-->

Laporan mingguan praktikum pemuliaan tanaman kolerasi antar sifat pada tanaman jagung (lokal kebo)

Laporan mingguan praktikum pemuliaan tanaman kolerasi antar sifat pada tanaman jagung (lokal kebo)- Pada artikel kali ini saya akan membagikan laporan-laporan mingguan untuk mata kuliah pemuliaan tanaman yang wajib kalian buat pada saat praktikum, baik di laboraturium atau di lapangan dan ini dia materi laporan mingguannya silahkan kalian gunakan sbagai bhan menyusun laporan mingguan kalian .

Dalam regresi linier, nilai-nilai dari beberapa populasi itu ditentukan oleh nilai x  tertentu. Peubah y itu disebut peubah tidak bebas, karena setiap y bergantung pada populasi yang diambil contohnya, peubah x disebut peubah bebas atau argumen. Adapun  persamaan regresi sendiri dirumuskan sebagai berikut (Steel  et.al., 1991):
Y  =  a  +  bx, dimana :
Y            : peubah  tak bebas
 x            : peubah bebas
 a            : konstanta
 b            : koefisien regresi
Korelasi antar sifat mengukur derajat keeratan  hubungan antara sifat-sifat. Pendugaan sifat-sifat korelasi genotip dan fenotip berguna dalam perencanaan dan evaluasi di dalam program-program pemuliaan tanaman. Korelasi antar sifat penting dan yang kurang penting dapat mengungkapkan bahwa beberapa dari sifat yang penting berguna sebagai indikator bagi satu atau beberapa sifat lain yang  kurang penting (Johnson et.al., 2006).

Korelasi antar sifat tanaman yang biasanya diukur dengan koefisien korelasi sangat penting dalam pemuliaan tanaman karena koefisien itu mengukur derajat hubungan antara dua sifat atau lebih, baik dari segi genetik maupun nongenetik. Penyebab timbulnya korelasi adalah faktor genetik maupun faktor lingkungan. Sebab genetis timbulnya korelasi antar sifat ialah peristiwa pleitropi dan linkage disequilibrium (Soemartono et.al., 1992).
Daya hasil dipengaruhi oleh beberapa komponen yang saling berasosiasi, sehingga seleksi terhadap hasil harus mempertimbangkan sifat-sifat yang berkorelasi dengannya. Pendugaan korelasi genotipik dan fenotipik antarsifat berguna untuk perencanaan dan evaluasi program pemuliaan. Pada umumnya nilai korelasi genotipik lebih tinggi dibandingkan nilai korelasi fenotipik. Hal ini menunjukkan walaupun korelasi genotipik besar namun bila dipengaruhi oleh lingkungan akan berubah. Informasi tentang adanya korelasi antarsifat dapat digunakan untuk memahami hasil yang akan dicapai dan memberikan prosedur seleksi yang tepat (Nugrahaeni, 2001).
Sifat-sifat koefisien korelasi antara lain nilai koefisien korelasi berkisar dari -1 sampai dengan 1 atau -1 ≤ r ≤ 1. Bila nilai r = 0 atau mendekati 0, berarti antara dua peubah yang diobservasi (misal X atau Y) tidak terdapat hubungan atau hubungannya sangat lemah. Bila r = -1 atau mendekati -1, berarti X dan Y sangat kuat tetapi hubungannya bersifat negatif (berlawanan) dan bila r = 1 atau mendekati 1 berarti hubungan X dan Y juga besar dan hubungannya bersifat positif (Haryono, 2001).
Dalam mengolah data, peneliti akan selalu berkepentingan menentukan hubungan antara dua  atau lebih peubah. Hubungan tersebut mungkin renggang atau erat. Pada satu pihak dua peubah mungkin bebas antara satu sama lain, dalam keadaan seperti itu korelasinya nol. Pada pihak lain kedua peubah bergantung sepenuhnya pada yang lain, maka harga mutlak korelasinya adalah satu (Sembiring, 1995).
Menurut Prajitno (1981) koefisien korelasi harus memenuhi syarat :
Koefisen korelasi harus besar apabila kadar hubungan tinggi atau kuat, dan harus kecil apabila kadar hubungan kecil atau lemah.
Koefisien korelasi harus bebas dari satuan yang digunakan untuk mengukur variabel-variabel baik prediktor maupun respon.
Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu yang paling penting tanaman pangan di dunia dan makanan lebih  dari setengah dari global yang populasi. Kurangnya investasi yang cukup untuk meningkatkan varietas dan hasil adalah salah satu faktor yang telah menunda peningkatan produksi beras. Untuk mengalahkan tantangan ini dan memenuhi permintaan dengan cara ini tanaman, baik klasik dan molekuler metode pemuliaan harus digunakan. Salah satu kerugian dari pemuliaan tanaman klasik adalah transfer gen yang tidak diinginkan bersama-sama dengan yang diinginkan.
sumber:
Haryono, S. K. 2001. Heritabilitas dan korelasi genotipe jemponan indeks panen dan indeks beberapa nomor contoh kecipir. Zuriat 22 (1):38-47.

Johnson, H. W., H. F. Robinson dan R. C. Comstock. 2006. Genotipe and Phenotipic Correlation in Soybean and  Their Aplication  in Selection. Agriculture Journal 160:447-483.

Nugrahaeni, N. 2001. Korelasi dan keheritabilitas beberapa sifat kuantitatif kacang tanah di lingkungan cekaman air dan cekaman lingkungan. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 14(1):32-38.

   Prajitno, D. 1981. Analisis Korelasi-Regresi. Liberty, Yogyakarta.

Sembiring, R. K. 1995. Analisis Regresi. Penerbit ITB, Bandung.

Soemartono, Nasrullah dan H. Kartika. 1992. Genetika Kuantitatif Dan Bioteknologi  Tanaman. PAU  Bioteknologi  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Steel, R. G. D and Torrie. 1991. Principle And Prosedures of Statistics (Prinsip dan Prosedur Statistik, alih bahasa : B. Sumantri). Gramedia, Jakarta.

Untuk menulis laporannya kalian susun seperti contoh laporan berikut !!
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Jagung merupakan salah satu komoditi strategis kedua setelah padi. Beberapa daerah jagung masih merupakan bahan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung juga mempunyai arti penting dalam pengembangan industry pangan maupun industry pengolahan pangan di Indonesia menyebabkan kebutuhan jagung semakin meningkat pula (Subandi, 1998)
Jagung manis (Zea mays sacarata) merupakan komoditas pertanian yang sangat digemari terutama oleh masyarakat perkotaan, karena rasanya yang enak dan manis, banyak mengandung karbohidrat, sedikit protein dan lemak. Selain itu umur produksinya lebih genjah sehingga sangat menguntungkan (Sudarsana N. , 2000).
Usaha Peningkatan produksi jagung di Indonesia telah dilakukan melalui dua program utama yakni: (1) Ekstensifikasi (perluasan areal) dan (2) Intensifikasi (peningkatan produktivitas). Program perluasan areal tanaman jagung dengan memanfaatkan lahan kering dan lahan sawah, baik sawah irigasi maupun lahan sawah tadah hujan. Usaha peningkatan produksi jagung melalui program intensifikasi adalah dengan melakukan perbaikan teknologi dan manajemen pengelolaan. Usaha tersebut nyata meningkatkan produktivitas jagung terutama dengan penerapam teknologi inovatif yang lebih berdaya saing (produktif, efisien dan berkualitas) dapat menghasilkan jagung sebesar 7-12 ton/ha. Keberhasilan peningkatan produksi jagung salah satunya ditemukannya varietas unggul baru dengan tingkat produktivitas tinggi dan metode manajemen pengelolaan tanaman dan sumberdaya secara terpadu (kastalani, 2012).

1.2.            Tujuan Praktikum
tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui nilai Korelasi dan nilai heritabilitas pada hibridisasi tanaman jagung.


BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Taksonomi Tanaman Jagung
jagung merupakan tanaman semusim, dan satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk pertumbuhan generatif (Heradji, 1992)
Sistematika taksonomi tumbuhan tanaman jagung diklasifikasikan sebagai berikut (Sabri, 1992)
            Kerajaan          : Plantae
            Tanaman          : Spermatophyta
            Jenis tanaman  : Angiospermae
            Kelas               : Monolotil
            Suku                : Graminae
            Kekerabatan    : Graminaceae
            Marga              : Zea
            Jenis                : Zea Mays L
2.2. Morfologi Tanaman Jagung
Susunan tubuh tanaman jagung terdiri dari akar, batang, daun, bunga, buah (tongkol) dan biji. Sistem perkaran tanaman jagung memiliki tiga macam yaitu akar seminal, koronal dan akar udara (Guswara, 1994)
2.3. Varietas Jagung
Jagung yang dibudidayakan dibedakan atas 3 macam yaitu varietas lokal, komposit dan hibrida. Untuk tujuan komersial jagung yang ditanam pada lahan pertanian adalah jagung hibrida, jagung hibrida memiliki produktivitas sangat tinggi yakni rata-rata 8,3 ton/ha. Beberapa varietas jagung yang telah dilepas ke pasaran oleh pemerintah yaitu : C1, P1, CP1-1, IPB-4, Pioner, C-2, Semar, Bima, NK, Bisi, SHS, dan lain-lain dengan produksi mencapai 5,6-11 ton/ha (Rukmana, 2002)
2.4. Pemuliaan Tanaman Jagung
Pemuliaan tanaman adalah kegiatan mengubah susunan genetik individu maupun populasi tanaman untuk suatu tujuan. Pemuliaan tanaman kadang-kadang disamakan dengan penangkaran tanaman, kegiatan memelihara tanaman untuk memperbanyak dan menjaga kemurnian; pada kenyataannya, kegiatan penangkaran adalah sebagian dari pemuliaan. Selain melakukan penangkaran, pemuliaan berusaha memperbaiki mutu genetik sehingga diperoleh tanaman yang lebih bermanfaat.
Dalam pemuliaan tanaman, tanaman jagung dapat dimuliakan dengan melakukan proses persilangan antara tanaman jagung yang satu dengan tanaman jagung yang lain yang sifatnya berbeda dengan tujuan dapat menggabungkan sifat yang satu dengan sifat yang lain. Misalnya disilangkan antara tetua tanaman yang tahan serangan hama dan umur pendek dengan asumsi hasil persilangan dapat menghasilkan tanaman jagung yang tahan serangan hama dan umur pendek.


BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. HASIL
Untuk memberikan gambaran tentang karakter pada masing-masing plot jagung manis yang telah diamati, maka telah dilakukan analisis data menggunakan analisis keragaman (ANOVA), Korelasi dan Heritabilitas dapat dilihat table 3.1.
Table 3.1.1. Analisis Keragaman tanaman (TT) yang Diamati.
Source of Variation
SS
df
MS
F
P-value
F crit
Sample
585.4074
2
292.7037
1.951358
0.17099
3.55455715
Columns
162.2963
2
81.14815
0.540988
0.591347
3.55455715
Interaction
1533.037
4
383.2593
2.555062
0.074432
2.92774417
Within
2700
18
150
Total
4980.741
26

Ragam Genotip                          31.14815
Ragam Fenotip                          181.1481
H2                                               0.171948

Tabel 3.1.2. Analisis Keragaman  Jumlah daun(JD) yang Diamati.
Source of Variation
SS
df
MS
F
P-value
F crit
Sample
0.666667
2
0.333333
2.25
0.134218
3.554557
Columns
0.666667
2
0.333333
2.25
0.134218
3.554557
Interaction
4.666667
4
1.166667
7.875
0.000748
2.927744
Within
2.666667
18
0.148148
Total
8.666667
26
Ragam Genotip                        0.283951
Ragam Fenotip                         0.432099
H2                                              0.657143

Tabel 3.1.3 Korelasi Tinggi Tanaman Antar Perlakuan yang Diamati
P 1
P 2
P 3
P 1
1
P 2
-0.39062
1
P 3
0.247386
0.043693
1
Keterangan: P1= Tinggi tanaman P1, P2= Tinggi tanaman P2, P3= tinggi tanaman P3. (*) Menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % (>0,44)
Tabel 3.1.4. Korelasi Jumlah Daun Antar Perlakuan Yang Diamati
P 1
P 2
P 3
P 1
1
P 2
#DIV/0!
1
P 3
-0.57735
#DIV/0!
1
Keterangan: P1= Jumlah daun P1, P2= Jumlah Daun P2, P3= Jumlah Daun P3. (*) Menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % (>0,44).

3.2. PEMBAHASAN
Kenaikan hasil merupakan tujuan utama dari setiap program pemuliaan tanaman, namun demikian tujuan ini tidak akan tercapai apabila tidak ada terdapat keragaman dalam satu populasi tanaman. Evaluasi hasil persilangan atau hibridisasi pada tanaman jagung yang telah dilakukan bertujuan untuk memperbaiki karakteristik keturunan yang diinginkan. Karakteristik yang mengalami perubahan-perubahan akibat persilangan diantaranya tinggi tanaman dan jumlah daun. Tinggi tanaman dan jumlah daun dapat mempengaruhi dan menentukan hasil produksi tanaman jagung hubungannya dengan proses pembentukan asemilat pada tanaman jagung akan lebih optimal jika kendisi tanaman dengan tinggi tanaman dan jumlah daun yang dalam pertumbuhannya terjadi secara optimal.
Hasil analisis yang telah disajikan pada tabel 3.1.1. memperlihatkan bahwa semua semua sampel yang diamati memiliki nilai heritabilitas yang tinggi yaitu 0,17 artinya bahwa sifat tetua mudah diariskan ke keturunannya. Nilai ini diperoleh dari hasil perhitungan yang bersumber dari anova. Selain itu juga nilai korelasi pada tiap-tiap sampel memberikan hubungan keeratan yang positif yaitu (0,24 dan 0,04) hanya saja pada sampel P1 dan P2 memberikan respon hubungan keeratan yang negative. Nilai korelasi yang tinggi mempunyai hubungan keeratan yang kuat dan nilai korelasi yang rendah mempunyai hubungan keeratan yang lemah.
Analisis keragaman jumlah daun telah disajikan pada tabel 3.1.2. bahwa nilai heritabilitas yang telah diproleh dari hasil anova menunjukkan nilai heritabilitasnya tinggi pada setiap sampel yang diamati dengan asumsi nilai heritabilitas yang tinggi dapat dengan mudah memberikan atau mewariskan sifat tetua kepada keturunannya sama halnya dengan hasil heritabilitas pada tinggi tanaman. Selain itu nilai korelasi yang diperoleh dari analisis menunjukkan bahwa pada setiap sampel memberikan pengaruh hubungan yang berbeda-beda. P 1 dan P 3 membarikan hubungan yang keeratan antara sampel yang satu dengan lainnya agak kuat, namun P1 dan P2, P2 dan P3 memberikan hubungan yang belum bias terbacakan (Error) hal ini terjadi karena adanya kesalahan yang terjadi pada saat melakukan pengambilan sampel dan juga pada saat melakukan analisis.
Secara umum karakter yang dapat diperbaiki yaitu sifat kuantitatif dan sifat kualitatif. Menurut (Moll & stubber, 1977) secara genetic perbaikan populasi tanaman jagung pada dasarnya adalah meningkatkan frekuensi allel yang diinginkan dengan jalan mengganti allel yang tidak dikehendaki untuk meningkatkan rerata populasi tehadap sifat yang diminati.


BAB IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan analisis yang telah dilakukan pada praktikum ini, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.     Nilai heritabilitas parameter tinggi tanaman dan jumlah daun pada setiap sampel tanaman jagung menunjukkan nilai heitabilitas yang tinggi sehingga masih ada kemungkinan sifat dari tetua akan mudah diwariskan ke keturunannya.
2.    Nilai korelasi pada setiap parameter yang diamati menunjukkan bahwa setiap sampel memiliki nilai korelasi yang positif dan juga negative serta ada juga yang nilai korelasinya error.


Daftar Pustaka

Guswara. (1994). Usaha Budidaya Tanaman Jagung. Sinartani, 1 Oktober 1994, Juventus 2010.
Heradji. (1992). penanaman jagung oleh petani. Jawa Tengah: Warta Penyluhan Pertanian No. 11. Tahun 1992. Departemen Pertanian, Juvespus 2010.
kastalani, a. (2012). Pengaruh Beberapa Varietas Jagung Dan Dosis Pupuk Cair Kotoran Sapi Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jagung (Zea Mays L). SKRIPSI Jagung. Mataram.
Moll, & stubber. (1977). Comparisons of response to alternative selection prosedurs initiated with two population of maize. Crop.sci. 1 (11): 706-.
Rukmana. (2002). Jagung Hibrida Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.
Sabri. (1992). Pengalaman Merakit Teknologi Usaha Tani Jagung. Warta Penyuluhan Tanaman Pangan No. 12, THIX. Departemen Pertanian.
Subandi. (1998). Akselerasi Pengembangan Benih Sumber dan Pembinaan Sistem Produksi Benih Serealia. Balitsereal. Puslitbangtan. Badan Litbang Pertanian. Deptan.
Sudarsana, N. (2000). Pengaruh Efekrifitas Microorganisme-4 (EM-4) dan kompos terhadap Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) Pada Tanah Entisol. diakses di http://www.unmul.ac.id/dat/pub/frontir/sudarsana.pdf. tanggal 20 Desember 2014




EmoticonEmoticon