-->

Bahan dan materi laporan praktikum DDA (dasar-dasar agronomi)


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agronomi merupakan istilah yang tidak asing lagi di bidang pertanian. Istilah itu belakangan ini diartikan sebagai usaha dalam membudidayakan tanaman-tanaman pertanian atau sering disebut dengan budidaya pertanian. Dalam membudidayakan tanaman yang di dasar ialah produksi yang tinggi baik mutu maupun jumlahnya. Tanaman agronomi terbagi atas beberapa bagian yaitu tanaman pangan, tanaman kehutanan, tanaman perkebunan, dan lain-lain. Tanaman yang saat ini masih menjadi sumber kebutuhan dalam memenuhi kecukupan gizi yaitu tanaman pangan yang di Indonesia sendiri menjadi kebutuhan pokok yaitu padi, jagung, kedelai dan lainnya.
Pada praktikum ini tanaman yang akan dijadikan bahan dan percobaan yaitu tanaman jagung karena tanaman ini sebagian besar masih di budidayakan sebagai bahan pangan maupun pakan yang memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi setelah beras, jagung (Zea mays. L) adalah salah satu tanaman pangan dunia yang penting, selain gandum dan padi. Penduduk beberapa daerah di Indonesia seperti Madura dan Nusa Tenggara juga menggunakan jagung sebagai tanaman pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat dari tepung (dari biji), dan bahan baku industri. Tongkol jagung mengandung banyak pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika saat ini juga ditanam sebagai bahan penghasil farmasi.

Jagung merupakan tanaman semusim yang mempunyai siklus hidup 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus hidup merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif dan disebut sebagai varietas profilik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri). Bunga betina jagung berupa “tongkol” yang terbungkus oleh semacam pelepah daun dengan “rambut”. Pada jagung manis kandungan gula relatif lebih tinggi daripada jagung biasa.


B. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah :
1.      Mahasiswa bisa melakukan prinsip budidaya tanaman jagung manis.
2.      Mahasiswa dapat membandingkan produksi jagung manis yang di tanam dengan jarak tanam dan kepadatan populasi yang berbeda.
3.      Mahasiswa dapat melakukan cara panen tanaman jagung manis.



II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tanaman
Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) berasal dari Brasilia yang diduga masuk ke Indonesia pada pertengahan abad ke-16 yang konon memiliki beberapa nama antara lain kacang brudul (Jawa), kacang cina dan kacang brol. Pola tanam kacang tanah sudah tersebar di seluruh penjuru dunia dengan total luas panen ±21 juta hektar, dimana produktivitas rata-ratanya 1,1 ton/hektar polong kering. Adapun di Asia ternyata Indonesia menempati urutan ketiga terbesar menurut luas arealnya 650.000 hektar setelah India 9 juta hektar dan Cina 2,2 juta hektar, sedangkan di dunia merupakan urutan ketujuh sebagai produsen kacang tanah terbesar setelah India, Cina, Amerika Serikat, Senegal, Nigeria dan Brazil (Indrasti, 2003).
Namun demikian yang memprihatinkan kita adalah produktivitas kacang tanah Indonesia yang masih sangat rendah yaitu sekitar 1 ton per hektar, dimana tingkat produktivitas yang dicapai baru setengahnya dari potensi hasil riil apabila dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Cina yang sudah mencapai lebih dari 2 ton per hektar. Hal tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh perbedaan teknologi produksi, namun juga karena adanya pengaruh faktor-faktor lain seperti karakter agroklimat, umur panen, intensitas dan jenis hama penyakit, cara usaha taninya serta varietas yang ditanam. Survei membuktikan bahwa potensi biologis tertinggi tingkat produktivitas kacang tanah yang pernah dicapai oleh Indonesia antara 3,0 – 4,5 ton per hektar (Indrasti, 2003).
Kacang tanah berasal dari Amerika Selatan. Di Indonesia dari sekian jenis kacang-kacangan, produksi kacang tanah menempati urutan kedua setelah kacang kedelai. Kacang tanah merupakan tanaman bahan makanan dan bahan industri yang sudah lama dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia. Bijinya mengandung protein dan lemak yang cukup (http://docstoc.com, 2010).
Kacang tanah merupakan tanaman setahun, termasuk famili Leguminoceae. Kacang tanah berasal dari Amerika Latin dan berkembang ke negara-negara Asia seperti India, Filipina, Jepang dan Indonesia. Di Indonesia, menurut hasil Balai Penelitian Kacang-kacangan di Bogor, telah dikenal 4 macam varietas unggul yaitu varietas Gajah, Banteng, Macan, dan Kijang. Varietas Kijang mempunyai kandungan minyak terbesar yaitu 49,9 persen dari berat daging (http://docstoc.com, 2010). Budidaya tanaman kacang tanah disamping dapat mengembalikan kesuburan tanah dan memotong siklus hidup hama dan penyakit, juga merupakan penganeka ragaman hasil pertanian. Kacang tanah merupakan hasil petanian yang mempunyai nilai gisi yang sangat tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai produk makanan (Duniaji dan Wisaniyasa, 2008). Cara pertumbuhan kacang tanah secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu tipe tegak (bunch type) dan tipe menjalar (runner type). Biasanya kacang tanah dengan pertumbuhan tipe tegak dipanen pada umur 100 – 130 hari setelah penanaman, sedangkan tipe menjala dipanen pada umur 130 – 150 hari setelah penanaman (Weiss, 1983).
Sebagai tanaman budidaya, kacang tanah terutama dipanen bijinya yang kaya protein dan lemak. Biji ini dapat dimakan mentah, direbus (di dalam polongnya), digoreng, atau disangrai. Di Amerika Serikat, biji kacang tanah diproses menjadi semacam selai dan merupakan industri pangan yang menguntungkan. Produksi minyak kacang tanah mencapai sekitar 10% pasaran minyak masak dunia pada tahun 2003 menurut FAO. Selain dipanen biji atau polongnya, kacang tanah juga dipanen hijauannya (daun dan batang) untuk makanan ternak atau merupakan pupuk hijau (Wikipedia, 2010).
Kacang tanah pada mulanya hanya digunakan untuk makanan hewan terutama babi, sapi dan ayam. Di Amerika sekitar 48% dari jumlah produksi rata-rata dipergunakan untuk pembuatanpeanut butter, sebanyak 23% untuk kembang gula, 22% untuk kacang asin, dan 4% untuk disangrai. Di India digunakan untuk pembuatan susu secara besar-besaran sebagai pengganti susu sapi, karena terbatasnya produksi susu sapi dalam negeri (Ketaren, 1986).

B. Syarat Tumbuh
Kacang Tanah dapat tumbuh dengan subur apabila memenuh syarat-syarat sebagai berikut :
1. Iklim
Curah hujan yang sesuai untuk tanaman kacang tanah antara 800-1.300 mm/tahun. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan rontok dan bunga tidak terserbuki oleh lebah. Selain itu, hujan yang terus-menerus akan meningkatkan kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah. Suhu udara bagi tanaman kacang tanah tidak terlalu sulit, karena suhu udara minimal bagi tumbuhnya kacang tanah sekitar 28–32 derajat C. Bila suhunya di bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, bahkan jadi kerdil dikarenakan pertumbuhan bunga yang kurang sempurna. Kelembaban udara untuk tanaman kacang tanah berkisar antara 65-75 %. Adanya curah hujan yang tinggi akan meningkatkan kelembaban terlalu tinggi di sekitar pertanaman. Penyinaran sinar matahari secara penuh amat dibutuhkan bagi tanaman kacang tanah, terutama kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang.
2. Media Tanam
Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman kacang tanah adalah jenis tanah yang gembur/bertekstur ringan dan subur. Derajat keasaman tanah yang sesuai untuk budidaya kacang tanah adalah pH antara 6,0–6,5. Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati. Air yang diperlukan tanaman berasal dari mata air atau sumber air yang ada disekitar lokasi penanaman. Tanah berdrainase dan berserasi baik atau lahan yang tidak terlalu becek dan tidak terlalu kering, baik bagi pertumbuhan kacang tanah.
3. Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman kacang tanah adalah pada ketinggian antara 500 m dpl. Jenis kacang tanah tertentu dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.







III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan Waktu
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Ekologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya dan juga dilaksanakan di lahan percobaan Dasar-Dasar Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya pada tanggal 2 Mei 2013, pada pukul 14.30 WIB dan pengamatan dilakukan 1 kali seminggu dan dilakukan 5 kali pengamatan.

B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum dibagi menjadi 2 bagian yaitu pada saat persiapan lahan dan saat penanaman tanaman. Pada persiapan lahan alat yang digunakan adalah : 1) Cangkul 2) Sabit 3) Parang 4) Pisau sedangkan pada saat penanaman adalah : 1) Benih 2) Pupuk dan lain sebagainya.

C. Metode / Cara Praktikum
1. Pelaksanaan Praktikum
Peserta praktikum dibagi 7 kelompok dari satu kelas yaitu kelompok 1 sampai dengan kelompok 7 dengan luas lahan 6 m x 4 m untuk masing-masing kelompok.
2. Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan membajak lahan secara manual, yaitu menggunakan cangkul. Pada saat pengolahan lahan sebaiknya dilakukan pada saat tanah tidak terlalu basah atau tidak terlalu kering agar strukturnya tidak rusak, lengket, atau keras. Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan cara tanah diolah terlebih dahulu hingga gembur dengan cara mencangkul tanah dengan kedalaman ±30 cm.
3. Pelaksanaan
a.       Kelompok 1
Menanam jagung manis dengan jarak tanam 60 x 25 cm
b.      Kelompok 2
Menanam jagung manis dengan jarak tanam 60 x 30 cm
c.       Kelompok 3
Menanam jagung manis dengan jarak tanam 70 x 25 cm
d.      Kelompok 4
Menanam jagung manis dengan jarak tanam 70 x 30 cm
e.       Kelompok 5
Menanam jagung manis dengan jarak tanam 80 x 25 cm
f.       Kelompok 6
Menanam jagung manis dengan jarak tanam 80 x 30 cm
g.      Kelompok 7
Menanam jagung manis dengan jarak tanam 70 x 25 cm
4. Penanaman
Lubang tanam sedalam 5 cm dan benih dimasukkan ke dalam lubang tanam.
5. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman, pemupukan, pengairan, penyiangan, pembubunan dan pengendalian hama dan penyakit.
a. Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila ada benih yang tidak tumbuh. Kegiatan penyulaman dilakukan dengan membuat lubang tanam baru pada bekas lubang tanam terdahulu.
b. Pemupukan
Pemupukan I : Pupuk dasar diberikan pada saat tanam, dengan dosis 100-150 kg/ha. Pupuk yang digunakan adalah NPK (Poska).
Pemupukan II : Pupuk susulan I diberikan pada saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam, dengan dosis 150 kg/ha.
c. Pengairan
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali apabila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, diperlukan air yang lebih banyak sehingga peril dialirkan air pada parit-parit diantara bumbunan tanaman jagung.
d. Penyiangan Gulma
Penyiangan gulma dilakukan setelah tanaman berusia 15 hari setelah tanam dan dilakukan setiap 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dilakukan dengan menggunakan tangan atau bantuan alat. Penyiangan diusahakan tidak mengganggu perakaran tanaman.
e. Pembumbunan
Kegiatan pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang tanaman agar tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas tanah karena adanya aerasi. Pembubunan berikutnya dilakukan saat tanaman berusia 6 minggu setelah tanam, bersamaan dengan kegiatan pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul kemudian ditimbun di barisan tanaman.
f. Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan hama dan penyakit yang ada.
6. Panen
Pemanenan dilakukan pada umur 60 hari setelah tanam, Jagung yang sudah dapat dipanen mempunyai kenampakan kelobot yang sudah berwarna kuning, biji sudah cukup keras dan mengkilap, apabila biji ditusuk dengan kedua ibu jari maka biji tersebut tidak berbekas dan mempunyai kadar air biji sekitar 25%.






IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengamatan organ pertumbuhan generatif  (Kacang tanah)
Tanaman sampel
Waktu berbunga
Waktu panen
Jumlah polong
Bobot tanaman(gr)
Tinggi tanaman
I
6 minggu
2 bulan
0
103
37,2
II
6 minggu
2 bulan
2
125
35,2
III
6 minggu
2 bulan
1
116
43
IV
6 minggu
2 bulan
6
145
37
V
6 minggu
2 bulan
0
107
34,6
VI
6 minggu
2 bulan
3
125
36
VII
6 minggu
2 bulan
2
111
42
VIII
6 minggu
2 bulan
10
160
48,3
IX
6 minggu
2 bulan
6
140
47,9
X
6 minggu
2 bulan
8
155
41
Rata – rata
6 minggu
2 bulan
3,8
128,7
402,2

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan, 7 hari (1 pekan) setelah penanaman, terlihat pertumbuhan dan perkembangan pada kacang tanah (Arachis hypogaea L)  yang dibudidayakan.
Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume yang bersifat irreversibel (tidak dapat balik), dan terjadi karena adanya pertambahan jumlah sel dan pembesaran dari tiap-tiap sel. Pada proses pertumbuhan biasa disertai dengan terjadinya perubahan bentuk. Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif.         
Perkembangan adalah proses menuju dewasa. Proses perkembangan berjalan sejajar dengan pertumbuhan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan proses yang tidak dapat diukur. Dengan kata lain, perkembangan bersifat kualitatif, tidak dapat dinyatakan dengan angka.
Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan pada kacang tanah (Arachis hypogaea L)  adalah :
1.   Faktor Suhu / Temperatur Lingkungan
Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti.
2.    Faktor Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.
3.    Faktor Cahaya Matahari
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan.
4.    Faktor Hormon
Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel, hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi matang.
Selama pertumbuhan dan perkembangan, tanaman mendapatkan pemeliharaan dan perawatan, baik pemberian pupuk, penyiraman atau pengairan, penyiangan maupun pemberantasan hama dan gulma. Hama dan penyakit tidak terlihat selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L), namun beberapa gulma seperti  rumput liar tumbuh disekitar tanaman. Gulma ini bisa diberantas dengan melakukan penyiangan.
Fase Perumbuhan Kacang Tanah

Layaknya polong-polongan lainnya, tanaman kacang tanah juga diperbanyak secara generatif atau melalui bebijiannya. Polongan kacang tanah memiliki bentuk yang silindris dengan panjang yang mampu mencapai 6 sampai 15 cm. Polong muda kacang tanah berwarna hijau. Namun di usia matang, biji ini berubah warna menjadi hitam atau coklat. Di setiap polong kacang tanah berisi 10 sampai 15 biji. Bebijian ini yang kemudian dikonsumsi dan dijadikan bibit.
Pertumbuhan secara sederhana diartikan sebagai proses pertambahan ukuran sel atau organisme yang sifatnya lebih ke kuantitatif atau bisa diukur, dan irreversible atau tak lagi bisa kembali ke ukuran semula. Pertumbuhan dibedakan ke dalam dua kategori yakni primer dan sekunder. Pertumbuhan primer sendiri adalah proses dimana batang dan juga akar bertambah panjang. Pertumbuhan primer terjadi pada maristam apical dan juga titik-titik tumbuh yang bersifat primer. Sedangkan pertumbuhan sekunder adalah proses dimana aktivitas sel eristem sekunder atau kambium dan juga kambium gabus mempengaruhi ukuran diameter batang pada tanaman.
Terkait dengan pertumbuhan kacang tanah, dimulai dari proses perkecambahan. Proses ini merupakan tahapan paling awal dari pertumbuhan dari tanaman yang dilakukan ketiledon di dalam biji. Perkecambahan sendiri dibagi ke dalam dua pembagian yakni perkecambahan hipogeal dan epigeal. Perkecambahan pada kacang tanah sendiri adalah perkecambahan hipogeal yang ditandai dengan terjadinya pembentangan ruas batang teratas atau epikotil dan menjadikan daun lembaga tertarik ke arah atas tanah. Akan tetapi kotiledon tetap berada/tertahan di dalam tanah. 
Proses perkecambahan pada pertumbuhan kacang hijau terjadi dalam beberapa tahapan antara lain:
1.                  Tahap 1 dimana air masuk ke dalam biji atau dikenal dengan istilah imbibisi.
2.                  Tahap 2 dimana embrio diaktifkan untuk melepaskan hormon bernama giberelin.
3.             Tahap 3 dimana terjadi pendorongan terhadap aleueron atau lapisan super   tipis yang ada pada endosperm.
4.                  Tahap 4 ditandai dengan sintesis enzim amilase, maltase dan protease.
5.             Tahap 5 yakni fase dimana enzim mencegah cadangan makanan pada          endosperm dan menjadikannya energi untuk pertumbuhan dan energi untuk      membentuk sel. Setelah tahapan ini, biasanya batang dan daun mulai terlihat.
Pertumbuhan kacang tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor ini secara garis besar dibagi ke dalam dua bagian yakni faktor eksternal dan juga internal. Faktor eksternal sendiri merupakan pengaruh dari luar yang mempengaruhi proses tumbuh tanaman kacang. faktor eksternal antara lain mencakup air juga mineral, kelembaban udara dan tanah, suhu dan juga cahaya. Sementara itu faktor internal yakni hal-hal yang berasal dari dalam tanaman itu sendiri mencakup hormon antara lain auksin, giberelin, gas etilen, asam absisat, kalin, dan sitokinin. Secara mendetil, hormon kalin terdiri dari rhizokalin yang berfungsi merangsang pembentukan akar, kaulokalin yang bertanggungjawab merangsang pembentukan batang, anthokalin yang berfungsi merangsang pembentukan bunga dan yang terakhir hormon fitokalin yang bertugas merangsang pembentukan daun.
Dalam proses pertumbuhan kacang tanah, catatan kritis haris digarisbawahi terkait faktor eksternal yakni cahaya. Cahaya sangat penting sebab berperan sebagai energi yang digunakan untuk proses fotosintesis dan juga berperan penting dalam pembentukan klorofil pada tanaman. Akan tetapi dalam proses perkecambahan, cahaya berpotensi menjadi penghambat atau inhibitor sebab cahaya bisa memacu difusi auksin. Oleh sebab itu, penting untuk diketahui, pada proses perkecambahan harus dilakukan di tempat yang cenderung gelap.


V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1.      Agronomi adalah ilmu yang mempelajari segala aspek biofisik yang berkaitan dengan usaha penyempurnaan budidaya tanaman untuk memperoleh produksi fisik secara maksimal.
2.      Kacang tanah atau yang dikenal dengan nama latin Arachis hypogaea L. dan dikenal dengan istilah peanut di Inggris, merupakan tumbuhan yang dimasukkan dalam daftar kekerabatan polong-polongan atau Fabaceae.
3.      Perkecambahan pada kacang tanah sendiri adalah perkecambahan hipogeal yang ditandai dengan terjadinya pembentangan ruas batang teratas atau epikotil dan menjadikan daun lembaga tertarik ke arah atas tanah.
4.      Secara umum kacang tanah mempunyai pola pertumbuhan yang sama, namun interval waktu antartahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda.
5.      Syarat agar kacang tanah dapat tumbuh dengan baik yaitu iklim,media tanam,dan ketinggian tempat tanam.
B. Saran
Diharapkan dalam pelaksanaan praktikum efektivitas dan efisisensi lebih diperhatikan. Dan juga kepada praktikan agar selalu mematuhi peraturan yang diberikan agar praktikum dapat berjalan dengan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
Indrasti, N. S., 2003. Pedoman Pengolahan Kacang Tanah. http://agribisnis.web.id [20 Januari 2010].
Rubatzky, V. E. dan M. Yamaguchi, 1998. Sayuran Dunia 2 Prinsip, Produksi, dan Gizi. ITB, Bandung.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Cetakan Pertama. Jakarta : UI-Press.
Duniaji, A.S. dan Wisaniyasa, 2008. Introduksi Pengolahan Sele Kacang Tanah Sebagai Pangan Kaya Nutrisi & Energi di Desa Nagari Klungkung.  http://www.akademik.unsri.ac.id [15 Februari 2010].
Kartasapoetra. 1987. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Jakarta: Rineka Cipta.
Suprapto, H.S., 1999. Bertanam Kedelai. Penebar Swadaya, Jakarta
itulah tadi artikel singkat contoh laporan dasar-dasar agronomi pertanian universitas mataram yang biasa digunakan sebagai data laporan.terima kasih


EmoticonEmoticon