkan
dengan distribusi hujan yang ideal bagi pertumbuhan jagung yaitu 200 mm/bln
dan berpotensi menyebabkan pencucian pada unsur hara yang terdapat di tanah.
Dalam suatu langkah budidaya ada hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya
syarat tumbuh, adapun syarat tumbuh tanaman jagung yaitu ketinggian 5-1.200
m dpl, kelembaban 80%, pH 2,3 dan suhu 15 - 20oC (Falah, 2009).
2.3.2 Syarat Tumbuh Tanaman Kacang Panjang
A. Tanah
Kacang panjang dapat tumbuh dengan baik ditanam di dataran tinggi, yaitu sekitar 1.500-2000 meter di atas permukaan laut. Jenis tanah yang cocok adalah regosol karena mempunyai drainase yang baik. Tanah regosol hanya terdapat di daerah pegunungan yang mempunyai iklim sedang dengan curah hujan di atas 1500 mm/tahun. Tanah regosol biasanya berwarna kelabu, cokelat, dan kuning, bertekstur pasir sampai berbutir tunggal dan permeabel. Derajat keasaman (pH) yang optimal untuk pertumbuhan kacang panjang adalah 5,5-6.
B. Iklim
1) Curah Hujan
Kacang panjang dapat tumbuh dengan baik pada daerah dengan curah hujan 1.500 – 2.500 mm per tahun. Tanaman ini paling baik ditanam pada akhir musim kemarau (menjelang musim hujan) atau akhir musim hujan (menjelang musim kemarau). Pada saat peralihan, air hujan tidak begitu banyak sehingga sangat cocok untuk fase pertumbuhan awal kacamg panjang, fase pengisian, dan pemasakan polong. Pada fase tersebut dikhawatirkan terjadi serangan penyakit bercak bila curah hujan terlalu tinggi.
2) Suhu
Suhu udara yang paling baik untuk pertumbuhan kacang panjang adalah 20 – 25°C. Pada suhu kurang dari 20 °C tanaman tidak dapat melakukan proses fotosintesis dengan baik, akibatnya pertumbuhan tanaman menjadi terhambat .
3) Cahaya Matahari
Cahaya matahari diperlukan oleh tanaman untuk proses fotosintesis. Umumnya kacang panjang membutuhkan cahaya matahari yang besar.
4) Kelembapan udara
Kelembapan yang diperlukan kacang panjang sekitar 45 – 50 %. Kelembapan ini agak sulit diukur, tetapi dapat diperkirakan dari suburnya.
2.4 Monokultur dan Tumpang Sari
Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman pada lahan dalam waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-barisan tanaman. Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan pada dua atau lebih jenis tanaman yang relatif seumur, misalnya jagung dan kacang tanah atau bisa juga pada beberapa jenis tanaman yang umurnya berbeda-beda. Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu diperhatikan beberapa faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh diantaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar matahari dan hama penyakit. Penentuan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan dan saat penanaman sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari persaingan (penyerapan hara dan air) pada suatu petak lahan antar tanaman
Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertaniandengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Cara budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke-20 di dunia serta menjadi penciri pertanian intensif dan pertanian industrial. Monokultur menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam
Cara budidaya ini biasanya dipertentangkan dengan pertanaman campuranatau polikultur. Dalam polikultur, berbagai jenis tanaman ditanam pada satu lahan, baik secara temporal (pada waktu berbeda) maupun spasial (pada bagian lahan yang berbeda). Pertanaman padi, jagung, atau gandum sejak dulu bersifat monokultur karena memudahkan perawatan. Dalam setahun, misalnya, satu lahan sawah ditanami hanya padi, tanpa variasi apa pun. Akibatnya hama atau penyakit dapat bersintas dan menyerang tanaman pada periode penanaman berikutnya. Pertanian pada masa kini biasanya menerapkan monokultur spasial tetapi lahan ditanami oleh tanaman lain untuk musim tanam berikutnya untuk memutus siklus hidup OPT sekaligus menjaga kesehatan tanah
2.5 Pupuk dan Pemupukan
a. Defenisi Pupuk
Pupuk merupakan substansi yang ditambahkan kedalam tanah untuk menyediakan asupan bagi tanaman dengan satu elemen yang diperlukan atau lebih.
Pupuk adalah bahan bahan yang memberikan zat makanan kepada tanaman. Zat makanan (hara) tersebut berupa unsur kimia yang digunakan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan mempertahankan pertumbuhannya.
Fertilizer is a material that is added to the growing medi and plants to provide for the necessary plat nutrients so that they can produce well. (Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik).
Definisi Pemupukan
Pemupukan adalah penambahan zat-zat yang diperlukan tanaman untuk kelangsungan hidupnya.
Pemupukan adalah suatu cara pemberian unsur hara atau pupuk kepada tanah dengan tujuan agar dapat diserap oleh tanaman (unsur hara adalah makanannya tanaman).
Fertilizing is availability of organic material in the soil for supporting plant growth. (Pemupukan adalah ketersediaan dari bahan organik di dalam tanah untuk membantu proses pertumbuhan tanaman
Macam-macam Pupuk
Berdasarkan macamnya, pupuk terdiri dari dua macam, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik.
1. Pupuk organik
Pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses pembusukan oleh bakteri pengurai. Macam-macamnya antara lain:
a. Pupuk kandang, merupakan pupuk yang berasal dari kotoran hewan
b. Pupuk hijau, merupakan pupuk organik yang berasal dari tanaman atatu berupa sisa panen.
c. Kompos, sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan dan limbah pabrik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi.
d. Humus, merupakan material organik yang berasal dari degradasi ataupun pelapukan daun-daunan dan ranting-ranting tanaman yang membusuk, yang akhirnya mengubah humus menjadi tanah.
e. Mikroba Penyubur Tanah, Mikroba yang dikemas sebagai pupuk cair disemprotkan ke tanah hingga berkembang biak dan memberi dampak positif bagi kesuburan tanah.
2. Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik atau pupuk buatan (dari senyawa anorganik) adalah pupuk yang sengaja dibuat oleh manusia dalam pabrik dan mengandung unsur hara tertentu dalam kadar tinggi. Pupuk anorganik digunakan untuk mengatasi kekurangan mineral murni dari alam yang diperlukan tumbuhan untuk hidup secara wajar. Puuk anorganik dapat menghasilkan bulir hijau dan yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis.
Berdasarkan kandungan unsur-unsurnya, pupuk anorganik digolongkan sebagai berikut :
a. Pupuk Tunggal
Pupuk tunggal yaitu pupuk yang mengandung hanya satu jenis unsure hara sebagai penambah kesuburan. Contoh pupuk tunggal yaitu pupuk N, P, dan K.
· Pupuk Nitrogen.
Fungsi nitrogen (N) bagi tumbuhan adalah:
1) Mempercepat pertumbuhan tanaman, menambah tinggi tanaman, dan merangsang pertunasan.
2) Memperbaiki kualitas, terutama kandungan proteinnya.
3) Menyediakan bahan makanan bagi mikroba (jasad renik)
Pupuk yang paling banyak mengandung unsure nitrogen adalah pupuk urea.
· Pupuk Fosforus
Fosforus (P) bagi tanaman berperan dalam proses:
1) Respirasi dan fotosintesis
2) Penyusunan asam nukleat
3) Pembentukan bibit tanaman dan penghasil buah.
4) Perangsang perkembangan akar, sehingga tanaman akan lebih tahan terhadap kekeringan, dan,
5) Mempercepat masa panen sehingga dapat mengurangi resiko keterlambatan waktu panen.
Unsure fosfor diperlukan diperlukan dalam jumlah lebih sedikit daripada unsure nitrogen. Fosfor diserap oleh tanaman dalam bentuk apatit kalsium fosfat, FePO4, dan AlPO4.
· Pupuk Kalium
Fungsi kalium bagi tanaman adalah:
1) Mempengaruhi susunan dan mengedarkan karbohidrat di dalam tanaman.
2) Mempercepat metabolisme unsure nitrogen.
3) Mencegah bunga dan buah agar tidak mudah gugur.
b. Pupuk Majemuk
Pupuk majemuk yaitu pupuk yang mengandung lebih dari satu unsure hara yang digunakan untuk menambah kesuburan tanah. Contoh pupuk majemuk yaitu NP, NK, dan NPK. Pupuk majemuk yang paling banyak digunakan adalah pupuk NPK yang mengandung senyawa ammonium nitrat (NH4NO3), ammonium dihidrogen fosfat (NH4H2PO4), dan kalium klorida (KCL).
Penggunaan pupuk majemuk harus disesuaikan dengan kebutuhan dari jenis tanaman yang akan dipupuk karena setiap jenis tanaman memerlukan perbandingan N, P, dan K tertentu. Di Indonesia beredar beberapa jenis pupuk majemuk dengan komposisi N, P, dan K yang beragam.
b. Bentuk-bentuk Pupuk
1. Pupuk Padat
Untuk membantu pertumbuhan tanaman dapat dilakukan dengan pupuk yang padat. Pupuk padat lebih lama untuk diserap tanaman. Karena harus diubah dan mencampur dahulu didalam tanah agar dapat dimanfaatkan dengan baik.
2. Pupuk Cair
Untuk memudahkan unsur hara dapat diserap tanah dan tanaman bahan organik dapat dibuat menjadi pupuk cair terlebih dahulu. Pupuk cair menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman (Hardjowigeno,2004)
c. Teknik Aplikasi Pupuk
1) Larikan
Caranya buat parit kecil disamping barisan tanaman sedalam 6-10 cm. Tempatkan pupuk di dalam larikan tersebut, kemudian tutup kembali. Pada jenis pepohonan, larikan dapat dibuat melingkar disekeliling pohon dengan jari-jari 0,5-1 kali jari-jari tajuk.
2) Penebaran secara merata di atas permukaan tanah
Caranya setelah pupuk ditebar, lanjutkan dengan pengolahan tanah seperti pada aplikasi kapur dan pupuk organik. Cara ini menyebabakan distribusi unsur hara dapat merata sehingga perkembangan akarpun lebih seimbang.
3) Penugalan
Caranya, tempatkan pupuk kedalam lubang di samping tanaman sedalam 10-15 cm. Lubang tersebut dibuat dengan alat tugal. Setelah pupuk dimasukkan, tutup kembali lubang dengan tanah untuk menghindari penguapan.
4) Fertigasi
Caranya, pupuk dilarutkan dalam air dan disiramkan pada tanaman melalui air irigasi. Cara ini dilakukan untuk tanaman yang pengairannya menggunakan sistem sprinkel.
d. Kelebihan dan Kekurangan Pupuk Organik dan Anorganik
1. Kelebihan Pupuk Organik
Kelebihan dari pupuk organik antara lain:
a) Pupuk organik mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Kondisi ini tidak dimiliki oleh pupuk buatan (anorganik).
b) Pupuk organik mengandung asam – asam organik, antara lain asam humic, asam fulfic, hormon dan enzym yang tidak terdapat dalam pupuk buatan yang sangat berguna baik bagi tanaman maupun lingkungan dan mikroorganisme.
c) Pupuk organik mengandung makro dan mikro organisme tanah yang mempunyai pengaruh yang sangat baik terhadap perbaikan sifat fisik tanah dan terutama sifat biologis tanah.
d) Memperbaiki dan menjaga struktur tanah.
e) Menjadi penyangga pH tanah.
f) Menjadi penyangga unsur hara anorganik yang diberikan.
g) Membantu menjaga kelembaban tanah
h) Aman dipakai dalam jumlah besar dan berlebih sekalipun
i) Tidak merusak lingkungan.
2. Kekurangan Pupuk Organik
Kekurangan dari pupuk organik antara lain:
a) Kandungan unsur hara jumlahnya kecil, sehingga jumlah pupuk yang diberikan harus relatif banyak bila dibandingkan dengan pupuk anorganik.\
b) Karena jumlahnya banyak, menyebabkan memerlukan tambahan biaya operasional untuk pengangkutan dan implementasinya.
c) Dalam jangka pendek, apalagi untuk tanah-tanah yang sudah miskin unsur hara, pemberian pupuk organik yang membutuhkan jumlah besar sehingga menjadi beban biaya bagi petani. Sementara itu reaksi atau respon tanaman terhadap pemberian pupuk organik tidak se-spektakuler pemberian pupuk buatan.
3. Kelebihan pupuk anorganik
Kelebihan dari pupuk anorganik antara lain:
a) Pemberiannya dapat terukur dengan tepat
b) Kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang tepat
c) Pupuk anorganik tersedia dalam jumlah cukup
d) Pupuk anorganik mudah diangkut karena jumlah nya relatif sedikit dibandingkan dengan pupuk organik
4. Kekurangan pupuk anorganik
Kekurangan dari pupuk anorganik antara lain:
a) Selain hanya mempunyai unsur makro, pupuk anorganik ini sangat sedikit ataupun hampir tidak mengandung unsur hara mikro
b) Meninggalkan residu ke dalam tanah
c) Dalam jangka panjang akan merusak sifat fisik, kimia dan biologi tanah
d) Degradasi unsur hara (Lingga dan Mansono,2000)
2.6 Hama dan Penyakit Tanaman
Hama adalah hewan yang mengganggu atau merusak tanaman sehingga pertumbuhan dan perkembangannya terganggu. Hama dapat merusak tanaman secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan atau serangan hama dapat terjadi sejak benih, pembibitan, pemanenan, hingga di gudang penyimpanan. Gangguan dan serangan itu dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hama yang menyerang tanaman ada beraneka ragam, misalnya wereng, gangsir, tikus, ulat tanah, lalat buah, walang sangit, dan kutu. Selain itu, tanaman juga dapat terserang berbagai macam penyakit. Penyakit tanaman dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, dan alga.
Contoh hewan yang termasuk hama antara lain sebagai berikut.
1. Wereng
Wereng adalah sejenis kepik yang menyerang tumbuhan dan menyebabkan daun dan batang menjadi berlubang-lubang. Jika serangannya parah maka daun akan menguning, kering, dan akhirnya mati. Wereng dapat dikendalikan secara kimiawi, misalnya dengan penyemprotan menggunakan insektisida. Menyemprot dengan pestisida harus menggunakan baju lengan panjang, sarung tangan, penutup muka (masker), topi, sepatu, dan diupayakan tidak melawan arah angin.
2. Gangsir
Gangsir merupakan binatang yang sering menyerang tanaman yang masih muda, misalnya tanaman yang baru dipindah dari persemaian. Gigitan gangsir menyebabkan tanaman mati karena batangnya putus atau patah. Potongan pangkal batang itu biasanya tidak dimakan tapi hanya diputus.
Serangan gangsir biasanya terjadi pada malam hari. Gangsir membuat liang di dalam tanah sampai kedalaman 90 cm dengan ciri khas ada onggokan tanah di permukaan liang. Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan tidak menanam bibit yang terlalu muda karena disukai gangsir. Adapun pengendalian terhadap gangsir dapat dilakukan dengan menyiram larutan insektisida pada liang gangsir kemudian ditutup dengan tanah.
3. Tikus
Tikus merupakan hama tanaman yang sangat merugikan petani karena hal-hal sebagai berikut.
a. Menyerang tanaman pada masa persemaian, pertumbuhan, pembungaan, panen, hingga masa penyimpanan.
b. Sulit dikendalikan karena memiliki daya adaptasi yang baik.
c. Memiliki kemampuan berkembang biak yang tinggi dan penyebarannya cepat. Tikus betina dapat melahirkan 4 sampai dengan 12 anak dalam satu siklus reproduksi.
d. Memakan bagian tanaman seperti biji-bijian, umbi tanaman, dan buah. Selain itu, tikus juga merusak batang tanaman. Tanda-tanda serangan tikus antara lain adanya kerusakan tanaman, ada jejak dan kotoran tikus, adanya bekas potongan-potongan pada tanaman yang dirusak tikus, serta adanya liang tikus.
Pengendalian tikus dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.
a. Pemberian racun tikus yang bersifat akut. Racun ini jika termakan oleh tikus dapat membunuh tikus hanya dalam beberapa jam.
b. Gropyokan, yaitu memburu dan membunuh tikus secara beramai-ramai dalam sebuah desa atau wilayah kelompok tani.
c. Emposan, yaitu dengan membakar campuran belerang dan jerami diarahkan ke dalam liang tikus. Sebelumnya lubang-lubang yang ada ditutup agar tidak ada tikus yang lari keluar melalui lubang lain.
d. Pengendalian biologis dilakukan dengan melepaskan musuh alami, misalnya burunghantu,kucing,danular sawah.
e. Penanaman padi secara serentak, yaitu agar serangan tikus tidak memusat pada salah satu wilayah persemaian.
4. Lalat buah
Lalat buah biasanya menyerang tanaman pada waktu musim hujan. Lalat betina menusuk buah-buahan dengan alat peletak telur untuk memasukkan telurnya ke dalam daging buah. Telur akan menetas dan menjadi belatung yang memakan buah tersebut sehingga buah akan busuk dan rusak. Pengendalian lalat buah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a. Sanitasi lingkungan dengan membersihkan semua buah yang rontok.
b. Pemasangan perangkap berupa sex pheromon.
c. Penyemprotan insektisida secara berselang-seling. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari ketika masih ada embun.
5. Walang sangit
Walang sangit merupakan serangga hama tanaman padi. Setiap kali bertelur, serangga betina dapat menghasilkan 100–200 butir telur. Telur-telur tersebut diletakkan pada daun bendera tanaman padi. Telur yang telah menetas akan menjadi nimfa yang berwarna hijau dan berangsur-angsur menjadi coklat. Nimfa dan imago menyerang buah padi yang sedang matang susu dengan cara menghisap cairan buah sehingga menyebabkan buah menjadi hampa. Pengendalian terhadap wereng coklat dapat dilakukan dengan cara menanam secara serentak, sanitasi tanaman yang terserang, atau dengan penyemprotan insektisida dengan dosis yang sesuai.
6. Artona
Hama ini temasuk lepidoptera (kupu yang merusak tanaman ketika stadia larva). Artona menjadi hama bagi tanaman kelapa. Ulat yang baru menetas menyerang dengan menimbulkan gejala serangan titik-titik pada daun. Setelah agak besar, ulat menimbulkan gejala serangan garis-garis pada daun. Selanjutnya, ulat yang cukup besar memakan daun kelapa berikut tulang daunnya sehingga daun kelapa hanya tinggal lidinya saja. Pengendalian terhadap artona dilakukan dengan memangkas daun kelapa yang sudah terserang agar ulat dan kepompongnya ikut terbuang. Pengendalian hayati dengan melepas parasit Apanteles artonae. Pada areal pertanaman yang luas dapat dilakukandengan larutan insektisida yang bersifat sistemik atau racun perut. Upaya pengendalian dan pemberantasan hama tanaman secara garis besar dapat dilakukan melalui dua macam cara, yaitu secara kimiawi dan secara biologi.
Pengendalian hama secara kimiawi merupakan upaya pengendalian pertumbuhan hama tanaman menggunakan pestisida, yaitu zat kimia pembasmi hama tanaman. Pestisida terdiri atas insektisida, larvasida, fungisida, dan algasida
a. Insektisida digunakan untuk memberantas serangga (insekta).
b. Larvasida digunakan untuk memberantas larva (ulat).
c. Fungisida digunakan untuk memberantas jamur (fungi).
d. Algasida digunakan untuk memberantas ganggang (algae).
Penggunaan pestisida harus dilakukan secara cermat dan hati-hati mengikuti aturan pakai. Hal ini karena pestisida terbuat dari zat kimia yang berbahaya. Dampak penggunaan pestisida antara lain sebagai berikut.
a. Dapat membunuh hewan lain yang sebenarnya bermanfaat bagi manusia.
b. Apabila masuk ke dalam bahan makanan dapat bersifat racun sehingga membahayakan kesehatan manusia.
c. Dapat merusak keseimbangan ekosistem.
Ada juga pengendalian hama secara kimiawi dengan menggunakan sistem fumigasi. Fumigasi adalah cara pengendalian hama dengan menggunakan gas beracun Methyl Bromide (CH3Br). Dengan dosis yang sesuai, fumigasi dapat membunuh rayap, tikus, kumbang, ngengat, dan lainlain. Fumigasi memiliki tingkat penetrasi yang tinggi dan dapat membunuh
semua tingkat perkembangan hama tanpa mengotori bahan atau tanaman= yang difumigasi. Namun, karena bahan yang digunakan adalah senyawa beracun maka penggunaan lebih lanjut masih dipelajari lebih lanjut supaya tidak terjadi dampak yang merugikan.
Pemberantasan hama secara biologi merupakan upaya pengendalian hama tanaman dengan menggunakan agen pemangsa alami (predator). Contoh berbagai hewan pemangsa hama tanaman antara lain lebah penyengat, semut rangrang, dan burung hantu.
a. Ulat kupu artona diberantas dengan hewan semacam lebah penyengat.
b. Kutu loncat diberantas dengan semut rangrang.
c. Tikus diberantas dengan burung hantu.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Dasar-Dasar Agronomi ini dilaksanakan pada 16 Maret 2015 – 3 Juni 2015 dan ketika mengamati berat basah dan berat kering pada tanggal 4 Juni 2015 dan 8 Juni 2015. Bertempat di lahan Perkebunan Kawasan Pertanian Terpadu Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten dan pengamatan lanjutan dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan adalah cangkul, arit, golok, meteran atau penggaris, tali rapia, alat tulis, air, ember, timbangan analitik dan oven.
3.3 Cara Kerja
· Persiapan lahan
1. Membersihkan lahan,
2. Mengukur luas lahan yang akan digunakan.
· Pengelolahan
1. Membuat bedengan dengan luas 50 cm dan kedalaman 25 cm,
2. Menggemburkan lahan,
3. Mencampurkan pupuk dengan tanah yang sudah gembur,
4. Mengukur jarak tanam. Jarak yang digunakan 70x50 cm,
5. Membuat lubang tanam sebanyak 35 lubang.
· Penanaman
1. Melakukan penyeleksian bibit dengan cara perendaman,
2. Memasukkan bibit ke dalam lubang tanam dengan jumlah bibit 2.
3. Menutup lubang tanam dengan pupuk.
· Pemeliharaan
1. Menyiram tanaman setiap hari pada waktu pagi atau sore hari,
2. Membersihkan lahan dari gulma yang mengganggu.
· Penyulaman
1. Menanam bibit pada tempat yang berbeda dari lahan,
2. Bila pada lahan terdapat tanaman yang rusak maka tanaman tersebut diganti dengan tanaman yang ditanam di tempat lain.
· Penyiraman
1. Menyiram tanaman setiap hari pada waktu pagi atau sore hari,
2. Menyiram seluruh area lahan.
· Penyiangan
1. Penyiangan tanaman dilakukan setelah penyiraman.
· Penjarangan
1.
· Pembubunan
1. Pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan,
2. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman.
· Panen
1.Mencabut tanaman secara hati-hati agar akar tidak terputus,
2. Memisahkan bagian-bagian tanaman.
· Pasca Panen
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
Pengaruh populasi terhadap tumpangsari menunjukkan perbedaan yang signifikan.Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor terutama pemberian dosis pupuk dan jumlah populasi. Jumlah populasi yang banyak akan mempengaruhi produktivitas tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tongkol, jumlah bunga, jumlah polong, jumlah polong per seratus butir. Dengan populasi yang banyak maka tanaman akan saling berebut dalam memperoleh unsur hara dan cahaya matahari untuk pertumbuhannya. Dari hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh bahwa tinggi tanaman dari minggu ke minggu yang semakin meningkat. Tetapi ada juga beberapa jumlah daun yang menguning dan rontok disebabkan serangan hama dan penyakit serta kurangnya unsur hara yang saling dibutuhkan oleh tanaman lain.Walaupun pada minggu terakhir mengalami penurunan karena disebabkan oleh serangan penyakit.Bunga pada tanaman kacang panjang muncul pada minggu ke-5 kemudian pada minggu ke-6 bunga tersebut rontok karena diakibatkan oleh angin dan faktor cuaca lainnya.
Pada saat penanaman tanaman jagung dan kacang panjang kami kekurangan benih jagung, sehingga sekitar 60% lahan kami di tanami dengan tanaman kacang panjang. Dan beberapa hari kemudian kami melakukan penanaman beni jagung. Pada saat penanaman tanaman jagung seluruh benih yang ditanam dilahan semuanya tidak tumbuh karena benih tanaman jagung yang ditanam memiliki kualitas yang rendah dan warna benih terlihat jelek.Namun pada saat penanaman ulang, tanaman jagung berhasil tumbuh meskipun hanya ada beberapa tanaman jagung yang tumbuh sedangkan yang lainnya tidak tumbuh.Hal ini disebabkan dari faktor benih yang kurang baik dan kurangnya unsur hara dalam tanah dan juga faktor lainnya seperti iklim, cuaca, curah hujan.
Beberapa minggu kemudaian tanaman kacang pun tumbu dengan baik tetapi tanaman jagung tumbuh kurang baik, munkin hal ini di ebabkan oleh unsur hara tanah yang berkurang karena menanam dua tanaman dalam satu lahan sekaligus. Dan hasilnya setelah beberapa minggu sekitar minggu ke 7 dan ke 8 tanaman jagung kami terlihat lebih kerdil dari pada tanaman monokultur jagung yang lainnya. Mungkin hal tersebut di sebabkan oleh unsur yang di dalam tanah harus terbagi oleh keua tanaman.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Tumpangsari merupakan suatu sistem penanaman yang dilakukan pada beberapa tanaman dalam satu lahan yang sama dan dalam waktu yang bersamaan pula. Sistem penanaman tumpang sari merupakan suatu cara untuk meningkatkan lahan kering.Dalam praktikum ini mengamati mengenai pengaruh populasi terhadap tumpangsari tanaman jagung dan tanaman kacang panjang.
Jagung (Zea maysL.) merupakan salah satu tanaman serealia yang tumbuh hampir di seluruh dunia dan tergolong spesies dengan variabilitas genetik yang besar.Kacang panjang (vigna sinensis.) merupakan salah satu tanaman kacang-kacangan yang populer di Indonesia.
Pengaruh populasi terhadap tumpangsari menunjukkan perbedaan yang signifikan.Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor terutama pemberian dosis pupuk dan jumlah populasi. Jumlah populasi yang banyak akan mempengaruhi produktivitas tanaman seperti tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tongkol, jumlah bunga, jumlah polong, jumlah polong per seratus butir. Dengan populasi yang banyak tanaman akan saling berebut dalam memperoleh unsur hara dan cahaya matahari untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa dalam suatu budidaya tanaman baik secara monokultur maupun tumpang sari harus diperhatikan dalam aspek pemeliharaan dan kondisi tanah. Karena akan mempengaruhi fase pertumbuhan suatu tanaman baik fase vegetatif maupun generatif.
5.2 Saran
Dalam melakukan budidaya tanaman secara tumpangsari perlu diperhatikan kondisi dari lingkungan tanaman yang hendak dijadikan media tanam juga tanaman yang akan di tumpangsari kan haruslah tanaman yang mampu mengefisienkan waktu dan diperlukan pengaturan tanaman yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Fachruddin, Ir. Lisdiana. 2007. Budidaya kacang – kacangan . Kanisius : Yogyakarta
Suhardiman, Edi. 2003. Kumpulan Buku Budidaya Tanaman
Sumadi, Suprapto Hardjo dan Rasyid Marzuki. 2004. Seri Agribisnis Bertanam Jagung Edisi Revisi. Penebar Swadaya: Jakarta

EmoticonEmoticon